
<p>Kata <em>afiat</em> dalam bahasa kita sudah berpadu dengan kata sehat sehingga terbentuklah frase ‘<em>sehat wal afiat</em>’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (hlm.11) , kata <em>afiat</em> merupakan sinonim dari kata ‘sehat’, sehingga pengertian frase tersebut menjadi (dalam kondisi) ‘<em>sehat dan sehat</em>’.</p>
<p>Kata <em>afiat</em> sesungguhnya termasuk serapan dari Bahasa Arab ( الْعَافِيَةُ, <em>al-‘âfiyah</em>). Rasûlullâh <em>shallallâhu ‘alaihi wasallam</em> mempergunakan kata itu dalam rangkaian doanya. Maka, pemahaman terhadap kata tersebut akan tepat bila mengacu dalam buku-buku literatur Islam.</p>
<p>Pengertian <em>afiyat</em> dalam Islam cakupannya luas dan berdimensi dunia dan akhirat. Luasnya makna <em>‘âfiat</em> tampak secara tekstual pada doa yang diajarkan Rasûlullâh <em>shallallâhu ‘alaihi wasallam</em> berikut ini:</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">اللهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِيْ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ…</span></p>
<p>“<em>Ya Allah, sesungguhnya aku betul-betul memohon kepadaMu maaf, dan ‘afiyat di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku betul-betul memohon kepadaMu maaf dan ‘afiyat pada agamaku, keluargaku dan hartaku…</em>” (HR. Abu Daud 5074, dishahihkan Al Albani dalam <em>Shahih Abi Daud</em>)</p>
<p>Secara global, <em>afiat</em> adalah perlindungan Allâh bagi hambaNya dari berbagai macam penyakit dan bencana.<br>
Makna <em>afiat</em> di dunia dan akhirat yaitu memperoleh keselamatan dari hal-hal yang buruk, yang otomatis mencakup seluruh keburukan yang telah berlalu maupun yang akan datang.</p>
<p><em>Afiyat</em> mencakup keselamatan dari berbagai fitnah, penyakit, musibah dan hal-hal buruk lainnya yang terjadi di dunia ini. Sementara <em>afiyat</em> di akhirat, mencakup keselamatan dari siksa setelah kematian, seperti siksa kubur, siksa Neraka dan kengerian yang terjadi antara keduanya, hisab dan kesulitan-kesulitan lainnya.</p>
<p>Permohonan Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wasallam</em> akan <em>afiat</em> dalam agama bermakna memohon perlindunganNya dari segala perkara yang merusak din atau memperburuknya. Sementara permohonan <em>afiyat</em> untuk keluarga, agar keluarga mendapat perlindungan Allâh dari beragam fitnah, bencana dan musibah. Adapun permohonan <em>afiyat</em> pada harta dimaksudnya supaya memperoleh penjagaan Allâh <em>Ta’âla</em> dari kejadian-kejadian yang melenyapkannya seperti hanyut dalam banjir, mengalami kebakaran, pencurian, dan peristiwa buruk lainnya. Dengan demikian doa ini mencakup permohonan perlindungan Allâh <em>Ta’âla</em> dari segala kejadian-kejadian yang berisi gangguan bagi manusia yang muncul tanpa dapat diprediksi dan mara bahaya yang menyengsarakan.</p>
<p>Maka tak heran, orang yang mendapatkan karunia <em>afiat</em>, ia telah memperoleh karunia yang sangat besar. Barang siapa dianugerahi <em>afiat</em> di dunia dan akhirat, maka ia telah memperoleh porsi kebaikan yang sempurna.</p>
<p>Dari Abu Bakr ash-Shiddiq <em>radhiyallâhu ‘anhu</em>, sesungguhnya Rasûlullâh <em>shallallâhu ‘alaihi wasallam</em> menegaskan:</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">سَلُوْا الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِيْنِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ</span></p>
<p>“<em>Mohonlah ampunan dan afiat. Sesungguhnya seorang hamba tidak memperoleh karunia yang lebih baik setelah (memperoleh) al-yaqiin dari menerima afiat</em>” (HR. At Tirmidzi 3558, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ 3632)</p>
<p>Untuk itu, tatkala Al-Abbâs bin ‘Abdul Muththalib <em>radhiyallâhu ‘anhu</em> meminta petunjuk kepada Rasûlullâh <em>shallallâhu ‘alaihi wasallam</em> mengenai apa yanga diminta dalam doanya kepada Allâh <em>Ta’ala</em> , Rasûlullâh <em>shallallâhu ‘alaihi wasallam</em> memerintahkan pamannya untuk memohon <em>afiat</em>.</p>
<p>Dari al-‘Abbâs bin ‘Abdil Muththalib <em>radhiyallâhu ‘anhu</em> , paman Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wasallam</em>, ia berkata, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang aku minta kepada Allâh <em>Azza wa Jalla</em>!”. Beliau menjawab, ‘<em>Mintalah afiat</em>’. Selang beberapa hari kemudian, aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang aku minta kepada Allâh <em>Azza wa Jalla</em>!”. Beliau bersabda kepadaku, “Wahai ‘Abbas, paman Rasûlullâh, mintalah kepada Allâh <em>afiat</em> di dunia dan akhirat”.</p>
<p>Dengan demikian, karunia ‘fisik sehat’ yang dinikmati seseorang sudah masuk dalam bingkai afiah yang diperolehnya dari Allâh <em>Ta’âla</em>. Semoga Allâh <em>Ta’âla</em> berkenan menganugerahkan kepada kita ‘<em>afiat</em> di dunia dan akhirat. <em>Wallâhu a’lam</em>.</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/2484-bagimu-pemuda-malas-nan-enggan-bekerja.html" target="_blank" rel="noopener">Bagimu Pemuda Malas, Nan Enggan Bekerja</a></strong></em></p></blockquote>
<p>—</p>
<p><strong>Penulis: <a href="http://muhammad-ashim.blogspot.com/" target="_blank" rel="noopener">Ustadz Muhammad Ashim Musthafa, Lc</a>.</strong><br>
<strong>Artikel Muslim.or.id</strong></p>
 