
<p>Hijab, khimar dan jilbab. Ketika kata ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun sudahkah kita mengetahui maknanya dengan benar?</p>

<h2><span style="color: #ff0000; font-size: 21pt;"><b>Makna Hijab</b></span></h2>
<p>Istilah hijab disebutkan oleh Allah dalam Al Qur’an:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ</span></p>
<p><em>“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik hijab. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”</em> (QS. Al Ahzab: 53).</p>
<p>Al Baghawi menjelaskan ayat ini:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أي : من وراء ستر ، فبعد آية الحجاب لم يكن لأحد أن ينظر إلى امرأة من نساء رسول الله – صلى الله عليه وسلم – منتقبة كانت أو غير منتقبة</span></p>
<p>“Maksudnya: dari balik tabir. Maka setelah turun ayat ini, tidak ada seorang pun yang melihat istri-istri Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam baik mereka memakai niqab ataupun tidak” (<em>Tafsir Al Baghawi</em>).</p>
<p>Secara bahasa, hijab artinya tabir atau penutup.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الحِجابُ: السِّتْرُ</span></p>
<p>“hijab artinya penutup” (<em>Lisaanul Arab</em>).</p>
<p>Secara istilah, makna hijab adalah sebagaimana dijelaskan Al Munawi berikut ini:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الحجاب: كل ما ستر المطلوب أو منع من الوصول إليه، ومنه قيل للستر حجاب لمنعه المشاهدة، وقيل للبواب حاجب لمنعه من الدخول. وأصله جسم حائل بين جسدين</span></p>
<p>“Hijab adalah segala hal yang menutupi sesuatu yang dituntut untuk ditutupi atau terlarang untuk menggapainya. Diantara penerapan maknanya, hijab dimaknai dengan <em>as sitr</em> (penutup), yaitu yang mengalangi sesuatu agar tidak bisa terlihat. Demikian juga <em>al bawwab</em> (pintu), disebut sebagai hijab karena menghalangi orang untuk masuk. Asal maknanya, hijab adalah entitas yang menjadi penghalang antara dua entitas lain” (<i>At Tauqif ‘ala Muhimmat At Ta’arif</i>, 1/136).</p>
<p>Abul Baqa’ Al Hanafi juga menjelaskan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كل مَا يستر الْمَطْلُوب وَيمْنَع من الْوُصُول إِلَيْهِ فَهُوَ حجاب</span></p>
<p>“setiap yang menutupi hal-hal yang dituntut untuk ditutupi atau menghalangi hal-hal yang terlarang untuk digapai maka itu adalah hijab” (<i>Al Kulliyat</i>, 1/360).</p>
<p>Maka istilah hijab <span style="text-decoration: underline;">maknanya sangat luas</span>. Dengan demikian hijab muslimah, adalah segala hal yang menutupi hal-hal yang dituntut untuk ditutupi bagi seorang Muslimah. Jadi hijab muslimah bukan sebatas yang menutupi kepala, atau menutupi rambut, atau menutupi tubuh bagian atas saja. Namun <strong>hijab muslimah mencakup semua yang menutupi aurat, lekuk tubuh dan perhiasan wanita dari ujung rambut sampai kaki</strong>.</p>
<h2><span style="color: #ff0000; font-size: 21pt;"><b>Makna Khimar</b></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> menyebutkan istilah khimar dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ</span></p>
<p>“<i>Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar kedadanya…</i>” (QS. An Nuur: 31)</p>
<p>Secara bahasa, <em>khamara</em> artinya menutupi.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الخاء والميم والراء أصلٌ واحد يدلُّ على التغطية، والمخالطةِ في سَتْر</span></p>
<p>“kha mim dan ra, asalnya membentuk makna <em>taghthiyyah</em> (menutupi), dan pencampuran sesuatu dalam menutupi sesuatu yang lain” (<em>Maqayis Al Lughah</em>).</p>
<p><span style="line-height: 1.5;">Sedangkan makna khimar secara spesifik, adalah sebagai berikut:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">والخِمَارُ للمرأَة، وهو النَّصِيفُ، وقيل: الخمار ما تغطي به المرأَة رأَْسها، وجمعه أَخْمِرَةٌ وخُمْرٌ وخُمُرٌ. والخِمِرُّ</span></p>
<p>“khimar untuk wanita artinya kerudung. Sebagian ahli bahasa mengatakan, khimar adalah yang menutupi kepala wanita. Jamaknya <em>akhmarah</em>, atau <em>khumr</em>, atau <em>khumur</em>, atau <em>khimirr</em>” (<em>Lisaanul ‘Arab</em>).</p>
<p>Dalam <em>Tafsir Jalalain</em>, ayat “<i>Dan hendaklah mereka menjulurkan khimar ke dadanya</i>” dijelaskan maksudnya:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أي يسترن الرؤوس وَالْأَعْنَاق وَالصُّدُور بِالْمَقَانِعِ</span></p>
<p>“yaitu menutup kepala-kepala, leher-leher dan dada-dada mereka dengan <em>qina</em>‘ (semacam kerudung)”.</p>
<p>Ibnu Katsir menjelaskan makna khimar,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَعْنِي: الْمَقَانِعَ يُعْمَلُ لَهَا صَنفات ضَارِبَاتٌ عَلَى صُدُورِ النِّسَاءِ، لِتُوَارِيَ مَا تَحْتَهَا مِنْ صَدْرِهَا وَتَرَائِبِهَا</span></p>
<p>“yaitu <em>qina</em>‘ (kerudung) yang memiliki ujung-ujung, yang dijulurkan ke dada wanita, untuk menutupi dada dan payudaranya” (<em>Tafsir Ibni Katsir</em>, 6/46).</p>
<p>Ath Thabari juga menjelaskan hal serupa:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وهي جمع خمار، على جيوبهنّ، ليسترن بذلك شعورهنّ وأعناقهن وقُرْطَهُنَّ</span></p>
<p>“khumur adalah jamak dari khimar, dijulurkan ke dada-dada mereka sehingga tertutuplah rambut, leher dan anting-anting mereka” (<em>Tafsir Ath Thabari</em>, 19/159).</p>
<p>Ringkasnya, para ulama menjelaskan bahwa khimar adalah kerudung yang menutup bagian kepala hingga dada wanita.</p>
<h2><span style="color: #ff0000; font-size: 21pt;"><b>Makna Jilbab</b></span></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> menyebut istilah jilbab dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ</span></p>
<p>“<i>Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…</i>” (QS. Al Ahzab: 59).</p>
<p>Secara bahasa, jilbab berasal dari kata <em>al jalb</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الجَلْبُ: سَوْقُ الشيء من موضع إِلى آخَر</span></p>
<p>“<em>Al Jalb</em> artinya menjulurkan / memaparkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat yang lain” (<em>Lisaanul Arab</em>).</p>
<p>Sedangkan makna jilbab secara spesifik,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">والجِلْبابُ القَمِيصُ. والجِلْبابُ ثوب أَوسَعُ من الخِمار، دون الرِّداءِ، تُغَطِّي به المرأَةُ رأْسَها وصَدْرَها؛.</span></p>
<p>“Jilbab (diantara maknanya) adalah gamis. Dan jilbab itu adalah pakaian yang lebih lebar dari khimar, yang selain rida’. Yang dipakai oleh wanita untuk menutupi kepala dan dadanya” (<em>Lisaanul Arab</em>).</p>
<p>Demikian secara bahasa. Namun para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan makna ‘jilbab’ dalam surat Al Ahzab di atas. Dalam kitab <i>Fathul Qadir</i>, Asy Syaukani membawakan beberapa penjelasan ulama mengenai jilbab,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَالَ الْجَوْهَرِيُّ: الْجِلْبَابُ: الْمِلْحَفَةُ، وَقِيلَ: الْقِنَاعُ، وَقِيلَ: هُوَ ثَوْبٌ يَسْتُرُ جَمِيعَ بَدَنِ الْمَرْأَةِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ أُمِّ عَطِيَّةَ أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، فَقَالَ: «لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا» قَالَ الْوَاحِدِيُّ: قَالَ الْمُفَسِّرُونَ: يُغَطِّينَ وجوههنّ ورؤوسهنّ إِلَّا عَيْنًا وَاحِدَةً، فَيُعْلَمُ أَنَّهُنَّ حَرَائِرُ فَلَا يعرض لهن بِأَذًى. وَقَالَ الْحَسَنُ: تُغَطِّي نِصْفَ وَجْهِهَا. وَقَالَ قَتَادَةُ: تَلْوِيهِ فَوْقَ الْجَبِينِ وَتَشُدُّهُ ثُمَّ تَعْطِفُهُ عَلَى الْأَنْفِ وَإِنْ ظَهَرَتْ عَيْنَاهَا لَكِنَّهُ يَسْتُرُ الصَّدْرَ وَمُعْظَمَ الْوَجْهِ</span></p>
<p>“Al Jauhari mengatakan, jilbab adalah <i>milhafah</i> (kain yang sangat lebar). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah <i>al qina’</i> (sejenis kerudung untuk menutupi kepala dan wajah). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Sebagaimana dalam hadits shahih, dari hadits Ummu Athiyyah, bahwa ia mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab’. Lalu Rasulullah menjawab: ‘<i>hendaknya ada dari kalian yang menutupi saudarinya dengan jilbabnya</i>‘. Al Wahidi mengatakan: ‘menurut para ulama tafsir jilbab digunakan untuk menutupi wajah dan kepala mereka kecuali satu matanya saja, sehingga diketahui mereka adalah wanita merdeka sehingga tidak diganggu orang’. Al Hasan mengatakan: ‘jilbab digunakan untuk menutupi setengah wajah wanita’. Qatadah mengatakan: ‘jilbab itu menutupi dengan kencang bagian kening, dan menutupi dengan ringan bagian hidung. Walaupun matanya tetap terlihat, namun jilbab itu menutupi dada dan mayoritas wajah’” (<i>Fathul Qadir, </i>4/350).</p>
<p>Ibnu Katsir mengatakan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَالْجِلْبَابُ هُوَ: الرِّدَاءُ فَوْقَ الْخِمَارِ. قَالَهُ ابْنُ مَسْعُودٍ، وَعُبَيْدَةُ، وَقَتَادَةُ، وَالْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ، وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ، وَإِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ، وَعَطَاءٌ الْخُرَاسَانِيُّ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ. وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْإِزَارِ الْيَوْمَ</span></p>
<p>“Jilbab adalah <em>rida</em>‘ (selendang untuk menutupi bagian atas) yang dipakai di atas khimar. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, Al Hasan Al Bashri, Sa’id bin Jubair, Ibrahim An Nakha’i, Atha’ Al Khurasani, dan selain mereka. Dan menurut definisi ini maka jilbab itu sebagaimana <em>izaar</em> di zaman sekarang” (<em>Tafsir Ibni Katsir</em>, 6/481).</p>
<p>As Sa’di menjelaskan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وهن اللاتي يكن فوق الثياب من ملحفة وخمار ورداء ونحوه، أي: يغطين بها، وجوههن وصدورهن</span></p>
<p>“Jilbab adalah yang dipakai di atas pakaian, baik berupa <i>milhafah</i>, khimar, rida’ atau semacamnya, yang dipakai untuk menutupi wajah dan dada mereka” (<i>Taisir Karimirrahman</i>, 671).</p>
<p>Dari sini, kita dapati para ulama berbeda pendapat dalam memaknai jilbab. Berikut ini beberapa makna jilbab yang bisa kita simpulkan dari penjelasan para ulama:</p>
<ol>
<li>Jilbab adalah <i>milhafah</i> (kain yang sangat lebar)</li>
<li>Jilbab adalah khimar atau <i>al qina’</i>, yaitu kerudung untuk menutupi kepala hingga dada</li>
<li>Jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita</li>
<li>Jilbab adalah penutup wajah dan kepala mereka kecuali satu matanya saja</li>
<li>Jilbab adalah penutup setengah wajah wanita</li>
<li>Jilbab adalah penutup kepala dan wajah kecuali matanya, hingga ke dadanya</li>
<li>Jilbab adalah <em>rida</em>‘ (selendang untuk menutupi bagian atas) yang dipakai di atas khimar</li>
</ol>
<p>Dengan mengesampingkan masalah apakah wajah termasuk aurat yang wajib ditutup atau tidak, secara umum kita bisa bagi makna jilbab menjadi tiga:</p>
<ol>
<li>Jilbab sama dengan khimar, yaitu kain yang menutupi kepala, leher, hingga ke dada wanita.</li>
<li>Jilbab adalah kain yang lebih lebar dari khimar dan dipakai di atas khimar. Artinya, jilbab berbeda dengan khimar, sehingga ulama yang memaknai demikian mewajibkan muslimah ketika keluar rumah memakai tiga hal: <i>tsaub </i>(pakaian), khimar, dan jilbab.</li>
<li>Jilbab sama dengan hijab muslimah, yaitu seluruh pakaian yang menutupi aurat, lekuk tubuh dan perhiasan wanita</li>
</ol>
<p>Ringkasnya, para ulama khilaf mengenai makna jilbab. Kita hendaknya bijak dalam memaknai dan menggunakan makna jilbab sesuai dengan konteks yang ada dan dengan menghormati khilaf ulama dalam hal ini.</p>
<h2><span style="color: #ff0000; font-size: 21pt;"><b>Syarat-syarat hijab muslimah</b></span></h2>
<p>Hendaknya wanita Muslimah yang shalihah tidak sekedar mengetahui makna hijab, khimar dan jilbab, namun juga mempelajari mengenai syarat-syarat hijab yang syar’i. Misalnya ketika ia mengetahui bahwa salah satu makna jilbab adalah “<em>kain yang menutupi kepala, leher, hingga ke dada</em>” bukan berarti ia dapat mengenakan kerudung alakadarnya sebatas menutup kepala hingga dada sedangkan hijabnya ketat, transparan, atau masih menampakkan perhiasan-perhiasan wanita yang seharusnya ditutupi.</p>
<p>Maka wajib juga bagi seorang muslimah untuk mempelajari bagaimana kriteria hijab muslimah yang syar’i. Dan sebagaimana telah dijelaskan, hijab mencakup seluruh pakaian wanita dari ujung kepala hingga ujung kaki, ini semua hendaknya memperhatikan syarat-syarat yang ditetapkan oleh syariat.</p>
<p>Syarat-syarat hijab Muslimah yang syar’i adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">1- استيعاب جميع البدن إلا ما استثني. 2- أن لا يكون زينة في نفسه. 3- أن يكون صفيقاً لا يشف. 4- أن يكون فضفاضاً غيرضيق فيصف شيئاً من جسمه. 5- أن لا يكون مبخراً مطيباً. 6- أن لا يشبه لباس الرجل. 7- أن لا يشبه لباس الكافرات. 8- أن لا يكون لباس شهرة</span></p>
<p>“(1) Menutupi seluruh tubuh kecuali yang tidak wajib ditutupi (2) Tidak berfungsi sebagai perhiasan (3) Kainnya tebal tidak tipis (4) Lebar tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh (5) Tidak diberi pewangi atau parfum (6) Tidak menyerupai pakaian lelaki (7) Tidak menyerupai pakaian wanita kafir (8) Bukan merupakan <i>libas syuhrah</i> (pakaian yang menarik perhatian orang-orang)” (<i>Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Lil Imam Al Albani</i>, 394).</p>
<p>Penjelasan lebih luas mengenai syarat-syarat hijab Muslimah yang syar’i dapat pembaca temukan pada artikel-artikel berikut:</p>
<ul>
<li><strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslimah.or.id/3592-lindungi-diri-dengan-jilbab-syari.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Lindungi Diri Dengan Jilbab Syar‘i</a></span></strong></li>
<li><strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslimah.or.id/65-jilbabku-penutup-auratku.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Jilbabku Penutup Auratku</a></span></strong></li>
<li><strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslimah.or.id/5760-saudariku-kembalilah-ke-hijab-asalmu.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Saudariku, Kembalilah ke Hijab Asalmu</a></span></strong></li>
<li><strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslimah.or.id/7631-jilbabku-syari-ataukah-modis.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Jilbabku Syar’i Ataukah Modis?</a></span></strong></li>
</ul>
<p>Semoga yang sedikit ini bermanfaat. <i>Nas-alullah at taufiq wa sadaad</i>.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: Yulian Purnama</strong></p>
<p><strong>Artikel Muslim.or.id</strong></p>
 