
<p>Ini rangkaian pelajaran dari Kitab Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Kali ini membahas kaedah air.</p>
<p> </p>
<h4>Bersuci itu Syarat</h4>
<p>Shalat memiliki syarat-syarat yang harus diketahui terlebih dahulu, di antaranya adalah bersuci dari hadats dan najis.</p>
<p>Bersuci ini dijadikan syarat untuk shalat sebagaimana dikatakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “<em>Tidaklah diterima shalat kecuali dengan bersuci</em>.” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>. HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Siapa saja yang tidak bersuci dari hadats besar maupun hadats kecil, juga dari najis, maka tidak ada shalat untuknya.</p>
<p>Thaharah (bersuci) ada dua macam. Yang pertama, thaharah dengan air, inilah hukum asalnya. Sedangkan yang kedua, thaharah dengan debu sebagai pengganti air.</p>
<p> </p>
<h4><u>Penjelasan:</u></h4>
<p><strong><em>Hadats</em></strong> adalah menunjukkan keadaan diri seseorang, sifatnya maknawi (abstrak) yang menghalangi seseorang melakukan shalat, thawaf, menyentuh mushaf Al-Qur’an dan semacamnya.</p>
<p><strong><em>Najis</em></strong> adalah sesuatu yang nampak (terlihat) kotor menurut anggapan syari’at, disebut juga dengan <em>khabits</em> seperti kencing, dll.</p>
<p> </p>
<h4>Air itu Ada Dua Macam: Thahur dan Najis</h4>
<p>Setiap air yang turun dari langit dan keluar dari mata air, maka hukumnya adalah THAHUR (suci dan menyucikan).</p>
<p>Air tersebut dapat digunakan untuk menyucikan hadats dan najis, walaupun air tersebut berubah  rasa, warna atau bau karena bercampur dengan benda suci (selama masih disebut air mutlak tetap statusnya <em>thahur</em>, pen.). Sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “<em>Sesungguhnya air itu thahur (suci dan menyucikan), tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya</em>.” (Diriwayatkan oleh Ahlus Sunnan, haditsnya <strong><em>shahih</em></strong>. [HR. Abu Daud, no. 66; Tirmidzi, no. 66; An-Nasa’i, no. 326; dari Abu Sa’id Al-Khudri. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hazm])</p>
<p>Jika air tersebut berubah sifatnya karena najis, maka menjadi najis dan wajib dijauhi.</p>
<p> </p>
<h4><u>Penjelasan:</u></h4>
<p>1- Kesimpulannya air itu ada dua macam yaitu thahur (suci dan menyucikan) dan najis.</p>
<p>2- Tiga kaedah mengenai air yang bercampur:</p>
<ul>
<li>Jika air bercampur dengan benda suci, lalu tidak lagi disebut air mutlak (sudah dinamakan air teh, air kopi, air sabun, pen.), maka air tersebut tidak lagi <em>thahur </em>(tidak bisa menyucikan lainnya). Karena thaharah hanya boleh dengan yang disebut air, “<em>Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).</em>” (QS. Al-Maidah: 6)</li>
<li>Jika air bercampur dengan benda suci, lalu tidak keluar dari penyebutan air mutlak (masih disebut air), maka air tersebut tetap <em>thahur</em> (suci dan menyucikan).</li>
<li>Jika air bercampur dengan benda najis, lalu berubah salah satu dari tiga sifat (bau, rasa, atau warna), maka air tersebut menjadi najis.</li>
</ul>
<p>3- Bagaimana dengan air <em>musta’mal</em> (bekas bersuci)? Bagaimana dengan air yang kurang dari dua <em>qullah</em> yang kemasukan najis?</p>
<p>Ada beda pendapat ulama dalam hal ini. Yang tepat, air <em>musta’mal</em> masih boleh digunakan selama masih disebut air mutlak. Kedua, air yang kurang dari dua <em>qullah</em> (sekitar 200 L) lantas kemasukan najis, maka dilihat apakah berubah salah satu dari tiga sifat ataukah tidak. Jika tidak berubah, berarti tetap suci. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>Moga mendapatkan ilmu yang bermanfaat.</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Ibhajul Mu’minin bi Syarh Manhaj As-Salikin</em>. Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman bin ‘Abdillah Al-Jibrin. Penerbit Madarul Wathan li An-Nashr.</p>
<p><em>Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As- Salikin</em>. Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</p>
<p><em>Syarh Manhaj As-Salikin</em>. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.</p>
<p>—</p>
<p>Buletin Rumaysho.Com untuk Kajian Rutin Kamis Sore di Masjid Pogung Dalangan</p>
<p>Disusun <a href="http://DarushSholihin.Com" target="_blank" rel="noopener">@ Perpus Darush Sholihin</a>, 25 Syawal 1438 H</p>
<p>Oleh: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></p>
 