
<p>Kali ini kita akan membahas sunnah shalat diambil dari <a href="https://rumaysho.com/tag/manhajus-salikin" target="_blank" rel="noopener noreferrer">kitab Manhajus Salikin</a>.</p>

<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 16pt;"><strong># Fikih Manhajus Salikin karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di</strong></span></p>
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 19pt;"><strong>Kitab Shalat</strong></span></h2>
<p> </p>
<p>Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya Manhajus Salikin,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَالْبَاقِي سُنَنُ أَقْوَالٍ وَأَفْعَالٍ مُكْمِلٍ لِلصَّلَاةِ.</p>
<p><em>“Dan lainnya adalah sunnah dalam bentuk ucapan dan perbuatan menjadi penyempurna shalat.”</em></p>
<p> </p>
<h3><strong>Sunnah berupa ucapan</strong></h3>
<ol>
<li>Doa istiftah.</li>
<li>Isti’adzah dan basmalah.</li>
<li>Membaca “aamiin”.</li>
<li>Membaca surah (selain Al-Fatihah) atau sebagian surah pada tiap rakaat dari rakaat pertama dan kedua, bisa juga dibaca kadang-kadang pada rakaat ketiga dan keempat.</li>
<li>Takbir intiqaal (berpindah rukun).</li>
<li>Membaca dzikir ketika rukuk dan sujud.</li>
<li>Membaca at-tasmii’ (sami’allahu liman hamidah) dan at-tahmid (robbanaa wa lakal hamdu). Hal ini berlaku bagi imam dan makmum sebagaimana jadi pendapat dalam madzhab Syafii.</li>
<li>Doa di antara dua sujud dan doa ketika tasyahud seperti berlindung dari empat hal (dari siksa Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup dan mati, serta kejelekan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal).</li>
<li>Membaca shalawat ketika tasyahud (awal dan akhir). Dalam madzhab Syafii, dalam <a href="https://rumaysho.com/8512-sifat-shalat-nabi-17-apakah-saat-tasyahud-awal-membaca-shalawat.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">tasyahud awal juga disunnahkan membaca shalawat</a>.</li>
<li>Salam kedua, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kadang-kadang salam hanya sekali.</li>
</ol>
<p> </p>
<h3><strong>Sunnah berupa perbuatan</strong></h3>
<ol>
<li>Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, rukuk, bangkit dari rukuk, dan bangkit dari tasyahud awwal.</li>
<li>Meletakkan tangan di dada.</li>
<li>Membuka kedua telapak kaki sedikit.</li>
<li>Membaca bacaan dengan jahar pada shalat yang diperintahkan untuk jahar, membaca bacaan dengan lirih pada shalat yang diperintahkan untuk lirih.</li>
<li>Membaca Alquran dengan tartil, dan berhenti pada setiap ayat.</li>
<li>Membaca surah pilihan dari muffashal (ada surah yang panjang dan pendek) pada shalat tertentu, misalnya shalat Shubuh dianjurkan membaca surah thiwalul mufashshal.</li>
<li>Memegang lutut dengan telapak tangan, sambil jari tangannya direnggangkan ketika rukuk. Sedangkan punggung dalam keadaan rata dengan kepala, juga menjauhkan lengan dari lambung.</li>
<li>Mendahulukan kedua telapak tangan dari lutut ketika turun sujud. Bisa pula sebaliknya yaitu mendahulukan lutut dahulu kemudian telapak tangan sebagaimana pendapat jumhur ulama dari Syafiiyah, Hanafiyah, Hambali.</li>
<li>Bangkit dari sujud untuk berdiri dengan bertumpu pada tangan sebagaimana pendapat Malikiyyah, Syafiiyyah, dan sebagian salaf, termasuk juga pendapat dari Syaikh Al-Albani.</li>
<li>Menjadikan kepala di antara dua telapak tangan ketika sujud dan lengan dibuat terbuka, lalu jari-jari kaki dihadapkan ke arah kiblat. Dilarang kedua lengan iftirasy yaitu menempel pada lantai sebagaimana jadi pendapat empat madzhab.</li>
<li>Duduk iq’a’ saat duduk di antara dua sujud (kadang-kadang) dan duduk iftirasy ketika itu, begitu pula duduk iftirasy saat tasyahud awwal.</li>
<li>Duduk istirahat setelah sujud kedua sebelum bangkit ke rakaat kedua atau ke rakaat keempat.</li>
<li>Meletakkan kedua tangan pada paha pada saat duduk dan saat tasyahud.</li>
<li>Duduk tawarruk pada rakaat terakhir.</li>
<li>Melihat pada jari telunjuk dan berisyarat dengannya ketika tasyahud.</li>
<li>Menoleh ke kanan dan ke kiri saat salam.</li>
<li>Salam kedua.</li>
</ol>
<p> </p>
<h4><strong>Referensi:</strong></h4>
<ol>
<li>
<em>Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin</em>. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</li>
<li>
<em>Syarh Manhaj As</em>–<em>Salikin</em>. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.</li>
</ol>
<p> </p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca Juga:</strong></span></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/22521-manhajus-salikin-menutup-shalat-dengan-salam.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="font-size: 12pt; color: #ff0000;"><strong>Manhajus Salikin: Menutup Shalat dengan Salam</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/21175-manhajus-salikin-sifat-shalat-nabi-sujud-pada-tujuh-anggota-tubuh.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="font-size: 12pt; color: #ff0000;"><strong>Manhajus Salikin: Sifat Shalat Nabi, Sujud pada Tujuh Anggota Tubuh</strong></span></a></li>
</ul>
<hr>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></p>
<p> </p>
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2019/12/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-92.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2019/12/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-92.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
 