
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2017/11/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-19.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2017/11/Buletin-Rumaysho-MPD-Edisi-19.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
<p>Sekarang kita lihat bagian terakhir dari cara wudhu yaitu tartib dan muwalah. Apa itu?</p>
<p><strong> </strong></p>
<h3>Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Sifat Wudhu</h3>
<p> </p>
<h4>Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata:</h4>
<h4>5- Mengerjakannya secara <em>tartib</em> (berurutan) sebagaimana urutan dalam ayat,</h4>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ</p>
<h4>“<em>Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.</em>” (QS. Al-Maidah: 6)</h4>
<h4>6- Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai <em>‘urf</em> ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh. Begitu pula segala sesuatu yang menyaratkan mesti ada <em>muwalah</em>.</h4>
<p> </p>
<h3>Tartib (Berurutan) Ketika Melakukan Rukun Wudhu</h3>
<p>Ini adalah rukun kelima. Dalilnya adalah ayat wudhu (surah Al-Maidah ayat 6). Allah menyebutkannya secara berurutan dan meletakkan mengusap (pada kepala) di antara dua membasuh.</p>
<p>Juga ketika ditunjukkan praktik wudhu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> selalu berurutan dan beliau tidak pernah meninggalkan <em>tartib</em> tersebut.</p>
<p><em>Tartib</em> dalam wudhu adalah dengan memulai dari membasuh wajah, lalu membasuh kedua tangan sampai siku, lalu mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kaki sampai mata kaki.</p>
<p>Jika seseorang membasuh langsung empat anggota wudhunya satu kali siraman, maka tidaklah sah kecuali yang sah hanya membasuh wajahnya saja karena urutannya yang pertama. Lihat perkataan Imam Asy-Syairazi. (<em>Al-Majmu’</em>, 1:248)</p>
<p> </p>
<h3>Muwalah, Apa itu dan Bagaimana Hukumnya?</h3>
<p><em>Muwalah</em> sebagaimana diterangkan oleh Syaikh As-Sa’di <em>rahimahullah</em> dalam kalimat beliau di atas, “Tidak memisah dengan jeda yang lama sesuai ‘<em>urf</em> ketika membasuh satu bagian dengan bagian lainnya di mana satu bagian dan lainnya bersambung saat dibasuh.”</p>
<p><em>Muwalah</em> ini beliau masukkan dalam rukun keenam dan dihukumi wajib. Artinya, jangan sampai satu anggota wudhu itu kering sebelum membasuh anggota berikutnya.</p>
<p>Di antara alasan wajibnya adalah hadits dari Khalid bin Ma’dan, dari sebagian sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى رَجُلاً يُصَلِّى وَفِى ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلاَةَ</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah melihat seseorang shalat dalam keadaan punggung telapak kakinya terdapat bagian yang berkilau karena tidak terbasuh oleh air wudhu sebesar dirham. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan padanya untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.” (HR. Abu Daud, no. 175. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>, begitu pula Syaikh Al-Albani.)</p>
<p>Seandainya <em>muwalah</em> tidak wajib, maka tentu Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk membasuh bagian yang tidak terbasuh saja, tidak sampai memerintahkan mengulangi wudhu.</p>
<p>‘Umar bin Al-Khattab <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan bahwa ada seseorang yang berwudhu lantas ia meninggalkan satu bagian sebesar kuku tidak terbasuh. Hal itu lantas dilihat oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lantas beliau bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ</p>
<p>“<em>Ulangilah perbaguslah wudhumu</em>.” (HR. Muslim, no. 243)</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> menjelaskan, “Memisah sebentar antara anggota wudhu tidaklah bermasalah. Hal ini disepakati oleh para ulama.” (<em>Al-Majmu’</em>, 1:252). Yang beda pendapat di sini adalah kalau terjadi jeda yang lama. Pendapat Imam Syafi’i yang <em>qadim</em> (lama) tidak membolehkan, sedangkan pendapat <em>jadid</em> (baru) membolehkan tidak ada <em>muwalah</em> sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syairazi.</p>
<p>Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dengan ini berakhirlah pembahasan tata cara wudhu.</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<ol>
<li>
<em>Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab</em>. Cetakan kedua, Tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub.</li>
<li>
<em>Syarh Manhaj As-Salikin</em>. Cetakan ketiga, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj. hlm. 50-51.</li>
</ol>
<p>—</p>
<p>Disusun di <a href="https://darushsholihin.com" target="_blank" rel="noopener">Pesantren Darush Sholihin</a>, Kamis sore, 12 Rabi’ul Awwal 1439 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
 