
<p><em>“Kemarin kami memverifikasi pengujian dengan PCR, sekitar 80% sampel  positif Covid-19 …”</em></p>
<p><em>“Bukan hanya pasien Covid-19. Dampaknya, tadi pagi setelah jam 10, hampir semua operasi dibatalkan karena RS kehabisan oksigen …”</em></p>
<p><em>“Per 27 juni, shift siang kemarin kami coba cari rujukan ke-18 Rumah sakit masih full …”</em></p>
<p><em>“Tiap hari lihat orang sesak nafas, dengar suara tangis keluarga pasien …”</em></p>
<p><em>“IGD full, tidak bisa menerima pasien .…”</em></p>
<p><em>“Bangsal covid penuh, sampai buka bangsal baru dan dua tenda darurat, ternyata masih penuh lagi, dipasang lagi tenda darurat ketiga …”</em></p>
<p><em>“Dari tadi pagi sampai siang ini datang terus pasien covid sampai tidak ada waktu istirahatnya …”</em></p>
<p><em>“Saya sebenarnya juga gejala, tapi diminta masuk karena tenaga kurang … sampai nunggu hasil …” sorenya ”Qodarullah saya positif covid …”</em></p>
<h2>Kondisi saat ini</h2>
<p>Penggalan di atas adalah di antara percakapan tenaga kesehatan akhir-akhir ini. Kasus meningkat, <em>bed </em>rumah sakit tidak mencukupi dan tenaga kesehatan terbatas. Pada tanggal 28 Juni 2021 kemarin, Kemenkes kembali mengabarkan data perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia. Terjadi kenaikan sebanyak 20.694 kasus positif sehingga total menjadi 2.135.998 orang; kematian bertambah 423, sehingga total menjadi 57.561 orang. Angka ini bukan hanya sekedar angka, namun dampaknya sungguh sangat terasa. Terutama bagi tenaga kesehatan yang langsung turun menangani orang yang keluarganya terkonfirmasi positif Covid-19 dengan gejala parah, para sopir ambulan, begitu pula dengan pengubur jenazah pasien positif Covid-19.</p>
<p>Tidak kita pungkiri bahwa saat ini, terasa berat menjalani hari …</p>
<h2>Manusia, makhluk yang lemah</h2>
<p>Berbagai kejadian yang terjadi saat ini kembali mengingatkan kita bahwa manusia benar-benar lemah. Berbagai teknologi yang terus berkembang, penelitian yang terus berjalan, kecerdasan yang dibangga-banggakan ternyata belum bisa menghentikan masalah ini.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا</span></p>
<p><em>“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (dalam keadaan) lemah.</em><em>” </em><strong>(QS. An Nisa’: 28)</strong></p>
<p>Syekh Abdurrahman As-Sa’di <em>rahimahullah</em> menjelaskan terkait ayat di atas, bahwa Allah <em>Ta’ala</em> memberikan keringanan kepada hamba-Nya, ini karena  rahmat-Nya yang sempurna, kebaikan-Nya yang menyeluruh, ilmu-Nya, kebijaksanaan-Nya terhadap kelemahan manusia dalam segala hal. Kelemahan fisik, kehendak, tekad, iman, dan kesabarannya. Allah <em>Ta’ala</em> memberikan keringanan karena kelemahan tersebut dan meringankan berbagai hal yang tidak mampu dilaksanakan karena lemahnya keimanan, kesabaran, dan kekuatan manusia.  (<em>Taisir Al-Kariim Ar-Rahman</em>, hal 175)</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah </em>menjelaskan terkait ayat ini, bahwa kelemahan di sini mencakup kelemahan secara umum.  Manusia itu lemah badan, kekuatan, keinginan, ilmu, dan kesabarannya. (<em>Thariqul Hijratain,</em> 1: 228)</p>
<p>Kasus virus corona ini kembali menjadi salah satu bukti bahwa manusia memang makhluk yang lemah. Tidak mampu ‘membunuh’ makhluk ciptaan Allah <em>Ta’ala </em>yang berukuran 120 nm. Ini mengingatkan kepada manusia bahwa sejenius apapun otaknya, tetap manusia itu adalah manusia ciptaan Allah <em>Ta’ala</em>. Sehebat apapun manusia, tetaplah dia manusia yang tidak mampu menjamin kesehatan dan kelangsungan hidupnya.</p>
<h2><strong>Allah <em>Ta’ala</em> Maha Besar</strong></h2>
<p>Se’besar’ apapun manusia, tetaplah dia manusia yang kecil, dan Allah lah yang Maha Besar. Allah <em>Ta’ala </em>yang menciptakan seluruh makhluk, termasuk virus kecil tak kasat mata ini.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” </em><strong>(QS. An Nisa: 34)</strong></p>
<p>Syekh Abdurrahman As-Sa’di <em>rahimahullaah </em>menjelaskan bahwa bagi-Nya lah ketinggian secara mutlak dalam segala hal, tinggi dari sisi Zat, kemampuan, dan kekuasaan. Allah <em>Ta’ala </em>Maha Besar, tidak ada yang lebih besar dari-Nya, tidak ada yang lebih mulia dan lebih agung dari-Nya. Allah <em>Ta’ala </em>Maha Besar, baik Zat maupun Sifat-Nya. (<em>Taisir Al-Kariim Ar-Rahman</em>, hal. 177)</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً ۗيَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ</span></p>
<p><em>“Allah lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.” </em><strong>(QS. Ar Ruum: 54)</strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>mampu membuat manusia yang lemah menjadi kuat kemudian menjadi lemah lagi. Tentu Allah <em>Ta’ala</em> juga mampu menjadikan virus yang menjadi sebab sakitnya manusia menjadi virus yang tidak berbahaya sama sekali, itu sangatlah mudah bagi Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<h2><strong>Tetap optimis meminta kepada Allah <em>Ta’ala</em></strong></h2>
<p>Meskipun merasa sakitnya badan terkena wabah, getir melihat pasien mengeluh kesakitan yang hanya bisa merebah, sulit hati dituduh “mengcovidkan” tuk tabah, makin banyaknya kasus namun tenaga kesehatan tak bertambah, keluarga tercinta pergi tanpa sempat dipapah, pilu mendengar setiap kali ambulan di jalanan membawa jenazah, ingatlah, ada Allah <em>Ta’ala </em>yang mengetahui segala hikmah.</p>
<p>Semua terjadi bukan hanya kebetulan. Sebagai hamba Allah <em>Ta’ala, </em>kita diperintahkan untuk senantiasa berikhtiar yang mana ikhtiar tersebut adalah bagian dari tawakkal. Serahkan semua kepada-Nya dengan tetap melakukan usaha semaksimal mungkin dan optimis dengan apa yang akan Allah <em>Ta’ala </em>berikan. Kita ingat kembali penggalan pesan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>kepada Abdullah bin ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> yang saat itu masih kecil,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِذَاَ سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَاَ اسْتَعَنتَ فَاسْتَعِن بِاللهِ، وَاعْلَم أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَت عَلَى أن يَنفَعُوكَ بِشيءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلا بِشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ لَك، ولَوِ اِجْتَمَعوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشيءٍ لَمْ يَضروك إلا بشيءٍ قَد كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفعَت الأَقْلامُ، وَجَفّتِ الصُّحُفُ</span></p>
<p><em>“ … Apabila Engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Apabila Engkau memohon pertolongan, maka <strong>mohonlah kepada Allah</strong>. Ketahuilah, kalau seandainya umat manusia bersatu untuk memberikan kemanfaatan kepadamu dengan sesuatu, niscaya <strong>mereka tidak akan mampu memberi manfaat kepadamu</strong> kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan untukmu. Dan kalau seandainya mereka bersatu untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, niscaya <strong>mereka tidak akan membahayakanmu</strong> kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan akan menimpamu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” </em><strong>(HR. at-Tirmidzi no. 2516, dan dia berkata hadis ini hasan sahih)</strong></p>
<p>Mari senantiasa tetap berharap yang terbaik, memohon kepada Allah <em>Ta’ala </em>semoga wabah ini segera diangkat, dan kita menjadi hamba-hamba yang lebih bertakwa kepada-Nya.</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/5876-apakah-anda-sudah-mengenal-allah.html" target="_blank" rel="noopener">Apakah Anda Sudah Mengenal Allah?</a></strong></em></p></blockquote>
<p>—</p>
<p><strong>Penulis: apt. Pridiyanto</strong></p>
<p><strong>Artikel: Muslim.or.id</strong></p>
 