
<p><span style="font-weight: 400;">Sungguh merupakan suatu kebahagiaan apabila kelak kita dapat<a href="https://muslim.or.id/40683-semoga-kita-pulang-kampung-ke-surga.html"> tinggal di surga</a> dan merasakan segala kemewahan yang ada di dalamnya. Merasakan berbagai kenikmatan yang sebelumnya tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga atau bahkan tidak pernah terbetik dalam hati setiap manusia. Merasakan nikmatnya sungai dari susu dan madu, mendapatkan isteri yang cantik jelita, diberi umur muda dan hidup kekal, abadi selama-selamanya. Dan kenikmatan yang lebih dari itu semua, kita dapat memandang wajah Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">pandangan yang menyejukkan mata-mata kita dan dapat membuat kita lupa dengan berbagai kenikmatan lainnya yang telah kita rasakan. Duhai … siapakah yang tidak ingin merasakannya? Lalu bagaimana kita dapat meraihnya?</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/40-keadilan-tertinggi-di-jagat-raya.html" data-darkreader-inline-color="">Inilah Keadilan Tertinggi di Jagat Raya</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Janji Surga bagi Ahli Tauhid</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara<a href="https://muslim.or.id/44495-keistimewaan-dan-keutamaan-tauhid-bag-3.html"> keistimewaan tauhid</a> adalah bahwa Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">telah menjanjikan surga dengan segala kemewahan di dalamnya bagi para ahlinya. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang akhir perkataan dalam hidupnya adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">‘laa ilaaha illallah’,</span></i><span style="font-weight: 400;"> maka pasti masuk surga.” </span><b>(HR. Abu Dawud. Dinilai </b><b><i>shahih </i></b><b>oleh Syaikh Albani dalam </b><b><i>Misykatul Mashabih </i></b><b>no. 1621)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari hadits ini, kita dapat mengambil hikmah bahwa barangsiapa yang konsekuen dengan syahadat </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah, </span></i><span style="font-weight: 400;">baik secara ilmu dan amal, maka dia adalah ahli tauhid yang mendapatkan jaminan kepastian untuk masuk surga.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah juga telah menjanjikan bahwa ahli tauhid akan terbebas dari api neraka. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ </b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang berkata, </span><i><span style="font-weight: 400;">’laa ilaaha illallah’</span></i><span style="font-weight: 400;">, dengan mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah.” </span><b>(HR. Bukhari no. 425, 1186, 5401 dan Muslim no. 1528)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, yang penting untuk menjadi catatan adalah bahwa yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">“perkataan” </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam hadits di atas bukanlah sekedar perkataan belaka, yang sangat ringan dan mudah untuk diucapkan. Tetapi yang dimaksud adalah perkataan yang memenuhi syarat dan rukunnya, melaksanakan konsekuensi-konsekuensinya, serta tidak melakukan pembatal-pembatalnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masuknya seseorang ke dalam surga ini bisa jadi setelah Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">meng-</span><i><span style="font-weight: 400;">hisab </span></i><span style="font-weight: 400;">amal-amal kita terlebih dahulu, kemudian Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengampuni dosa-dosa kita kemudian langsung memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Namun bisa jadi Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak mengampuni dosa-dosa kita tersebut, sehingga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> memasukkan kita ke dalam neraka terlebih dahulu sebelum akhirnya Allah membebaskan kita kemudian memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Oleh karena itu, terdapat keistimewaan yang lebih dari itu semua, yaitu bahwa Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> akan langsung memasukkan kita  ke dalam surga tanpa harus dihisab atau bahkan diadzab terlebih dahulu. Lalu bagaimana meraihnya?</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/31-terlalu-banyak-beramal-shalih.html" data-darkreader-inline-color="">Terlalu Banyak Beramal Shalih</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Membersihkan Tauhid</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Puncak keistimewaan bagi orang-orang yang <a href="https://muslim.or.id/23391-bagaimana-membuktikan-kita-bertauhid-dengan-benar.html">bertauhid</a> adalah Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">akan memasukkannya ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa adzab. </span><b>Hal ini hanya Allah </b><b><i>Ta’ala</i></b><b> janjikan bagi orang-orang yang benar-benar membersihkan dan memurnikan tauhidnya.</b><span style="font-weight: 400;"> Yang dimaksud dengan membersihkan tauhid (baca: men-</span><i><span style="font-weight: 400;">tahqiq </span></i><span style="font-weight: 400;">tauhid) adalah seseorang mewujudkan dua kalimat syahadat dengan meninggalkan segala macam syirik, baik syirik </span><i><span style="font-weight: 400;">akbar, </span></i><span style="font-weight: 400;">syirik </span><i><span style="font-weight: 400;">ashghar, </span></i><span style="font-weight: 400;">atau pun syirik </span><i><span style="font-weight: 400;">khofi </span></i><span style="font-weight: 400;">(syirik yang samar/tersembunyi) sebagai konsekuensi dari syahadat </span><i><span style="font-weight: 400;">“laa ilaaha illallah”.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Dia juga harus meninggalkan </span><i><span style="font-weight: 400;">bid’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan maksiat dengan segala jenisnya sebagai konsekuensi dari syahadat</span><i><span style="font-weight: 400;"> “Muhammad rasulullah”</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Membersihkan dan memurnikan tauhid ini memiliki dua tingkatan, yaitu tingkatan yang wajib dan tingkatan yang sunnah. Tingkatan wajib adalah meninggalkan segala sesuatu yang wajib untuk ditinggalkan, yaitu syirik, bid’ah, dan maksiat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Inilah tingkatan minimal untuk mendapatkan predikat sebagai orang yang bersih tauhidnya. Namun ada tingkatan yang lebih tinggi dan lebih utama lagi dari itu. Yaitu tingkatan sunnah, di mana hati seseorang seluruhnya hanya menghadap kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan tidak pernah condong atau berpaling kepada selain Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Maka perkataannya adalah semata-mata karena Allah, perbuatan dan amalnya hanya untuk Allah, dan bahkan setiap gerak-gerik hatinya hanya untuk mencari keridhaan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">semata. Dia juga meninggalkan sesuatu yang sebenarnya pada asalnya bukan perbuatan dosa, namun hanya semata-semata karena takut bahwa perbuatan tersebut akan menjadi penghalang bagi kesempurnaan nikmat yang akan dia peroleh di akhirat. (Lihat </span><b><i>At-Tamhiid</i></b><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 33)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, orang yang sempurna bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah dan dosa. Orang yang sempurna adalah orang yang apabila berbuat salah dan dosa dia segera menyesal, berhenti, dan bertaubat dari dosa-dosanya. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” </span><b>(QS. Ali ‘Imran [3]: 135)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ </b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Setiap manusia pasti berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” </span><b>(HR. Ibnu Majah. Dinilai </b><b><i>hasan </i></b><b>oleh Syaikh Albani dalam </b><b><i>Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah </i></b><b>no. 4521)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/75-ulama-ulama-pembela-dakwah-salafiyah-dahulu-hingga-sekarang-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Ulama-Ulama Pembela Dakwah Salafiyah Dahulu Hingga Sekarang</strong></a></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Bagaimana Jalan untuk Membersihkan Tauhid?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk <a href="https://muslim.or.id/44087-10-kaidah-dalam-menyucikan-jiwa-bag-2.html">membersihkan dan memurnikan tauhid</a> kita, harus terpenuhi tiga hal. </span><b>Pertama, memiliki ilmu yang sempurna tentang tauhid.</b><span style="font-weight: 400;"> Karena tidak mungkin seseorang membersihkan sesuatu tanpa terlebih dahulu mengetahui dan memahami sesuatu tersebut. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Maka </span><b>ketahuilah, </b><span style="font-weight: 400;">bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah saja.” </span><b>(QS. Muhammad [47]: 19)</b><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka dalam ayat ini Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkan untuk meng-ilmui terlebih dahulu, sebelum mengucapkan kalimat tauhid.</span></p>
<p><b>Ke dua, meyakini kebenaran tauhid yang telah diilmuinya. </b><span style="font-weight: 400;">Apabila seseorang hanya mengilmui (mengetahui) saja, akan tetapi tidak meyakininya dan bahkan mengingkarinya, maka dia tidaklah membersihkan tauhidnya. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman tentang kesombongan orang-orang kafir yang tidak meyakini keesaan Allah sebagai satu-satunya sesembahan –padahal mereka telah memahami makna </span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaaha illallah-</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Mengapa ia (Muhammad) menjadikan sesembahan-sesembahan itu sebagai sesembahan yang satu saja? Sungguh ini adalah suatu hal yang sangat mengherankan.” </span><b>(QS. Shaad [38]: 5)</b><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i></p>
<p><b>Ke tiga, mengamalkan tauhid tersebut dengan penuh ketundukan. </b><span style="font-weight: 400;">Jika kita telah mengilmui dan meyakini akan tetapi kita tidak mau mengamalkannya dengan penuh ketundukan, maka kita belum bersih tauhidnya. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, </span><i><span style="font-weight: 400;">’laa ilaaha illallah’,</span></i><span style="font-weight: 400;"> mereka menyombongkan diri.” </span><b>(QS. Ash-Shaffat [37]: 35)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila ketiga hal ini telah terpenuhi dan seseorang benar-benar membersihkan serta memurnikan tauhidnya, maka jaminan surga tersedia menjadi miliknya tanpa hisab dan tanpa adzab. Dalam hal ini, kita tidak perlu mengatakan</span><i><span style="font-weight: 400;">”Insya Allah” </span></i><span style="font-weight: 400;">karena hal tersebut adalah hukum yang telah ditetapkan oleh syari’at. (Lihat </span><b><i>Al-Qoulul Mufiid</i></b><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">1: 91)</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/56-sifat-istiwa-allah-di-atas-arsy.html" data-darkreader-inline-color="">Sifat Istiwa’ Allah di Atas ‘Arsy</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/113-mengenal-nama-dan-sifat-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Mengenal Nama dan Sifat Allah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Jogjakarta, 1 Dzulhijjah 1440/2 Agustus 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Mslim.or.id</a></span></strong></p>
 