
<p>Memang agak “lucu” para peramal, di awal tahun berbagai ramalan mereka ramalkan. Peramal ini bermacam-macam, mulai dari dukun tulen, paranormal berkedok ustadz atau kiayi, artis tenar dan tokoh masyarakat yang mengklaim bisa meramal kejadian setahun akan datang. Padahal mereka sendiri tidak tahu nasib dan masa depan mereka.</p>
<p>Sangat lucu juga ternyata ada peramal kondang yang meninggal pada tahun yang ia ramalkan, ada yang jatuh miskin, ada juga artis yang meramal kejadian setahun akan datang ternyata karirnya hancur. Ada juga tokoh yang meramal ternyata jabatan dan kekuasaannya juga tidak lancar. Tentunya jika mereka tahu hal <i>ghaib</i> dan masa akan datang kehidupan mereka akan lebih baik.</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> manusia yang paling mulia saja tidak tahu masa depan dan ilmu<i> ghaib</i>. Beliau berkata, seandainya tahu, pasti akan banyak kebaikan dan keberuntungan yang didapat sekarang. Misalnya masalah bisnis, keuangan dan sebagainya. Akan tetapi beliau tidak tahu masa depan dan hal <i>ghaib.</i></p>
<p>Allah <i>Ta’ala</i> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ</span></p>
<p><i>“Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula kuasa menolak kemadharatan kecuali yang dikehendaki Allah. </i><b><i>Dan andaikata aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemadharatan. </i></b><i>Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”</i> (QS. Al-A’raf/7: 188).</p>
<p>Merupakan fakta, di awal tahun baru, ramalan-ramalan muncul di televisi, media dan surat kabar baik berupa ramalan langsung dari peramal ataupun berupa zodiak dan ramalan bintang. <b>Beberapa orang pun sebenarnya tidak percaya karena memang tidak masuk akal akan tetapi mereka tetap ikut sekedar coba-coba, iseng ataupun sekedar meramaikan</b>. Ramalan ini bisa menjadi musibah baik dunia dan akhirat bagi pelakunya walapun sekedar iseng.</p>
<h3><span style="color: #ff0000; font-size: 21pt;">Percaya dengan ramalan ilmu ghaib bisa diancam dengan kekafiran</span></h3>
<p>Percaya dengan ramalan adalah musibah karena diancam dengan kekafiran. Tentu saja musibah besar di akhirat kerena bisa diancam kekal di neraka. <i>Wal’iyadzu billah. </i>Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ</span></p>
<p>“<i>Barangsiapa yang </i><b><i>mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya</i></b><i>, maka ia </i><b><i>berarti telah kufur pada (Al-Qur’an)</i></b><i> yang telah diturunkan pada Muhammad</i>.” (HR. Ahmad no. 9532, hasan).</p>
<p>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَّرَ أَوْ سُحِّرَ لَهُ</span></p>
<p>“<b><i>Bukan termasuk golongan kami</i></b><i> siapa saja yang beranggapan sial atau membenarkan orang yang beranggapan sial, atau</i><b><i> siapa saja yang mendatangi tukang ramal atau membenarkan ucapannya</i></b><i>, atau siapa saja yang melakukan perbuatan sihir atau membenarkannya</i>.” (HR. Al Bazzar dalam Musnad-nya).</p>
<p>Tidak hanya mendatangi saja, tetapi sekedar percaya saja bisa diancam juga. Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ</span></p>
<p>“<i>Barangsiapa mengambil ilmu perbintangan (seperti zodiak misalnya, pent), maka ia berarti telah mengambil salah satu cabang sihir, akan bertambah dan terus bertambah.</i>” ( HR. Abu Dawud (3905), Ibnu Majah (3726), Ahmad (1/227, 311) dan Asy-Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (2/435)).</p>
<p>Syaikh Shalih Al-Fauzan <i>hafidzahullah</i> berkata, <i>“</i>Adapun pemberitaan mengenai masa depan (ramalan) yang muncul dari ilmu perbintangan (astrologi/ramalan zodiak) yaitu berpatokan dengan keadaan bintang terhadap kejadian di bumi. Maka hal ini sebagaimana perkataan syaikul Islam Ibnu Taimiyyah, ‘Hal ini merupakan perbuatan orang jahiliyah dan Islam telah datang untuk menghapuskan dan melarangnya. <b>Termasuk hal ini apa yang tersebar di sebagian majalah-majalah yang di kenal dengan “untung dan buntung” (ramalan zodiak)</b> dengan berpatokan pada rasi bintang kelahiran atau <i>safar</i> atau yang semisalnya berupa kebohongan dan hal mistis.<i>” </i>(Dinukil dari: <a href="http://www.alfawzan.af.org.sa/node/2283" class="broken_link">http://www.alfawzan.af.org.sa/node/2283</a>).<i><br>
</i></p>
<h3><span style="color: #ff0000; font-size: 21pt;">Berbahaya juga walaupun sekedar iseng coba-coba</span></h3>
<p>Walaupun ia tidak percaya, tetapi sekedar coba-coba, iseng dan sekedar ikut meramaikan, maka ini juga musibah. Karena sekedar mendatangi tukang ramal saja, maka shalat tidak diterima empat puluh hari. Nabi <i>shallallahu ’alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً</span></p>
<p>“<i>Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama empat puluh hari tidak diterima</i>.” (HR. Muslim no. 2230).</p>
<p>Imam An-Nawawi <i>rahimahullah</i> menjelaskan,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وأما عدم قبول صلاته فمعناه أنه لاثواب له فيها وإن كانت مجزئة في سقوط الفرض عنه ولايحتاج معها إلى إعادة</span></p>
<p><i>“</i>Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya<i>.” (</i><em>Syarh Muslim lin-nawawi</em>, 14/227<i>)<br>
</i></p>
<p>Padahal <b>shalat adalah amal yang pertama kali ditimbang, jika baik maka baik seluruh amal dan sebaliknya. </b>Rasulullah <i>shalallahu alaihi wasallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أول ما يحاسب عليه العبد الصلاة فان صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسد سائر عمله</span></p>
<p><i>“Pertama kali yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat,</i><b><i> jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya, dan jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalannya</i></b><i>.” </i>(HR. Thabrani dan Ash Shahihah 3/346 oleh Asy Syaikh Al-Albani)</p>
<p>Dan <b>shalat adalah tiang</b> <b>agama</b>. Rasulullah <i>shalallahu alaihi wasallam</i> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ، وَذَرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ</span></p>
<p><i>“Inti dari seluruh perkara (agama) adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” </i>(HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh As Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 2/138).<i><br>
</i></p>
<h3><span style="color: #ff0000; font-size: 21pt;">Hanya Allah yang tahu Ilmu ghaib</span></h3>
<p>Jelas para peramal tidak tahu masa akan datang karena hanya Allah yang tahu ilmu ghaib. Allah <i>Ta’ala</i> berfiman,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ</span></p>
<p>“<i>Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah</i>” (QS. An Naml: 65).</p>
<p>Allah <i>Ta’ala </i>berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ</span></p>
<p>“<i>Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. </i><b><i>Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.</i></b><i> Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”</i> (QS. Luqman: 34).</p>
<p>Hanya beberapa makhluk saja yang tahu masa yang akan datang karena mendapat wahyu dari Allah. Mereka adalah orang yang Allah <i>ridhai</i> dari golongan Rasul. Adapun peramal, jelas tidak diridhai oleh Allah.</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baz <i>rahimahullah</i> berkata, <i>“</i>Ilmu ghaib di sisi Allah hanyalah khusus bagi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> saja. Allah mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan apa yang tidak terjadi seandainya terjadi dan bagaimana kejadiannya. Allah mengetahui apa yang terjadi di akhirat, surga, dan neraka. Mengetahui siapa-siapa yang selamat dan binasa. Mengetahui penduduk surga dan penduduk neraka dan mengetahui segala sesuatu. <b>Sedangkan para Rasul mengetahui dengan perantara wahyu dan apa yang Allah wahyukan kepada mereka </b>sebagaimana firman Allah, ‘<em>Allah mengetahui hal ghaib, tidaklah ia menampakkan kepada seseorangpun kecuali yang ia ridhai dari golongan para rasul</em>‘” (QS. Al-Jin: 26-27).<i>” </i>(Dinukil dari: <a href="http://www.binbaz.org.sa/mat/4201">http://www.binbaz.org.sa/mat/4201</a>).<i><br>
</i></p>
<p>Demikian semoga bermanfaat</p>
<p>***</p>
<p>Penyusun: dr. Raehanul Bahraen</p>
<p>Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a></p>
 