
<p>Bolehkah melagukan bacaan Al Quran? Bagaimana keutamaannya?</p>
<blockquote><p>Imam Nawawi dalam <em>Riyadhus Sholihin</em> membawakan judul bab “Sunnahnya memperindah suara ketika membaca Al Qur’an dan meminta orang lain membacanya karena suaranya yang indah dan mendengarkannya.”</p></blockquote>
<p>Beberapa dalil yang disebutkan oleh beliau berikut ini:</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, berkata, “Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَىْءٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِىِّ أَنْ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ</p>
<p>“<em>Allah tidak pernah mendengarkan sesuatu seperti mendengarkan Nabi yang indah suaranya melantunkan Al Qur’an dan mengeraskannya</em>.” (HR. Bukhari no. 5024 dan Muslim no. 792).</p>
<p>Dari Abu Musa Al Asy’ari <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepadanya,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">يَا أَبَا مُوسَى لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ</p>
<p>“<em>Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud</em>.” (HR. Bukhari no. 5048 dan Muslim no. 793).</p>
<p>Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan, “Sesungguhnya Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan kepada Abu Musa,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">لَوْ رَأَيْتَنِى وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ</p>
<p>“<em>Seandainya engkau melihatku ketika aku mendengarkan bacaan Al Qur’anmu tadi malam.</em><em> Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga Daud</em>” (HR. Muslim no. 793).</p>
<p>Dari Al Bara’ bin ‘Aazib, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ ( وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ) فِى الْعِشَاءِ ، وَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا مِنْهُ أَوْ قِرَاءَةً</p>
<p>“<em>Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dalam surat Isya surat Ath Thiin (wath thiini waz zaituun), maka aku belum pernah mendengar suara yang paling indah daripada beliau</em><em> atau yang paling bagus bacaannya dibanding beliau.</em>” (HR. Bukhari no. 7546 dan Muslim no. 464)</p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Beberapa faedah yang diambil dari beberapa hadits di atas:</span></h4>
<p>1- Dibolehkan memperindah suara bacaan Al Qur’an dan perbuatan seperti itu tidaklah makruh. Bahkan memperindah suara bacaan Al Qur’an itu disunnahkan.</p>
<p>2- Memperbagus bacaan Al Quran memiliki pengaruh, yaitu hati semakin lembut, air mata mudah untuk menetes, anggota badan menjadi khusyu’, hati menyatu untuk menyimak, beda bila yang dibacakan yang lain.</p>
<p>Itulah keadaan hati sangat suka dengan suara-suara yang indah. Hati pun jadi lari ketika mendengar suara yang tidak mengenakkan.</p>
<p>3- Diharamkan Al Quran itu dilagukan sehingga keluar dari kaedah dan aturan tajwid atau huruf yang dibaca tidak seperti yang diperintahkan. Pembacaan Al Quran pun tidak boleh serupa dengan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan, bentuk seperti itu diharamkan.</p>
<p>4- Termasuk bid’ah kala membaca Al Quran adalah membacanya dengan nada musik.</p>
<p>5- Disunnahkan mendengarkan bacaan Al Quran yang sedang dibaca dan diam kala itu.</p>
<p>6- Disunnahkan membaca pada shalat ‘Isya’ dengan surat qishorul mufashol seperti surat At Tiin.</p>
<p>Apa yang Dimaksud “<em>Yataghonna bil Quran</em>”?</p>
<p>Kata Imam Nawawi bahwa Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah juga kebanyakan ulama memaknakan dengan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">يُحَسِّن صَوْته بِهِ</p>
<p>“Memperindah suara ketika membaca Al Quran.”</p>
<p>Namun bisa pula maknanya ‘<em>yataghonna bil quran</em>’ adalah mencukupkan diri dengan Al Quran, makna lain pula adalah menjaherkan Al Qur’an. Demikian keterangan Imam Nawawi dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em> 6: 71.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #0000ff;">Referensi:</span></h4>
<p><em>Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj</em>, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H.</p>
<p><em>Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhis Sholihin</em>, Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H, 1: 472.</p>
<p><em>Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin</em>, Dr. Musthofa Al Bugho dkk, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1432 H, hal. 209.</p>
<p>—</p>
<p>Selesai disusun di <a href="http://darushsholihin.com/">Panggang, Gunungkidul</a>, 13 Jumadats Tsaniyyah 1436 H.</p>
<p>Penulis: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
<p>Ikuti update artikel Rumaysho.Com di <a href="https://www.facebook.com/rumaysho" target="_blank">Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans)</a>, <a href="https://www.facebook.com/muhammad.tuasikal" target="_blank">Facebook Muhammad Abduh Tuasikal</a>, <a href="https://twitter.com/RumayshoCom" target="_blank">Twitter @RumayshoCom</a>, <a href="https://instagram.com/rumayshocom" target="_blank">Instagram RumayshoCom</a></p>
<p>Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab.</p>
 