
<p>Kita lihat di sebagian masjid di arah kiblat biasa dipajang kaligrafi Allah dan Muhammad secara sejajar. Padahal tidak ada kesejajaran kedudukan secara realita antara Allah dan Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Namun demikianlah sebagian kita tidak memahami hal ini hingga barangkali menyangka bahwa itu adalah suatu bentuk pengagungan pada Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p>Keterangan yang amat baik pernah disampaikan oleh <a href="https://muslim.or.id/53-biografi-ringkas-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin.html" target="_blank" rel="noopener">Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin</a> <em>rahimahullah</em> saat membahas salah satu hadits dalam kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al Asqolani <em>rahimahullah</em>. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata sebagai berikut.</p>
<p>Tidak sepantasnya seseorang shalat menghadapkan pandangan pada sesuatu yang dapat melalaikannya. Karena dalam hadits, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata pada ‘Aisyah ketika melihat hordennya yang bergambar,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">أَمِيطِى عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا</span></p>
<p>“<em>Jauhkan dariku hordenmu itu</em><em> (karena terus melalaikan dari shalatku).</em>“<strong>[1]</strong></p>
<p>Para ulama <em>rahimahumullah</em> melarang pula memberikan hiasan-hiasan di arah kiblat masjid karena masalahnya sama, yaitu dapat membuat tidak konsen saat shalat. Apa yang dikatakan oleh para ulama tersebut memang benar, ini tanpa kita memandang apa yang tertulis di tembok pada arah kiblat. Jika yang tertulis mengandung kemungkaran, maka lebih bertambah lagi kekeliruannya.</p>
<p>Contoh yang biasa dipajang di beberapa masjid adalah kaligrafi Allah dan Muhammad. Tulisan Allah berada di bagian kanan mihrab, sedangkan tulisan Muhammad berada sejajar di sebelah kirinya. Ini tanpa ragu adalah suatu kesalahan. Kekeliruannya adalah ketika tulisan tersebut dibuat setara. Sehingga dinilai bahwa Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah tandingan bagi Allah.</p>
<p>Coba perhatikan, ketika seseorang menyejajarkan Allah dengan Muhammad dengan berkata pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Masya Allah wa syi’ta (artinya: atas kehendak Allah <span style="text-decoration: underline;">dan</span> kehendakmu), Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lantas mengoreksi ucapannya, “<em>Apakah engkau ingin menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah? Cukuplah engkau ucapkan, “Masya Allahu wahdah (artinya: atas kehendak Allah saja).</em>“<strong>[2]</strong> Orang yang berkata seperti itu adalah orang yang tidak mengetahui kedudukan Allah dan Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Kita pun jika melihat tulisan seperti itu, maka ada perasaan bahwa Allah dan Rasul-Nya berada dalam satu kedudukan. Itulah kemungkarannya.</p>
<p>Demikian disampaikan oleh seorang faqih, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, semoga Allah merahmati beliau.</p>
<p>Moga bermanfaat bagi para pembaca Muslim.or.id sekalian. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.</p>
<blockquote><p><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/6957-menggantungkan-ayat-kursi.html" target="_blank" rel="noopener">Menggantungkan Ayat Kursi</a></strong></em></p></blockquote>
<p> </p>
<p><strong>Referensi: </strong></p>
<p><em>Fathu Dzil Jalali wal Ikrom bi Syarh Bulughil Maram</em>, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, cetakan pertama, tahun 1426 H, 2: 501-502.</p>
<p> </p>
<p>—</p>
<p>Disusun di pagi hari penuh berkah, 24 Jumadats Tsaniyyah 1435 H di Panggang, Gunungkidul</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com/" target="_blank" rel="noopener">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
<p>—</p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p><strong>[1]</strong> HR. Bukhari no. 374.</p>
<p><strong>[2]</strong> Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan hadits dari Ibnu ‘Abbas bahwa ada seseorang yang berkata pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> “<em>Masya Allahu wa syi’ta</em> (artinya: atas kehendak Allah <span style="text-decoration: underline;">dan</span> kehendakmu)” -di mana kata “dan” di sini berarti menyajajarkan antara Allah dan makhluk-, maka kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata padanya,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">أَجَعَلْتَنِى وَاللَّهَ عَدْلاً بَلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ</span></p>
<p>“<em>Apakah engkau ingin menjadikanku dan Allah itu semisal (sejajar), cukuplah katakan masya Allahu wahdah (artinya: atas kehendak Allah saja)</em>.” (HR. Ahmad, 1: 214. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih lighoirihi</em>)</p>
 