
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55944-memakai-pakaian-terbaik-ketika-shalat-bag-3.html" data-darkreader-inline-color="">Memakai Pakaian Terbaik ketika Shalat (Bag. 3)</a></span></strong></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Memakai penutup kepala</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana telah kami bahas sebelumnya bahwa yang diperintahkan adalah memakai pakaian terbaik ketika shalat, yaitu shalat dalam kondisi dan keadaan yang paling baik dan sempurna. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap kali (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” </span><b>(QS. Al-A’raf [7]: 31)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Ibnu ‘Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إذا صلى أحدكم فليلبس ثوبيه، فإن الله أحق من تزين له</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika salah seorang di antara kalian shalat, pakailah dua pakaian. Karena sesungguhnya Allah lebih berhak untuk mendapatkan penampilan yang terbaik.” </span><b>(HR. Ath-Thabrani dalam </b><b><i>Al-Ausath </i></b><b>10: 170 dan Al-Baihaqi 2: 236. Al-Albani berkata, “Sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan bukanlah termasuk dalam penampilan yang terbaik ketika seseorang shalat dalam kondisi tidak menutupi kepala, lebih-lebih ketika dia berdomisili di suatu daerah yang menilai bahwa menutup kepala termasuk bagian dari adat kebiasaan mereka sehari-hari. Atau ketika masyarakat setempat menilai bahwa tidak memakai penutup kepala itu bukanlah perkara yang bisa diterima, karena mereka memang adat kebiasaan mereka sejak lama adalah menutup kepala. Dan termasuk perkara yang telah kita ketahui dalam masalah fiqh berpakaian adalah berpakaian sesuai dengan adat kebiasaan setempat, dengan syarat tetap memperhatikan kaidah-kaidah syariat dalam masalah berpakaian. Para ulama pun menyebutkan bahwa dimakruhkan bagi seseorang untuk menyelisihi masyarakat setempat dalam masalah berpakaian, dan perbuatan itu termasuk dalam memakai pakaian popularitas (pakaian yang tampil beda).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun di suatu daerah yang menilai bahwa menutup kepala bukanlah termasuk dalam adat kebiasaan mereka, maka tidak mengapa jika tidak menutup kepala. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لكن لو كنا في بلد اعتادوا ألا يلبسوا اللباس فوق الرأس، صار كشف الرأس عندهم لا نقص فيه، ولا ينقص الصلاة شيئاً؛ لماذا؟ لأن الزينة لا تتناوله. فالزينة في كل موضع بحسبه</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ … akan tetapi, ketika kita berada di suatu negeri yang memiliki adat kebiasaan tidak memakai penutup di atas kepala, maka tidak memakai penutup kepala bagi mereka itu bukanlah perbuatan tercela dan tidak mengurangi kesempurnaan shalat sedikit pun. Mengapa demikian? Karena hal itu bukan termasuk bagian dari </span><i><span style="font-weight: 400;">az-ziinah </span></i><span style="font-weight: 400;">(pakaian terbaik). Maka </span><i><span style="font-weight: 400;">az-ziinah </span></i><span style="font-weight: 400;">itu berbeda-beda sesuai dengan tempat (daerah) masing-masing.” </span><b>(</b><b><i>Jilsaatu Ar-Ramadhaniyyah, </i></b><b>2: 149 [Maktabah Asy-Syamilah])</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">ditanya, “Ada imam yang memimpin shalat dalam keadaan tidak memakai penutup kepala. Bagaimanakah hukumnya?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjawab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لا حرج في ذلك ؛ لأن الرأس ليس من العورة ، وإنما الواجب أن يصلي بالإزار والرداء؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم : « لا يصلي أحدكم في الثوب الواحد ليس على عاتقه منه شيء » لكن إذا أخذ زينته واستكمل لباسه كان ذلك أفضل؛ لقول الله جل وعلا : { يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ } أما إن كان في بلاد ليس من عادتهم تغطية الرأس فلا بأس عليه في كشفه .</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hal itu tidaklah menjadi masalah, karena kepala tidak termasuk aurat. Yang wajib adalah shalat dengan menggunakan </span><i><span style="font-weight: 400;">izar </span></i><span style="font-weight: 400;">(kain yang menutupi bagian atas) dan </span><i><span style="font-weight: 400;">rida’ </span></i><span style="font-weight: 400;">(kain yang menutupi bagian bawah semacam sarung). Berdasarkan sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah salah seorang dari kalian shalat memakai satu kain, tanpa mengenakan suatu kain pun di atas pundaknya.” </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, jika seseorang memakai pakaian yang terbaik dan yang paling sempurna, itulah yang lebih afdhal, berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya),  </span><i><span style="font-weight: 400;">“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap kali (memasuki) masjid.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-A’raf [7]: 31)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jika berada di suatu daerah (wilayah) yang menutup kepala itu bukan termasuk adat kebiasaan mereka, maka tidak masalah jika tidak menutup kepala.” </span><b>(</b><b><i>Majmu’ Al-Fataawa, </i></b><b>10: 405)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/22207-kajian-ramadhan-40-sibuk-cari-pakaian-baru-di-akhir-ramadhan.html" data-darkreader-inline-color="">Sibuk Cari Pakaian Baru di Akhir Ramadhan</a></span></strong></li>
<li><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/20755-pakaian-tampil-beda-syuhroh.html" data-darkreader-inline-color="">Pakaian Tampil Beda (Syuhroh)</a></span></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> @Rumah Kasongan, 25 Jumadil akhir 1441/19 Februari 2020</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
 