
<p>Apakah membaca Al-Qur’an disyaratkan suci dari hadats? Apakah sama dengan <a href="https://rumaysho.com/thoharoh/tidak-boleh-menyentuh-al-quran-kecuali-orang-yang-suci-11234.html" target="_blank">larangan menyentuh Al-Qur’an bagi yang berhadats?</a></p>
<p>Para ulama empat madzhab sepakat bolehnya membaca Al-Qur’an bagi orang yang berhadats baik hadats besar maupun kecil selama tidak menyentuhnya. (<em>Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah</em>, 17: 127)</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, “Disunnahkan membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci. Adapun jika Al-Qur’an dibaca dalam keadaan berhadats (misal: dengan hafalan, pen.), hal itu dibolehkan berdasarkan <em>ijma’</em> (kata sepakat ulama). Hadits yang mendukung hal ini pun amat banyak.” (<em>At-Tibyan</em>, hlm. 81)</p>
<p>Adapun hadits yang menyebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">لاَ تَقْرَأُ الحَائِضُ وَلاَ الجُنُبُ شَيْئاً مِنَ القُرْآنِ</p>
<p>“<em>Tidak boleh membaca Al-Qur’an sedikit pun juga bagi wanita haidh dan orang yang junub</em>.” Imam Ahmad telah membicarakan hadits ini sebagaimana anaknya menanyakannya pada beliau lalu dinukil oleh Al-‘Aqili dalam <em>Adh-Dhu’afa’</em> (90), “Hadits ini batil. Isma’il bin ‘Iyas mengingkarinya.” Abu Hatim juga telah menyatakan hal yang sama sebagaimana dinukil oleh anaknya dalam <em>Al-‘Ilal</em> (1: 49).</p>
<p>Tentang kelemahan hadits di atas diterangkan pula oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em>, “Hadits yang melarang tersebut adalah hadits <em>dha’if</em> yang disepakati kedha’ifannya (kelemahannya) oleh para ulama. … Sudah dimaklumi bahwa para wanita di masa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengalami haidh yang sama. Namun mereka tidak dilarang untuk membaca Al-Qur’an. Sebagaimana pula mereka tidak dilarang dari dzikir dan do’a. Bahkan wanita haidh diperintahkan untuk keluar pada hari ‘ied (ke tanah lapang) dengan bertakbir sebagaimana keadaan kaum muslimin ketika itu. Begitu pula wanita haidh masih diperintah oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>untuk menunaikan seluruh manasik haji kecuali thawaf keliling Ka’bah.” (<em>Majmu’ah Al-Fatawa</em>, 21: 460)</p>
<p>Semoga bisa membedakan antara hukum membaca Al-Qur’an yang dibahas kali ini dengan hukum menyentuhnya. Semoga Allah beri kepahaman.</p>
<p>—</p>
<p>Selesai disusun di <a href="http://darushsholihin">Panggang, Gunungkidul</a>, 6 Ramadhan 1436 H</p>
<p>Penulis: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
<p>Ikuti update artikel Rumaysho.Com di <a href="https://www.facebook.com/rumaysho" target="_blank">Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat (sudah 3,6 juta fans)</a>, <a href="https://www.facebook.com/muhammad.tuasikal" target="_blank">Facebook Muhammad Abduh Tuasikal</a>, <a href="https://twitter.com/RumayshoCom" target="_blank">Twitter @RumayshoCom</a>, <a href="https://instagram.com/rumayshocom" target="_blank">Instagram RumayshoCom</a></p>
<p>Untuk bertanya pada Ustadz, cukup tulis pertanyaan di kolom komentar. Jika ada kesempatan, beliau akan jawab.</p>
 