
<p><strong>Bab III</strong><br>
<strong>Sebab-Sebab yang Menyelamatkan Seseorang dari Siksa Kubur</strong></p>
<p><strong>5. Membaca Surat al-Mulk Bisa Menyelamatkan Seseorang dari Siksa Kubur.</strong><br>
Hal ini dijelaskan di dalam berbagai hadits:</p>
<ul>
<li>Hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>سُوْرَةُ تَبَارَكَ هِيَ الْمَانِعَةُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ</strong>.</p>
<p style="padding-left: 40px;">“<em>Surat Tabarak adalah penghalang siksa kubur</em>.”<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<ul>
<li>Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</li>
</ul>
<p style="padding-left: 40px;"><strong>إِنَّ سُوْرَةً مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّـى غُفِرَ لَهُ وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ</strong></p>
<p style="padding-left: 40px;">“<em>Sesungguhnya di dalam al-Qur-an ada satu surat sebanyak tiga puluh ayat, ia akan memberikan syafa’at kepada seseorang sehingga dia diampuni, surat itu adalah surat Tabarak (al-Mulk)</em>.”<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Surat tersebut akan mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat untuk membela orang yang telah membacanya. Ia memohon kepada Allah agar orang yang membacanya diselamatkan dari siksa Neraka jika orang tersebut sedang ada di dalamnya dan Allah menyelamatkan orang yang membacanya dari siksa Neraka.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah tidur sehingga beliau membacanya. Hal ini sebagaimana diterang-kan di dalam hadits Jabir Radhiyallahu anhu secara <em>marfu’</em>:</p>
<p><strong>كَانَ لاَ يَنَـامُ حَتَّـى يَقْرَأَ </strong></p>
<p>“<em>Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah tidur sehingga beliau membaca surat Alif Laam miim Tanzil as-Sajdah dan surat Tabarak</em>.”<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>[Disalin dari <em>Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri </em><em>Penulis</em> Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  <em>Judul dalam Bahasa Indonesia </em><strong>KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur </strong><em>Penerjemah </em>Beni Sarbeni <em>Penerbit</em><em>  </em><strong>PUSTAKA IBNU KATSIR</strong><strong>]</strong><br>
_______<br>
<strong>Footnote</strong><br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh di dalam <em>Thabaaqat al-Ashbahani</em> (no. 264) dengan sanad yang hasan. Diriwayatkan pula oleh al-Hakim dari jalan ‘Abdullah. Diceritakan oleh Sufyan secara mauquf dengan riwayat yang lebih sempurna, tetapi riwayat ini dihukumi <em>marfu’</em>, beliau berkata, “Sanadnya shahih.” Dan disepakati oleh ad-Dzahabi.” Demikianlah yang dikatakan di dalam kitab <em>ash-Shahiihah</em> (no. 1140), karya al-Albani.<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Hadits shahih. HR. Abu Dawud, kitab <em>as-Shalaah</em>, bab <em>fi ‘Adadil Aiy</em> (no. 1400), at-Tirmidzi (no. 2891), kitab <em>Fadhaa-ilul Qur-an</em>, bab <em>Ma Jaa-a fii Fadhlu Suurah al-Mulk</em>, beliau berkata, “Hadits hasan.” Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah (no. 3786) di dalam kitab <em>al-Adab</em>, bab<em> Tsawaabul Qur-aan</em>. Hadits ini dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr sebagaimana dikatakan di dalam kitab <em>ar-Ruuh</em>, hal. 108 dan dihasankan oleh al-Albani di dalam <em>Shahiih al-Jaami’</em> (no. 2091) dan di dalam takhrij kitab <em>al-Misykaah</em> (no. 2153).<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> <em>Ar-Ruuh</em>, hal. 180.<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Hadits shahih. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2892) kitab <em>Fadhaa-ilul Qur-an</em>, bab <em>Maa Jaa-a fii Fadhli Suuratil Mulk</em> dan ad-Daarimi (II/455). Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani di dalam <em>ash-Shahiihah</em> (II/585).</p>
 