
<p></p>
<p>Hidup di dunia, kebutuhan rumah atau  tempat tinggal dilihat dari sisi ekonomi merupakan kebutuhan primer bagi  manusia. Rumah merupakan tempat berlindung dari panas dan hujan maupun  terpaan dingin angin bahkan dari ancaman binatang buas. Rumah juga  tempat membina keluarga, lebih dari itu rumah merupakan prestise  perlambang kemakmuran penghuninya atau tingkat budaya manusia yang dulu  sebagai penghuni gua sekarang sebagai penghuni rumah mewah dengan  arsetektur modern.</p>
<p>Mengingat begitu penting peranan rumah bagi  manusia, maka muncul berbagai cabang aktifitas manusia berkaitan dengan  rumah, hitung saja misalnya: toko bahan bangunan, kontraktor, developer,  KPR, arsitektur, bahkan desain interior. Persawahan dan ladang subur,  hutan dan pantai disulap menjadi perumahan. Inipun masih belum dapat  secara keseluruhan memenuhi kebutuhan perumahan manusia, bahkan memenuhi  kebutuhan perumahan dengan model kepemilikan rumah secara kredit atau  membangun rumah di atas lahan yang bukan haknya.</p>
<p>Inilah perlombaan  manusia untuk memiliki rumah sendiri yang kadang mengabaikan sisi-sisi  kemanusiannya sendiri, karena berprinsip hidup materialisme.</p>
<p>Berapa  banyak manusia berusaha dan bersusah payah serta sengsara untuk  membangun rumah di dunia ini, lalu ia habiskan harta, kesungguhan,  pikiran, dan waktunya yang sangat banyak sekali. Lalu rumah yang  dibangun dengan megah tersebut beresiko hancur, kebakaran, roboh, dan  rusak. SeAndainya rumahnya kokoh dan tetap utuh, maka pemiliknya pasti  akan mati. Kadang orang membuat rumah hingga suka duka, keringat, dan  kegelisahan menerpanya. Bahkan kadang harus mengusap air wajahnya  menahan malu untuk mencari hutangan dan minta penangguhan dan tambahan  tempo pembayaran. Pada akhirnya ia tahu pasti rumah tersebut  meninggalkannya atau ia meninggalkan rumah tersebut.</p>
<h2>Realitas Manusia</h2>
<p>Pada  umumnya ada tiga macam syahwat dunia yang tertanam dalam diri kita yang  harus selalu diwasapadai dan dikendalikan, yakni syahwat wanita, anak  dan harta benda. Allah menjelaskan:</p>
<p>“<em>Dijadikan indah pada  (pAndangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:  wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda  pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan  hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang lebih baik  (surga).</em>” (QS. Ali Imran: 14)</p>
<p>Dari ayat tersebut dapat kita  pahami bahwa bila ketiga syahwat tersebut telah menjadi tujuan hidup  kita sehingga melupakan pada balasan Allah di akhirat, maka ingatlah,  saat itu berarti kita sudah dikuasasi dan dikendalikan olehnya. Awalnya  memang bisa hanya sekedar kesenangan dan kecintaan biasa sebagai  manusia. Namun, lalma-kelamaan bisa berubah menjadi orientasi hidup  duniawi semata, dan kemudian dengan tidak disadari bisa meningkat dan  berubah menjadi tuhan yang disembah dan ditaati.</p>
<p>Saat ini, tidak sedikit kita lihat orang-orang yang menjadikan wanita, anak-anak, dan harta menjadi tuhan.</p>
<p>Bagi  orang-orang seperti ini, mereka tidak akan pernah mau peduli halal atau  haram. Yang penting mereka meraih apa yang mereka inginkan dari wanita,  anak, dan harta. Wanita, anak-anak, dan harta telah melalaikan mereka  dari mengingat Allah. Wanita, anak-anak, dan harta telah memalingkan  mereka dari jalan hidup yang Allah ciptakan untuk mereka. Dengan tanpa  disadari, mereka membangkang kepada Allah, kepada Rasulullah, dan kepada  ajaran Islam yang Allah turunkan, dan Rasulullah ajarkan untuk  menyelamatkan kehidupan mereka di dunia dan sekaligus di akhirat kelak.</p>
<p>Agar  hidup kita di dunia yang sementara ini tidak menjadi hamba syahwat dan  kesenangan dunia, pada ayat berikutnya Allah menawarkan kepada kita  sebuah kehidupan dan balasan akhirat yang jauh lebih baik dan lebih  dahsyat dari apa saja yang mungkin kita peroleh di dunia ini, seperti  firman-Nya:</p>
<p><em>Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa  yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa  (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di  bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka  dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah  Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya</em>. (QS. Ali Imran: 15)</p>
<p>Inilah  tawaran Allah pada kita semua. Masihkah mata kita buta sehingga tidak  dapat membedakan antara kenikmatan dunia yang sementara dan tidak  seberapa dengan kenikmatan akhirat dan surga yang sangat luar biasa?  Masihkah hati kita keras bagaikan batu sehingga tidak mampu meyakini  kebenaran tawaran Allah itu? Masihkah telinga kita pekak dan tuli  sehingga tidak mampu mendengar tawaran Allah itu denga baik? Masihkan  pikiran kita picik dan sempit sehingga tidak bisa mencerna dan memahami  tawaran dan janji Allah yang maha dahsyat itu?</p>
<p>Sebuah fakta yang  tak terbantahkan yang selalu kita saksikan bahwa setiap manusia pasti  mati. Saat kematian tiba, tak ada lagi manfaat harta, anak, istri,  teman, hAndai tolan, pangkat, jabatan, karir dan apa saja yang kita  miliki di dunia ini. Semuanya akan kita tinggalkan. Rumah mewah tidak  lagi berguna.</p>
<p>Kita akan diusung ke sebuah rumah dalam tanah yang  luasnya hanya 3 x 1.5 m2 saja. Harta yang melimpah tidak lagi dapat kita  nikmati. Saat kematian, kita hanya dibekali dengan beberepa lembar kain  kafan yang menutupi tubuh kita. Pangkat dan kedudukan yang tinggi tidak  lagi berguna, karena kita sudah kaku, tidak bisa lagi bergerak dan  berbicara, serta kantor dan tempat bermain kita dibatasi sebuah tempat  sempit yang bernama liang lahat di dalam bumi sana.</p>
<p>Istri, anak,  dan keluarga yang kita cintai tidak bisa berbuat apa-apa saat jasad kita  ditimbun dengan tanah yang perlahan-lahan menghilang dari pAndangan  mereka. Mereka terpaksa meninggalkan kita sendirian di dalam kubur  setelah pemakaman selesai. Tidak ada seorang istri, atau anak, atau  keluarga, teman, anak buah dan sebagainya yang mau mendampingi kita  dengan setia setelah kita dikubur</p>
<p>Semua ini adalah fakta bahwa  semua apa yang ada dan kita miliki di dunia ini hanya sebatas di dunia.  Peristiwa kematian akan memutus semuanya dengan kita. Sebab itu, orang  yang cerdas ialah orang yang dapat melihat kebenaran fakta tersebut dan  dia mensiasatinya dengan siasat yang akan menguntungkannya setelah mati,  bukan sebelum kematian. Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa salam</em> bersabda:</p>
<p>الْكَيِّسُ  مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ  أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ</p>
<p>“<em>Orang  yang pintar itu ialah orang yang mampu mengevaluasi diriniya dan beramal  (mencurahkan semua potensinya) untuk kepentingan setelah mati.  Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan  berangan-angan kepada Allah</em>.” (HR. Attirmizi no. 2383 dan dishahihkan al-Albani dalam silsilah ahadis Shahihah).</p>
<p>Salah  satu bukti kita tidak tertipu oleh kesenangan dan syahwat dunia ialah  kita tidak terlena dalam kehidupan dunia ini. Pada waktu yang sama, kita  dapat memfokuskan hidup kita di dunia ini untuk mencapai kehidupan  akhirat. Kita optimalkan semua potensi yang ada pada kita, khususnya  jiwa, raga, istri, anak, harta, dan waktu kita untuk membangun rumah  abadi kita di surga; bukan rumah di dunia yang fana dan yang kita diami  hanya sementara. Karena istana dan rumah surga sangat jauh perbedaannya  dengan istana dan rumah di dunia.</p>
<p><em>Bersambung….</em></p>
<p><strong>Artikel <a title="menjadi pengusaha sukses dunia akhirat" href="a">www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
 