
<p><span style="font-weight: 400;">Yazid bin Abu Habib mengatakan, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">إِيْجَابُ الْحُجَّةِ عَلَى الْوَالِدِيْنِ عُقُوْقٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Membantah ucapan orang tua itu bentuk durhaka kepada orang tua.” (<em>Birrul Walidain</em> karya Ibnul Jauzi)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Membantah atau menyanggah perkataan orang tua yang menyebabkan ortu tersinggung atau bahkan marah adalah salah satu bentuk durhaka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seringkali hal ini kita nilai remeh dan sepele padahal dosanya demikian besar, dosa durhaka kepada orang tua. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Duhai saudaraku, mari merenung berapa banyak kita bantah dan sanggah ucapan ayah dan ibu kita. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hakekat bakti kepada orang tua adalah membahagiakan dan menyenangkan orang tua dalam hal-hal yang tidak bernilai dosa. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan hakekat durhaka orang tua adalah membuat orang tua sedih, jengkel, tersinggung atau marah dikarenakan ucapan atau perbuatan anak yang tidak diwajibkan oleh hukum agama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika ucapan atau perbuatan anak yang membuat jengkel ortu itu hal yang diwajibkan oleh agama maka anak tidak tergolong durhaka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misal ortu jengkel bahkan marah karena anak tidak mau pasang sesaji di bawah pohon yang angker atau anak perempuan tidak mau melepas jilbab syar’i ketika keluar rumah. Dalam kasus semisal ini anak tidak tergolong durhaka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memberikan ampunan untuk semua dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak yang berbakti. Aamiin. </span></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.</strong></p>
 