
<p>Ia menangis karena akan berpisah dengan bulan Ramadhan, kenapa?</p>
<p>Ibnu Rajab Al-Hambali <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 24px; text-align: center;">كَيْفَ لاَ تَجْرِى لِلْمُؤْمِنِ عَلَى فِرَاقِهِ دُمُوْع وَ هُوَ لاَ يَدْرِي هَلْ بَقِيَ لَهُ فِي عُمْرِهِ إِلَيْهِ رُجُوْع</p>
<p><em>Bagaimana mungkin air mata seorang mukmin tidak berlinang kala berpisah dengan bulan Ramadhan.</em></p>
<p><em>Sementara dia tidak mengetahui tersisa dari umurnya untuk kembali bertemu dengannya.</em></p>
<p>(<em>Lathaif Al-Ma’arif</em> karya Ibnu Rajab Al-Hambali, pada materi perpisahan dengan bulan Ramadhan)</p>
<p> </p>
<p>Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Rumaysho[dot]Com, kunjungi terus artikel terbaru. Aplikasi androidnya jangan lupa download di sini: <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=sms.com.rumaysho">https://play.google.com/store/apps/details?id=sms.com.rumaysho</a></p>
<p> </p>
<p>Waktu sahur, 30 Ramadhan 1437 H <a href="https://darushsholihin.com/">@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul</a></p>
 