
<h2><span style="font-size: 21pt;">Hadits Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>tentang perpecahan umat</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Perpecahan kaum muslimin dalam agama, sebagaimana yang kita saksikan pada zaman sekarang ini, telah jauh-jauh hari dikabarkan oleh Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau menceritakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَلَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا فَقَالَ: أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ketahuilah, ketika sedang bersama kami Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, “Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jama’ah</span></i><span style="font-weight: 400;">.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 4597, dinilai hasan oleh Al-Albani)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/6421-sebab-utama-perpecahan-umat.html" data-darkreader-inline-color="">Inilah Sebab Utama Perpecahan Umat</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Abdullah bin ‘Amr </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بني إسرائيل حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ، وَإِنَّ بني إسرائيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pasti akan datang kepada umatku, sesuatu yang telah datang pada bani Israil seperti sejajarnya sandal dengan sandal. Sehingga apabila di antara mereka (bani Israil) ada orang yang menggauli ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan, maka pasti di antara umatku ada yang melakukan demikian. Sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka. kecuali satu golongan.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan ditempuh oleh aku dan para sahabatku.” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 2641, dinilai hasan oleh Al-Albani)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/26415-dakwah-tauhid-memecah-belah-umat.html" data-darkreader-inline-color="">Dakwah Tauhid Memecah Belah Umat?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Faidah dari hadits-hadits tentang perpecahan umat</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat banyak faidah yang dapat kita ambil dari hadits-hadits tentang perpecahan umat di atas. Dalam tulisan ini, kami sarikan sebagian faidah tersebut dalam poin-poin singkat berikut ini:</span></p>
<p><b>Faidah pertama, </b><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menyebut bahwa satu golongan yang selamat tersebut adalah </span><b><i>al-jama’ah.</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau kita memperhatikan dalil-dalil syar’i, istilah </span><i><span style="font-weight: 400;">“al-jama’ah” </span></i><span style="font-weight: 400;">itu kembali kepada dua makna:</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Al-jama’ah </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam makna “bersatu karena berpegang teguh dengan kebenaran”. Inilah makna </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jama’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam istilah </span><b><i>“ahlus sunnah wal jama’ah”</i></b><span style="font-weight: 400;">. Yang dimaksud dengan “kebenaran” itu adalah mengikuti Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dan juga mengikuti kesepakatan (ijma’) para sahabat </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhum</span></i><span style="font-weight: 400;">. Inilah makna </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jama’ah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang diisyaratkan dalam hadits di atas, yaitu bersatu dalam kebenaran.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jama’ah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah sifat orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran, yaitu ijma’ salaf. Dengan kata lain, </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jama’ah </span></i><span style="font-weight: 400;">itu tidak identik dengan kelompok, organisasi, yayasan, atau partai tertentu. Karena </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jama’ah </span></i><span style="font-weight: 400;">itu adalah sifat, siapa saja yang bersifat dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jama’ah, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka dia adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jama’ah.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/25658-dengan-apa-umat-islam-ini-mulia-dan-jaya.html" data-darkreader-inline-color="">Dengan Apa Umat Islam Ini Mulia Dan Jaya?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, selama seseorang itu berpegang dengan ijma’ salaf, maka dia berada dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jama’ah, </span></i><span style="font-weight: 400;">meskipun secara kenyataan dan realita, dia seorang diri dan tidak memiliki teman. Hal ini sebagaimana kata sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إنما الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-jama’ah </span></i><span style="font-weight: 400;">itu hanyalah yang mencocoki kebenaran, meskipun Engkau seorang diri.” </span><b>(</b><b><i>Al-hawaadits wal bida’, </i></b><b>karya Abu Syaamah, hal. 22)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengertian ke dua dari </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jama’ah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah bersatu untuk mengakui dan patuh kepada penguasa muslim, dan haram memberontak kepada penguasa (ulil amri) yang sah. Sehingga siapa saja yang berada di tengah-tengah negeri kaum muslimin, namun dia meyakini boleh memberontak kepada penguasa kaum muslimin yang sah, maka dia pada hakikatnya tidak berada dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jama’ah </span></i><span style="font-weight: 400;">meskipun secara lahiriyah dia tinggal di negeri tersebut. </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Al-jama’a </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan pengertian ke dua ini, adalah sebagaimana sabda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ العَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ المُسْلِمِينَ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ada tiga hal yang jika terdapat dalam diri seseorang, maka dia akan terbebas dari </span><i><span style="font-weight: 400;">al-ghill </span></i><span style="font-weight: 400;">(yaitu, menghendaki kejelekan untuk orang lain atau permusuhan yang tersembunyi, pen.), yaitu (1) seseorang beramal ikhlas karena Allah Ta’ala; (2) menginginkan kebaikan (memberikan nasihat) kepada para pemimpin kaum muslimin; dan (3) </span><b>komitmen dengan jamaah kaum muslimin</b><span style="font-weight: 400;"> (yaitu jamaah kaum muslimin di atas satu komando pemimpin yang sah, pen.). Karena seruan itu meliputi dari belakang mereka (maksudnya, ketika seorang pemimpin telah diangkat sebagai penguasa oleh yang berhak mengangkatnya, maka kewajiban taat mengikat semua kaum muslimin, pen.).” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 2658, Ibnu Majah no. 230, Ahmad 3: 225, hadits shahih)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/11369-bidah-dan-sumber-perpecahan.html" data-darkreader-inline-color="">Bid’ah dan Sumber Perpecahan</a></strong></p>
<p><b>Faidah ke dua, </b><span style="font-weight: 400;">hadits-hadits di atas adalah dalil bahwa umat-umat terdahulu (yaitu Yahudi dan Nasrani) sebelum umat Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">juga mengalami perpecahan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Meskipun mereka tampak bersatu, tetapi pada hakikatnya mereka berpecah belah dalam banyak aliran, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Sehingga kita tidak perlu tertipu dengan tampilan-tampilan yang mengesankan bahwa tidak ada perpecahan dalam agama mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat orang-orang jahiliyyah, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan juga para penyembah berhala dengan Allah Ta’ala katakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ؛ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. </span><b>Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.</b><span style="font-weight: 400;"> Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” </span><b>(QS. Ar-Ruum [30]: 31-32)</b></p>
<p><b>Faidah ke tiga, </b><span style="font-weight: 400;">perpecahan yang Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sebutkan dalam hadits ini bukanlah perpecahan karena urusan atau perkara duniawi sebagaimana persangkaan sebagian orang. Misalnya, bukan karena memperebutkan harta dan memperebutkan pangkat dan jabatan. Akan tetapi, perpecahan yang disebutkan Nabi adalah perpecahan dalam masalah (pemahaman) agama. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">katakan dalam hadits di atas,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga </span><i><span style="font-weight: 400;">‘millah’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (golongan).” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 2641)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menyebut masing-masing aliran dengan istilah </span><i><span style="font-weight: 400;">“millah”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (agama). Hal ini menunjukkan bahwa aliran-aliran tersebut berbeda dengan millah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">dan para sahabatnya </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhum. </span></i><span style="font-weight: 400;">Sehingga perbedaan antara millah-millah (yang menyimpang) tersebut dengan millah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah perbedaan jalan, perbedaan pemahaman, atau perbedaan metodologi dalam beragama.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/7692-landasan-dan-langkah-mewujudkan-persatuan.html" data-darkreader-inline-color="">Landasan dan Langkah Mewujudkan Persatuan</a></strong></p>
<p><b>Faidah ke empat, </b><span style="font-weight: 400;">hadits ini menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu banyak, sedangkan jalan kebenaran itu hanya satu saja (tunggal, tidak berbilang). Artinya, banyak model kesesatan. Untuk menjadi orang sesat itu banyak jalannya, sehingga tinggal “memilih”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jalan kebenaran, yaitu jalan Allah, jalan Rasul-Nya, dan jalan ini pula yang ditempuh oleh para sahabat, itu hanya satu dan tidak berbilang. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah </span><b>jalan-Ku</b><span style="font-weight: 400;"> yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena </span><b>jalan-jalan</b><span style="font-weight: 400;"> itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” </span><b>(QS. Al-An’am [6]: 153)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada ayat di atas, Allah Ta’ala menggunakan kata tunggal ketika menyebutkan jalan-Nya, yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">“shirath”. </span></i><span style="font-weight: 400;">Sedangkan ketika Allah Ta’ala menyebutkan jalan kesesatan, Allah Ta’ala memakai bentuk jamak, yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">“as-subul”. </span></i><span style="font-weight: 400;">Sekali lagi, ini menjelaskan bahwa jalan kebenaran itu hanya itu, itulah jalan Allah, sedangkan jalan kesesatan itu banyak dan berbilang.</span></p>
<p><b>Faidah ke lima, </b><span style="font-weight: 400;">sebagian orang sala paham dengan hadits di atas dengan mengatakan bahwa, “Mereka (yang mengklaim dirinya sebagai ahlus sunnah) ingin mengkapling surga sendiri.” Ini adalah salah paham dengan hadits di atas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini karena tujuh puluh dua golongan yang Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> katakan sesat, mereka itu masih menjadi bagian umat Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> sehingga berhak masuk surga, namun mereka terancam dengan neraka.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/518-pelajaran-dari-jalur-gaza.html" data-darkreader-inline-color="">Pelajaran Dari Jalur Gaza</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits di atas, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan </span><b>umatku</b><span style="font-weight: 400;"> akan terpecah … “</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Umat apa yang dimaksud? Perlu diketahui bahwa ada dua jenis umat Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Pertama adalah </span><b>“umat dakwah”</b><span style="font-weight: 400;">, yaitu semua orang yang menjadi objek sasaran dakwah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Mereka adalah orang-orang yang hidup sejak Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">diutus menjadi Rasul, hingga hari kiamat. Ke dua adalah </span><b>“umat ijabah”, </b><span style="font-weight: 400;">yaitu mereka yang menerima dan merespon dakwah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sehingga menjadi bagian dari kaum muslimin. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengertian </span><b>“umatku”</b><span style="font-weight: 400;"> dalam hadits di atas bermakna </span><i><span style="font-weight: 400;">umat ijabah.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Sehingga tujuh puluh dua golongan tersebut masih termasuk dalam bagian umat Islam yang nantinya akan masuk surga, bukan orang kafir yang kekal di neraka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu, apakah mereka pasti masuk neraka? Jawabannya, belum tentu. Ancaman untuk masuk neraka ini terwujud (benar-benar terwujud) jika syarat-syarat terpenuhi dan tidak ada penghalang. Hal ini sesuai dengan kaidah umum bahwa dalil-dalil yang berisi ancaman neraka itu akan terwujud jika syarat (kondisi) terpenuhi dan tidak ada faktor penghalang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang meninggal dan dia berada di salah satu dari tujuh puluh dua golongan, berarti bahwa telah terpenuhi syarat (kondisi) orang tersebut untuk terkena ancaman. Namun, masih ada faktor penghalang. Di antara faktor penghalang adalah adanya rahmat dan ampunan dari Allah Ta’ala. Kalau ternyata Allah Ta’ala mengampuni, maka tentu tidak jadi masuk neraka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan</span> <span style="font-weight: 400;">penjelasan ini, maka tidak benar bahwa surga itu “dimonopoli” oleh </span><i><span style="font-weight: 400;">ahlus sunnah wal jama’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> saja. Kecuali kalau jalan kesesatan mereka itu berada di luar tujuh dua golongan itu (alias kesesatan yang menyebabkan kekafiran sehingga tidak lagi termasuk dalam umat ijabah), maka mereka kekal di neraka, seperti golongan Ahmadiyyah.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/430-mari-mengenal-manhaj-salaf.html" data-darkreader-inline-color="">Mari Mengenal Manhaj Salaf</a></strong></p>
<p><b>Faidah ke enam, </b><span style="font-weight: 400;">adanya tujuh puluh dua golongan kesesatan, sedangkan jalan kebenaran itu hanya satu,</span> <span style="font-weight: 400;">tidak mengharuskan bahwa jumlah orang yang berada dalam kesesatan itu lebih banyak daripada jumlah ahlus sunnah yang berada di atas kebenaran. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian orang beranggapan bahwa mayoritas umat saat ini berada di atas </span><b>‘aqidah Asy’ariyyah.</b><span style="font-weight: 400;"> Perkataan ini adalah perkataan yang tidak benar. Karena tidak ada orang yang beraqidah Asy’ariyyah, kecuali dia menekuni buku-buku atau kitab-kitab Asy’ariyyah. Sehingga yang benar, bahwa mayoritas umat sekarang adalah ahlus sunnah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara buktinya, jika dalam suatu acara akan dibacakan Al-Qur’an, maka pembawa acara akan mengatakan, “Mari kita mendengarkan sejenak firman Allah Ta’ala … “ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalimat di atas adalah salah satu dari sekian banyak bukti bahwa orang-orang awam kaum muslimin berada di atas aqidah ahlus sunnah. Karena jika mereka beraqidah Asy’ariyyah, tentu mereka tidak akan pernah mengucapkan kalimat itu, karena Al-Qur’an bukanlah firman Allah menurut aqidah Asy’ariyyah.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27829-bagaimana-sikap-kita-terhadap-hizbiyyah.html" data-darkreader-inline-color="">Bagaimana Sikap Kita Terhadap Hizbiyyah?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/27847-sebab-datang-dan-hilangnya-hidayah-allah-2.html" data-darkreader-inline-color="">Sebab Datang Dan Hilangnya Hidayah Allah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 2 Ramadhan 1440/7 Mei 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tulisan ini pada asalnya merupakan catatan penulis ketika menyimak kajian kitab </span><b><i>Tahdziib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, </i></b><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin (hal. 8-9), yang disampaikan oleh guru kami, Ustadz Aris Munandar, kemudian kami lengkapi dan kami tambahkan keterangan-keterangan yang diperlukan.</span></p>
 