
<p><span style="font-weight: 400;">Bolehkah menentukan hari raya dengan ilmu hisab?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) ditanya, “Terdapat perselisihan yang cukup sengit di antara ulama kaum muslimin mengenai penentuan awal puasa Ramadhan dan Idul Fithri. Sebagian dari mereka beramal dengan hadits, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya</span></i><span style="font-weight: 400;">”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, ulama lainnya berpegang teguh dengan pendapat ahli falak (ahli ilmu perbintangan). Para ulama ini mengatakan, “Sesungguhnya ahli falak adalah pakar dalam ilmu perbintangan yang memungkinkan mereka untuk mengetahui awal bulan qomariyah (tanggal 1 bulan hijriyah).” Oleh karena itu, para ulama tadi mengikuti kalender (sesuai dengan ilmu perbintangan). “</span></p>
<p><b>Jawab:</b></p>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">, pendapat yang kuat yang wajib diamalkan adalah yang sesuai dengan sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya. Apabila kalian tertutup mendung, genapkanlah bulan tersebut</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari dengan berbagai lafazh). Hadits ini menunjukkan bahwa awal dan akhir bulan Ramadhan ditentukan dengan melihat hilal. Dan syari’at Islam yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah umum tetap kekal dan berlaku hingga hari kiamat.</span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">tentu mengetahui apa yang telah dan akan terjadi, ini berarti Allah juga mengetahui nanti akan muncul ilmu falak dan ilmu-ilmu yang lainnya. Namun, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”</span><i><span style="font-weight: 400;">Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan (di negeri tempat tinggalnya), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (QS. Al Baqarah [2] : 185)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan maksud ayat ini kepada kita,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Bukhari)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari penjelasan ini menunjukkan bahwa awal dan akhir puasa Ramadhan ditentukan dengan melihat hilal dan tidaklah dikaitkan dengan ilmu hisab/ilmu perbintangan,  padahal Allah telah mengetahui nanti ada ilmu perbintangan semacam ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim kembali dan percaya pada syari’at Allah yang disampaikan melalui lisan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu </span><span style="font-weight: 400;">menentukan awal dan akhir puasa dengan melihat hilal.</span><span style="font-weight: 400;"> Pendapat inilah sebagaimana ijma’ (kesepakatan) dari para ulama. Barangsiapa yang menyelisihi dalam hal ini dan beralih kepada ilmu hisab, maka </span><span style="font-weight: 400;">perkataannya </span><i><span style="font-weight: 400;">syadz</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pendapat yang </span><i><span style="font-weight: 400;">nyleneh</span></i><span style="font-weight: 400;">) dan pendapat ini tidaklah perlu diperhatikan</span><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memberi kita taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anggota : Abdullah bin Ghodyan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wakil Ketua : Abdur Rozaq ‘Afifi,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz</span></p>
<p><b><i>Pertanyaan Kedua, Fatawa no. 2036 Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’</i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel https://rumaysho.com</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat</span></p>
 