
<p><em>Baca pembahasan sebelumnya <a href="https://muslim.or.id/36799-mengapa-engkau-enggan-mengenal-tuhanmu-01.html">Mengapa Engkau Enggan Mengenal Tuhanmu? (Bag.1)</a></em></p>
<p><b>Komponen Keimanan kepada Allah Ta’ala</b></p>
<p>Para ulama <i>rahimahumullah </i>menjelaskan bahwa di dalam keimanan kepada Allah Ta’ala tercakup empat masalah (komponen) berikut ini.</p>
<p><b>Pertama, beriman terhadap wujud (keberadaan) Allah Ta’ala.</b> Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah Ta’ala, maka dia bukan seorang mukmin. Meskipun tidak mungkin kita temukan seseorang yang mengingkari keberadaan Allah Ta’ala dengan hatinya, bahkan Fir’aun sekalipun. Musa <i>‘alaihis salaam </i>berkata kepada Fir’aun,</p>
<p style="text-align: center;"><b>قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا</b></p>
<p><i>“Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. Dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa” </i><b>(QS. Al-Isra’ [17]: 102).</b></p>
<p><b>Kedua, beriman terhadap keesaan Allah Ta’ala</b> <b>dalam masalah </b><b><i>rububiyyah.</i></b> Yaitu beriman bahwasannya Allah-lah satu-satunya Dzat yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta.</p>
<p><b>Ketiga, beriman terhadap keesaan Allah Ta’ala</b> <b>dalam masalah </b><b><i>uluhiyyah.</i></b> Yaitu beriman bahwasannya Allah-lah satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang meyakini bahwa di samping Allah <i>Ta’ala</i> ada sesembahan lain yang berhak untuk disembah, maka dia tidak beriman kepada Allah <i>Ta’ala. </i></p>
<p><b>Keempat, beriman terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala</b> sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tanpa menyelewengkan maknanya, tanpa mengingkarinya, tanpa mem-visualisasi-kannya, dan tanpa menyerupakannya dengan para makhluk-Nya. Barangsiapa yang menyelewengkan ayat-ayat atau hadits-hadits tentang sifat Allah Ta’ala, maka dia tidaklah beriman kepada Allah Ta’ala. <b>[1]</b></p>
<p>Kesimpulannya, di antara tauhid yang dituntut bagi setiap hamba adalah <i>tauhid asma’ wa shifat. </i>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin <i>rahimahullah </i>berkata,</p>
<p><i>”Di dalam keimanan kepada Allah Ta’ala tercakup empat masalah: </i><b><i>beriman terhadap wujud-Nya, rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, serta nama dan sifat-Nya (asma’ wa shifat).</i></b><i> Jika seseorang tidak beriman kepada empat masalah ini, maka keimanannya kepada Allah tidak sempurna. Dan keimanan kepada Allah mencakup empat hal ini semuanya. Barangsiapa mengingkari wujud-Nya Allah, maka dia bukan seorang mukmin. Barangsiapa mengingkari rububiyyah Allah –meskipun dalam sebagian makhluk-Nya saja-, maka dia bukan seorang mukmin. Barangsiapa mengingkari uluhiyyah Allah, maka dia bukan seorang mukmin. </i><b><i>Dan barangsiapa mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah, maka dia bukan seorang mukmin.</i></b><i>” </i><b>[2]</b></p>
<p><b>Pengertian Tauhid </b><b><i>Asma’ wa Shifat</i></b></p>
<p>Tauhid <i>asma’ wa shifat</i> mengandung pengertian beriman kepada setiap nama <i>(al-asmaa’) </i>dan sifat <i>(ash-shifaat) </i>yang dengannya Allah Ta’ala menamai dan mensifati diri-Nya. Dan juga beriman bahwasannya tidak ada yang menandingi-Nya dalam nama dan sifat tersebut. Mensucikan-Nya dari segala sifat yang tercela, karena Allah Ta’ala benar-benar Maha Esa dengan segala sifat kebesaran dan kesempurnaan. Allah Ta’ala Maha suci dari segala sifat kekurangan dan persamaan dengan makhluk-Nya.</p>
<p>Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk menetapkan bagi Allah Ta’ala seluruh sifat yang sampai kepadanya, yaitu sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala bagi diri-Nya sendiri dalam kitab-Nya atau melalui lisan orang yang paling mengenal Allah Ta’ala, yaitu Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i>Allah Ta’ala telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan memberitahukan nama-nama-Nya yang paling indah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia. Semua itu disebutkan dalam Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya. <b>[3]</b></p>
<p>Penetapan sifat-sifat tersebut harus sesuai dengan kebesaran Allah Ta’ala, karena tidak ada satu pun yang menyamai dan menandingi-Nya. Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang diri-Nya dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;"><b>لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ</b></p>
<p><i>“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Maha melihat.” </i><b>(QS. Asy-Syura [42]: 11)</b></p>
<p>Allah Ta’ala juga berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><b>رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا</b></p>
<p><i>“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”  </i><b>(QS. Maryam [19]: 65)</b></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Disempurnakan di malam hari, Rotterdam NL, 2 Jumadil awwal 1439/20 Januari 2018</p>
<p>Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,</p>
<p><b>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim">Muhammad Saifudin Hakim</a><br>
Artikel: <a href="http://muslim.or.id">Muslim.or.id</a></b></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><b>    </b>Lihat <b><i>Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, </i></b>hal. 43-44.</p>
<p><b>[2] </b><b>    </b><b><i>Syarh Al-Qowaa’idul Mutsla, </i></b>hal. 18-19.</p>
<p><b>[3] </b><b>    </b>Lihat <b><i>Sittu Duror min Ushuuli Ahlil Atsar, </i></b>hal. 28.</p>
 