
<p><i><span style="font-weight: 400;">Bismillah …</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menerangkan alasan orang-orang musyrik berbuat syirik. Ada dua alasan mereka :</span></p>
<p><b>Pertama,</b><span style="font-weight: 400;"> untuk mendekatkan diri kepada Allah</span></p>
<p><b>Kedua,</b><span style="font-weight: 400;"> untuk berharap syafa’at (penolong di hadapan Allah), dari Tuhan yang mereka sembah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil bahwa mereka menyembah selain Allah untuk alasan mendekatkan diri kepada Allah adalah firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” </span><b>(QS. Az-Zumar: 3)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil bahwa alasan mereka berbuat syirik karena mencari syafa’at adalah firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) (mendatangkan) manfaat.” </span><b>(QS. Yunus: 18)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Dikutip dari Qawaidul Arba’, kaidah kedua)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alasan mereka di atas, menunjukkan dua hal:</span></p>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">, tidak percaya diri berterus-terang telah melakukan syirik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lihatlah sikap mereka yang tidak percaya diri dan tidak mau berterus terang untuk menyebut diri mereka telah melakukan syirik atau musyrik. Sehingga mereka pun mencari berbagai macam dalih karena tidak ingin disebut dengan orang musyrik. Begitupula dengan orang kafir.</span></p>
<p><b>Contoh:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sempat viral di tanah air kita, adanya orang non-muslim yang tidak suka disebut dengan “kafir”. Padahal kenyataannya, status mereka memang demikian. Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa Islam adalah agama fitrah, buktinya mereka tidak suka dikatakan seperti itu. Dan hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak yakin dengan keyakinan mereka sendiri dan fitrah mereka mengingkari hal tersebut.</span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">, kelirunya beragama hanya berdasar pada anggapan baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka menganalogikan kekafiran yang mereka lakukan itu, seperti meminta sesuatu kepada makhluk. Kalau kita mau meminta kepada presiden, maka harus terlebih dahulu melalui perantara orang di bawahnya (sekretaris negara, misalnya) dan yang semisalnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini dibantah oleh firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Berdoalah kepada-Ku (langsung), niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” </span><b>(QS. Ghafir: 60)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesesatan ini muncul, karena beragama hanya berpijak pada anggapan baik. Sehingga setiap orang yang beragama hanya berdalil dengan anggapan baik, bukan ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka mereka telah menyerupai </span><i><span style="font-weight: 400;">(tasyabbuh)</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan orang-orang ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contohnya disebutkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhuma,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>كل بدعة ضلالة ؛ وإن رآها الناس حسنة</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Semua perkara baru dalam agama (bid’ah) itu sesat. Walau dipandang baik oleh orang-orang.” </span><b>(</b><b><i>Syarhul I’tiqod Ahlis Sunnah,</i></b><b> 3: 92)</b></p>
<p><b>Ketiga</b><span style="font-weight: 400;">, tidak mensyukuri nikmat akal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka menyembah sesuatu yang sama sekali tak mampu mendatangkan manfaat dan menolak bahaya untuk mereka. Coba kita renungkan, orang yang menyembah patung. Patung tersebut tidak mampu melakukan apapun. Dicubit, ditendang, dia tidak dapat membalas. Bahkan ketika dihinggapi lalat, sekedar mengusir dengan satu sapuan tangan pun, dia diam tidak mampu. Contoh lainnya, ada yang menyembah binatang. Padahal dirinya sendiri jika disebut binatang, marah. Padahal binatang adalah tuhannya. Ada yang menyembah sapi. Padahal kita tahu, rendang sapi itu nikmat sekali. Masak tuhan bisa direndang dan tidak membalas?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena memang tidak akan sah kesyirikan seseorang, sampai ia mengorbankan akal sehatnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karenanya, sering kali ketika Allah Ta’ala menawarkan tauhid, selalu Allah kaitkan dengan akal sehat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَفَلَا تَعْقِلُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidakkah kalian berfikir?” </span><b>(QS. Ali ‘Imran 65, Al-An’am: 32, Al-A’raf: 169, dll)</b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an?!” </span><b>(QS. An-Nisa: 82)</b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” </span><b>(QS. Al-An’am: 50)</b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّام ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۖ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ إِذۡنِهِۦۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Tuhan kamu Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. </span><b>Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”</b><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i><b>(QS. Yunus: 3)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah sampai ajak kita berfikir, untuk menyadari sesatnya kesyirikan dengan analogi yang sangat sederhana dan mudah dipahami. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَل فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥٓۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخۡلُقُواْ ذُبَابا وَلَوِ ٱجۡتَمَعُواْ لَهُۥۖ وَإِن يَسۡلُبۡهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيۡـٔا لَّا يَسۡتَنقِذُوهُ مِنۡهُۚ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلۡمَطۡلُوبُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah.” </span><b>(QS. Al-Haj: 73)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam bis showab.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51862-marah-ketika-melihat-kesyirikan-1.html" data-darkreader-inline-color="">Hati Siapakah yang Marah ketika Melihat Kesyirikan?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/34761-berdoa-kepada-mayit-adalah-kesyirikan.html" data-darkreader-inline-color="">Berdoa Kepada Mayit Adalah Kesyirikan</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/aanshori" data-darkreader-inline-color="">Ahmad Anshori</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><b>Referensi</b><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Matan Qawaidul Arba’ </span><a href="https://eur05.safelinks.protection.outlook.com/?url=https%3A%2F%2Fmuslim.or.id%2F26784-matan-terjemah-al-qowaidul-arba.html&amp;data=02%7C01%7C%7C56361d1452a44e0ef8d208d7c16d8b29%7C84df9e7fe9f640afb435aaaaaaaaaaaa%7C1%7C0%7C637190548530417801&amp;sdata=aDCGt6lP7erAShbTdMv7nowGHgqNICYctELzN4TfabY%3D&amp;reserved=0"><span style="font-weight: 400;">https://muslim.or.id/26784-matan-terjemah-al-qowaidul-arba.html</span></a><span style="font-weight: 400;">, karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">– Syarhul I’tiqod Ahlis Sunnah, karya Imam Abul Qosim Al-Lalikai, tahqiq : Ahmad Mas’ud Hamdan.</span></p>
<p> </p>
 