
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/01/Buletin-DS-Edisi-46.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2018/01/Buletin-DS-Edisi-46.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
<p>Yuk mengejar shaf pertama.</p>
<h4 style="text-align: center;">Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Al-Fadhail, Bab 194. Keutamaan Shaf Pertama dan Perintah untuk Menyempurnakan Shaf Pertama, Meluruskan, dan Merapatkannya</h4>
<h3 style="text-align: center;">Hadits #1082</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">عَنْ جَابِرٍ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فَقَالَ: (( أَلاَ تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ المَلائِكَةُ عِندَ رَبِّهَا ؟ )) فَقُلنَا : يَا رَسُولَ اللهِ ، وَكَيفَ تُصَفُّ المَلائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا ؟ قَالَ : (( يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الأُوَّلَ ، وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .</p>
<p style="text-align: center;">Dari Jabir bin Samurah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> keluar kepada kami, lalu berkata, ‘<em>Maukah kalian bershaf seperti bershafnya para malaikat di hadapan Rabb-Nya?</em>’ Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah malaikat bershaf di hadapan Rabb-Nya?’ Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, ‘<em>Mereka menyempurnakan shaf pertama dan saling merapatkan shafnya</em>.’” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 430]
</p>
<p> </p>
<h4>Faedah hadits:</h4>
<ol>
<li>Malaikat itu berbaris bershaf di hadapan Allah, mereka pun merapatkan shafnya, tidak ada celah antara mereka di dalam shaf.</li>
<li>Lurus dan rapatnya shaf menunjukkan umat Islam itu satu. Juga hal itu menunjukkan bahwa umat Islam diperintahkan berada dalam satu diin, satu imam dan satu akidah.</li>
<li>Seorang muslim diperintahkan untuk tasyabbuh dengan malaikat yaitu menyerupai perbuatan baik malaikat karena malaikat itu selamat dari kesalahan (<em>ma’shum</em>). Sedangkan menyerupai (<em>tasyabbuh</em>) dengan yang <em>ma’shum</em> menunjukkan akan serupanya amal secara sempurna.</li>
</ol>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Hadits #1083</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلاَّ أنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .</p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Seandainya orang-orang mengetahui pahala azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya melainkan dengan cara mengadakan undian, pasti mereka melakukannya.</em>” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>) [HR. Bukhari, no. 615 dan Muslim, no. 437]
</p>
<p> </p>
<h4>Faedah hadits:</h4>
<ol>
<li>Hadits ini menunjukkan keutamaan azan dan shaf pertama.</li>
<li>Boleh berundi dalam perkara yang mulia.</li>
</ol>
<p> </p>
<h3>Berlomba dalam Kebaikan</h3>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا</p>
<p>“<em>Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan</em>.” (QS. Al-Ma’idah: 48)</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ</p>
<p>“<em>Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa</em>.” (QS. Ali Imran: 133)</p>
<p> </p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِذا رأَيْتَ الرَّجُلَ يُنَافِسُكَ فِي الدُّنْيَا فَنَافِسْهُ فِي الآخِرَةِ</p>
<p>“Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.”</p>
<p> </p>
<p>Wahib bin Al-Warid mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ لاَ يَسْبِقَكَ إِلَى اللهِ أَحَدٌ فَافْعَلْ</p>
<p>“Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridho Allah, lakukanlah.”</p>
<p> </p>
<p>Sebagian salaf lagi mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لَوْ أَنَّ رَجُلاً سَمِعَ بِأَحَدٍ أَطْوَعُ للهِ مِنْهُ كَانَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَحْزَنَهُ ذَلِكَ</p>
<p>“Seandainya seseorang mendengar ada orang lain yang lebih taat pada Allah dari dirinya, sudah selayaknya dia sedih karena dia telah diungguli dalam perkara ketaatan.” Lihat perkataan-perkataan ini dalam <em>Lathaif Al-Ma’arif</em>, hlm. 428.</p>
<p> </p>
<h3>Dalam Urusan Dunia, Dahulukan yang Lain</h3>
<p>Di antara hak terhadap sesama yang dianjurkan adalah mendahulukan sahabatnya dalam segala keperluan dunia (baca: itsar) dan perbuatan ini dianjurkan (disunnahkan).</p>
<p>Contohnya dapat dilihat pada orang Muhajirin dan Anshar dalam ayat,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ</p>
<p>“<em>Dan mereka (kaum Anshar) mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekali pun mereka dalam kesusahan</em>.” (QS. Al-Hasyr: 9). Yang dimaksudkan ayat ini adalah ia mendahulukan mereka yang butuh dari kebutuhannya sendiri padahal dirinya juga sebenarnya butuh. Lihat <em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>, 7:229.</p>
<p>Dalam masalah dunia, kita bisa mendahulukan orang lain, itu memang yang lebih baik. Karena dalam masalah dunia, kita harus memperhatikan orang di bawah kita agar kita bise mensyukuri nikmat Allah.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِى الْمَالِ وَالْخَلْقِ ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ</p>
<p>“<em>Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan penampilan, maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya</em>.” (HR. Bukhari, no. 6490 dan Muslim, no. 2963)</p>
<p><em>Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.</em></p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi</strong>:</p>
<ol>
<li>
<em>Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin</em>. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</li>
<li>
<em>Latha’if Al-Ma’arif</em>. Cetakan pertama, Tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami.</li>
<li>
<em>Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim</em>. Cetakan pertama, Tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</li>
</ol>
<p>—</p>
<p>Materi kajian Malam Kamis <a href="http://darushsholihin.com/">@ Darush Sholihin</a>, diselesaikan pada 30 Rabi’uts Tsani 1439 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
 