
<p align="JUSTIFY">Allah <i>ta’ala</i> telah mengabarkan kepada manusia akan keberadaan malaikat. Bahkan Allah jadikan keimanan kepada malaikat sebagai salah satu rukun iman, yang tanpanya iman seseorang tidak akan diterima. Di sinilah menjadi penting bagi setiap muslim untuk mengenal malaikat. Dengan mengenal mereka kita akan lebih mengetahui kebesaran Allah yang memiliki tentara-tentara seperti malaikat. Dengan mengenal malaikat pula, kita akan merasakan kasih sayang Allah yang telah melindungi kita dengan mengutus para malaikat untuk menjaga kita, mencatat amal amal kita, membisiki kita untuk berbuat baik dan lain sebagainya. Juga dengan mengenal malaikat kita akan mencintai mereka, sebagai hamba Allah yang selalu taat kepada Nya.</p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Definisi malaikat</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY">Malaikat adalah jamak dari kata <i>Malak</i>, yang secara bahasa bermakna <i>Mursil</i> ; utusan.<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a> Mereka adalah makhluk ghoib yang Allah yang ciptakan dari cahaya, tidak memiliki sifat ketuhanan<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a>, selalu taat kepada perintah Allah dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah.<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Rosulullah <i>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam</i> bersabda, “<i>Malaikat diciptakan dari cahaya arsy, dan jin diciptakan dari nyala api, dan adam dari apa yang sudah diceritakan kepada kalian</i>”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Jumlah malaikat sangat banyak, tidak ada yang mengetahui selain Allah <i>ta’ala</i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a>. Allah <i>ta’ala</i> berfirman, “<i>dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhan mu melainkan dia sendiri</i>” (Qs. Al Muddatsir: 31).</p>
<p align="JUSTIFY">Menunjukan kepada banyaknya jumlah malaikat, adalah apa yang dikatakan jibril <i>Alaihi Salam</i> ketika ditanya oleh Rosulullah <i>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam</i> (dalam peristiwa isro) tentang baitul ma’mur<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote6sym" name="sdfootnote6anc"><sup>6</sup></a>, “<i>Ini adalah baitul Ma’mur sholat didalamnya tiap hari tujuh puluh ribu malaikat, tidak kembali lagi malaikat terakhir dari mereka</i>”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote7sym" name="sdfootnote7anc"><sup>7</sup></a>. Maksudnya tujuh puluh ribu malaikat yang sholat setiap hari berbeda beda.</p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Apakah malaikat berjasad?</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY">Nash-nash yang ada menunjukan bahwa malaikat memiliki jasad<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote8sym" name="sdfootnote8anc"><sup>8</sup></a>. Bahkan jasad mereka sangat besar, meskipun berbeda beda. Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menceritakan bagaimana besarnya malaikat pemikul Arsy, “<i>aku diizinkan untuk menceritakan salah satu malaikat Allah, yaitu malaikat pemikul Arsy, sesungguhnya antara cuping telinga dan pundaknya sejauh perjalanan tujuh ratus tahun</i>”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote9sym" name="sdfootnote9anc"><sup>9</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Mereka juga memiliki sayap. Meskipun berbeda beda jumlah sayapnya. Di antara mereka ada yang memiliki dua sayap, tiga atau empat sayap, bahkan ada yang memiliki enam ratus sayap sebagaimana malaikat Jibril. Allah <i>ta’ala</i> berfirman, “<i>Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat…”</i> (Qs. Fathir: 1).</p>
<p align="JUSTIFY">Mengenai malaikat jibril, Rosulullah <i>Shallallahu ‘Alaihi Wasallam</i> pernah melihat dalam bentuk aslinya selama dua kali. Yang pertama ketika di <i>abthah</i>,<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote10sym" name="sdfootnote10anc"><sup>10</sup></a> Rosulullah melihat Jibril menampakan dirinya dalam bentuk aslinya, dengan enam ratus sayap yang menutupi ufuk. Yang kedua adalah ketika Rosulullah <i>Shallallahu ‘alaihi Wasallam</i> dinaikan ke langit pada malam Mi’roj<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote11sym" name="sdfootnote11anc"><sup>11</sup></a>. Allah berfirman, “<i>Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha</i>” (Qs. An Najm 13-14) Adapun selebihnya, Malaikat Jibril lebih sering datang dalam bentuk seorang sahabat bernama Dihyatul Kalbii<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote12sym" name="sdfootnote12anc"><sup>12</sup></a>, atau terkadang dalam bentuk seorang laki laki asing yang tidak dikenal.<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote13sym" name="sdfootnote13anc"><sup>13</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Malaikat juga memiliki akal tapi tidak memiliki hawa nafsu sebagaimana manusia<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote14sym" name="sdfootnote14anc"><sup>14</sup></a>. Karena jika tidak memiliki akal, tidak mungkin Allah memuji mereka dengan menyebutkan sifat mereka, “<i>tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan</i>” (Qs. At Tahrim : 6)</p>
<p align="JUSTIFY">Namun meskipun malaikat memiliki jasad, mereka tidak membutuhkan makan dan minum sebagaimana manusia<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote15sym" name="sdfootnote15anc"><sup>15</sup></a>. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Nabi Ibrohim yang didatangi oleh malaikat yang menyerupai manusia. ketika dihidangkan makanan kepada mereka, mereka tidak mau menyentuhnya.<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote16sym" name="sdfootnote16anc"><sup>16</sup></a></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Keyakinan kaum musyrikin tentang malaikat</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY">Orang Yahudi<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote17sym" name="sdfootnote17anc"><sup>17</sup></a> menisbatkan Uzair<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote18sym" name="sdfootnote18anc"><sup>18</sup></a> sebagai anak Allah. Orang Nashroni juga menisbatkan Al Masih (Nabi Isa) sebagai anak Allah. Dan orang Musyrik tidak kalah dalam hal ini. Mereka menisbatkan malaikat sebagai anak anak Allah! Bahkan lebih dari itu, mereka mengatakan bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote19sym" name="sdfootnote19anc"><sup>19</sup></a> Allah<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote20sym" name="sdfootnote20anc"><sup>20</sup></a>. Maha Suci Allah atas apa yang mereka tuduhkan. Allah pun mengingkari pernyataan orang musyrik bahwa malaikat berjenis kelamin wanita. Allah <i>ta’ala</i> berfirman, “<i>Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.</i><b>” </b>(Qs. Az Zukhruf : 19).</p>
<p align="JUSTIFY">Allah mengingkari tuduhan bahwa malaikat adalah anak-anak Allah, “<i>Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan </i>(Qs. Al Anbiya : 26).</p>
<p align="JUSTIFY">Serta bagaimana mereka bangga jika memiliki anak laki laki dan malu jika memiliki anak perempuan, namun kemudian menisbatkan anak perempuan untuk Allah?<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote21sym" name="sdfootnote21anc"><sup>21</sup></a> Tentu ini sesuatu yang tidak adil. Allah berfirman, <i>“Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.” </i>(Qs. An Najm : 21-22).</p>
<p align="JUSTIFY"><b>Mana yang lebih mulia antara malaikat dan orang soleh?</b></p>
<p align="JUSTIFY"><a name="h.gjdgxs"></a> Masalah ini telah diperselisihkan oleh para ulama dahulu.<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote22sym" name="sdfootnote22anc"><sup>22</sup></a> Akan tetapi yang benar adalah -sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <i>Rahimahullah</i>, “bahwa orang soleh lebih utama jika telah masuk ke dalam syurga. Karena mereka berada dekat dengan sang Pencipta, bersenang-senang di dalam surga, dimuliakan oleh Allah dengan rahmat Nya, bahkan bisa melihat wajah Allah ta’ala. Sementara malaikat ketika itu –dengan izin Allah- menjadi pelayan manusia.</p>
<p align="JUSTIFY">Adapun sekarang –di kehidupan dunia- malaikat lebih utama dari manusia soleh, karena keberadaannya di atas langit, dekat dengan sang pencipta, sibuk beribadah kepada Allah, suci dari dosa yang dilakukan oleh manusia di muka bumi.”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote23sym" name="sdfootnote23anc"><sup>23</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Bersambung insya Allah….</p>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<h5 align="JUSTIFY">Catatan kaki</h5>
<div id="sdfootnote1">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a><span style="font-size: xx-small;"> Muhammad bin Solih Utsaimin, Syarhul Akidah Al Wasathiyah, Hal 45, Muhammad bin Ibrohim Al Hamd, Rosaail Fil Akidah hal. 268</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a><span style="font-size: xx-small;"> Karena yang memiliki sifat ketuhanan hanyalah Allah </span><span style="font-size: xx-small;"><i>ta’ala</i></span><span style="font-size: xx-small;">. Adapun malaikat adalah hamba Allah juga yang tidak selayaknya disembah.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a><span style="font-size: xx-small;"> Muhammad bin Ibrohim Al Hamd, Hal. 268</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a><span style="font-family: Calibri;"> HR Muslim No. 2966</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a><span style="font-size: xx-small;"> Muhammad Sholih Utsaimin Hal. 48</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote6anc" name="sdfootnote6sym">6</a><span style="font-size: xx-small;"> Yaitu sebuah tempat ibadah penduduk langit (malaikat) yang berada diatas langit ketujuh. Sebagaimana di bumi memiliki ka’bah sebagai tempat ibadah, maka disetiap langit pun memiliki tempat ibadah. Tempat ibadah di langit pertama bernama baitul Izzah. (Lihat: Qs. At Thur : 4 dan tafsirnya, tafsir Ibnu Katsir)</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote7anc" name="sdfootnote7sym">7</a><span style="font-size: xx-small;"> HR. Bukhori No. 3207</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote8anc" name="sdfootnote8sym">8</a><span style="font-size: xx-small;"> Muhammad bin Ibrohim Al Hamd, hal. 270 dan Muhammad Sholih Utsaimin hal. 49 </span></p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote9anc" name="sdfootnote9sym">9</a><span style="font-size: xx-small;"> Sohih Sunan Abu Dawud No. 9353</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote10anc" name="sdfootnote10sym">10</a><span style="font-size: xx-small;"> Suatu tempat di antara mekah dan mina, lebih dekat ke mina.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote11anc" name="sdfootnote11sym">11</a><span style="font-size: xx-small;"> Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (2/107) dengan sanad yang sohih</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote12anc" name="sdfootnote12sym">12</a><span style="font-size: xx-small;"> Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (2/107) dengan sanad yang sohih</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote13anc" name="sdfootnote13sym">13</a><span style="font-size: xx-small;"> Hafidz Al Hakimi, hal. 810</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote14anc" name="sdfootnote14sym">14</a><span style="font-size: xx-small;"> Ibn Abil Izz hal. 173 </span></p>
</div>
<div id="sdfootnote15">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote15anc" name="sdfootnote15sym">15</a><span style="font-size: xx-small;"> Dr. Sulaiman Al Asyqor, ‘Alamul Malaikat, hal. 18</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote16">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote16anc" name="sdfootnote16sym">16</a><span style="font-size: xx-small;"> Lihat kisah ini dalam Qs. Ad Dzariyat : 24-28 dan tafsirnya dalam tafsir Ibnu Katsir.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote17">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote17anc" name="sdfootnote17sym">17</a><span style="font-size: xx-small;"> Pandangan ini bukan pandangan seluruh bangsa yahudi tapi merupakan pandangan sebagian kecil bangsa yahudi (Lihat tafsir As Sa’di Qs At Taubah. 30 )</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote18">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote18anc" name="sdfootnote18sym">18</a><span style="font-size: xx-small;"> Uzair adalah nama salah seorang ulama bani Isroil. Dikisahkan bahwa ketika kerajaan kerajaan ketika itu telah menguasai dan memecah belah bangsa bani isroil dan membunuh para ulama bani isroil yang menghafal taurot, mereka mendapatkan uzair masih hidup dan menghafal taurot atau sebagiannya. Maka kemudian mendiktekan kembali kepada mereka taurot, maka mereka pun mengatakan bahwa Uzair anak Allah. (lihat Qs. At Taubah : 30 dan tafsirnya; Tafsir Ibnu Katsir dan Tafir As Sa’di)</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote19">
<p><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote19anc" name="sdfootnote19sym">19</a><span style="font-size: xx-small;"> Malaikat tidaklah disifati dengan laki laki atau perempuan. Karena keberadaan mereka berbeda dengan manusia, jin maupun hewan hewan. (lihat Dr. Sulaiman Al Asyqor, hal. 16</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote20">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote20anc" name="sdfootnote20sym">20</a><span style="font-size: xx-small;"> Lihat Tafsir As Sa’di; tafsir Qs. Al Anbiya : 26</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote21">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote21anc" name="sdfootnote21sym">21</a><span style="font-size: xx-small;"> Ibnu Abbas dan Qotadah berkata –mengomentari ayat ini-, “yaitu pembagian yang buruk ketika kalian (orang musyrik menisbatkan kepada Allah hal yang kalian benci jika dinisbatkan kepada kalian sendiri” (Lihat Tafsir ayat ini dalam tafsir Al Baghowi)</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote22">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote22anc" name="sdfootnote22sym">22</a><span style="font-size: xx-small;"> Ibn Abil Izz dalam Syarhul Aqidah At Tohawiyah (171-176) sebelum dan setalah menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah ini serta dalil setiap kelompok mengatakan bahwa masalah ini termasuk masalah yang tidak perlu dibahas, karena tidak mengandung manfaat.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote23">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote23anc" name="sdfootnote23sym">23</a><span style="font-size: xx-small;"> Majmu Fatawa 4/372</span></p>
<p align="JUSTIFY">—</p>
<p align="JUSTIFY">Penulis: Abdullah Hazim</p>
<p align="JUSTIFY">Artikel Muslim.Or.Id</p>
</div>
 