
<p>Ada pula sebagian orang yang beralasan ketika diberikan sanggahan terhadap bid’ah yang dia lakukan, “<em>Menurut saya, segala sesuatu itu kembali pada niatnya masing-masing</em>”.</p>
<p>  <!--more-->  </p>
<p>Kami katakan bahwa amalan itu bisa diterima tidak hanya dengan niat yang ikhlas, namun juga harus sesuai dengan tuntunan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hal ini telah kami jelaskan pada pembahasan awal di atas. Jadi, syarat diterimanya amal itu ada dua yaitu [1] niatnya harus ikhlas dan [2] harus sesuai dengan tuntunan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Oleh karena itu, amal seseorang tidak akan diterima tatkala dia melaksanakan shalat <strong>shubuh empat raka’at</strong> walaupun niatnya betul-betul ikhlas dan ingin mengharapkan ganjaran melimpah dari Allah dengan banyaknya rukuk dan sujud. Di samping ikhlas, dia harus melakukan shalat sesuai dengan tuntunan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Allah,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا</span></p>
<p>“<em>Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya</em>.” (QS. Al Mulk [67] : 2), beliau mengatakan, “yaitu <strong>amalan yang paling ikhlas dan <em>showab</em></strong> (mencocoki tuntunan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>).”</p>
<p>Lalu Al Fudhail berkata,  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.” (<em>Jami’ul Ulum wal Hikam</em>, hal. 19)</p>
<p>Sekelompok orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, mereka beralasan di hadapan Ibnu Mas’ud,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. </span></p>
<p>”<em>Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.</em>” Lihatlah orang-orang ini berniat baik, namun cara mereka beribadah tidak sesuai sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Ibnu Mas’ud menyanggah perkataan mereka sembari berkata,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ</span></p>
<p>“<em>Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya</em>.” (HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini <em>jayid</em>)</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong> : Tidak cukup seseorang melakukan ibadah dengan dasar karena niat baik, tetapi dia juga harus melakukan ibadah dengan mencocoki ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sehingga kaedah yang benar “<em>Niat baik semata belum cukup</em>.”</p>
<p>Kami harap pula para pembaca dapat mengetahui dalil-dalil tentang pembahasan ini secara lebih lengkap dalam tulisan kami yang lainnya <a target="_blank" title="Dua Syarat Diterimanya Ibadah" href="belajar-islam/jalan-kebenaran/2899-dua-syarat-diterimanya-ibadah.html"><strong>di sini</strong></a>.</p>
<p> </p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a target="_blank" href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a>, dipublish ulang oleh <a target="_blank" href="undefined/">https://rumaysho.com</a></p>
<p>Selesai disusun di rumah tercinta, Desa Pangukan, Sleman</p>
<p>Saat Allah memberi nikmat hujan di siang hari, Kamis, 9 Syawal 1429 (bertepatan dengan 9 Oktober 2008)</p>
 