
<p>Di tulisan <a href="https://pengusahamuslim.com/mengenal-hujan-bagian-1376">pertama</a> tempo hari kami jelaskan tentang 3 fungsi hujan. Kita akan lanjutkan beberapa fungsi hujan yang di anugerahkan Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> kepada kita. Diantara fungsinya adalah sebagai ilustrasi nyata tentang metode turunnya rezeki Anda:</p>
<p><strong>Fungsi Keempat: Ilustrasi Nyata Tentang Metode Turunnya Rezeki Anda</strong></p>
<p>Dan diantara hikmah yang dapat Anda petik dari siklus hujan, seperti  yang telah Anda pelajari, adalah sebagai ilustrasi nyata bahwa Allah  menurunkan rezeki-Nya kepada Anda sedikit demi sedikit. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> melakukan ini semua bukan karena Dia pelit atau kawatir kehabisan stok  rezeki, namun sepenuhnya demi menjaga kemaslahatan Anda. Andai Allah <em>Ta’ala</em> meurunkan rezeki-Nya kepada Anda sekonyong-konyong bagaikan turunnya  air terjun, niscaya Anda celaka dan binasa. Sebagaimana Anda pasti  binasa bila Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menurunkan air hujan bagai turunnnya air terjun. Karenanya nikmatilah hidup Anda, karena sejatinya Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah menyiapkan rezeki yang cukup untuk Anda.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengisyaratkan hal ini melalui firman-Nya,</p>
<p class="arab">وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ  وَلَكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاء إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ  بَصِيرٌ {27} وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا  وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ – الشورى: 27-28</p>
<p><em>“ </em><em>Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada  hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi,  tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran.  Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha  Melihat.</em><em> </em><em>Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah  mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha  Pelindung lagi Maha Terpuji.</em><em>” </em> (QS. As Syuura 27-28)</p>
<p>Cermatilah saudarakku, setelah Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menjelaskan bahwa Allah menurunkan rezekinya secara bertahap, Allah <em>Ta’ala</em> menyebut hujan sebagai bukti dan sekaligus ilustrasi nyata tentang turunnya rezeki. Karena Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> Maha Mengetahui lagi Maha Melihat kondisi hamba-hamba-Nya, maka Allah  menurunkan hujan dan demikian pula rezekinya secara bertahap, agar  manusia tidak celaka.</p>
<p>Bagaimana rasanya bila Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> turunkan hujan bagaikan air terun? Atau Allah menyatukan jatah hujan untuk satu bulan  lalu diturunkan pada satu hari saja?</p>
<p>Demikian pula halnya dengan jatah rezeki Anda. Anda pasti akan ditimpa celaka bila Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menurunkan rezekinya tidak tepat waktu. Anda pasti kesusahan bila Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menurunkan seluruh jatah rezeki Anda sekali seumur hidup. Bila hal itu  terjadi, pasti  Anda kesusahan mencari almari guna menyimpan jatah baju,  dan bingung mencari lumbung guna menyimpan jatah beras, dan kesulitan  membangun waduk guna menampung jatah air Anda.</p>
<p>Menyadari akan hal ini, Rasulullah e berpesan kepada umatnya dengan bersabda:</p>
<p class="arab">لا تستبطئوا الرزق ، فإنه لن يموت العبد حتى يبلغه آخر رزق هو له، فأجملوا  في الطلب: أخذ الحلال، وترك الحرام )رواه ابن ماجة وعبد الرزاق والحاكم،  وصححه الألباني</p>
<p><em>“Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu telat datangnya, karena  sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia mengenyam  rezeki terakhirnya. Tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki,  yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.” (</em>Riwayat  Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, serta dishahihkan oleh Al Albani)</p>
<p><strong>Fungsi Kelima: Hujan Adalah Tentara Allah</strong></p>
<p>Akhir-akhir ini berbagai penjuru negeri kita sering dilanda bencana  dan petaka. Salah satu penyebab datangnya bencana ialah air hujan.  Fenomena yang sering terjadi di depan mata kita ini adalah bukti nyata  bahwa hujan yang sedia kala adalah wujud dari rahmat Allah, namun bisa  saja berubah menjadi tentara Allah yang membinasakan orang-orang yang  durhaka kepada-Nya. Dengan demikian, hujan bagaikan pisau bermata dua,  bisa menguntungkan dan bisa mencelakakan.</p>
<p>Di antara bukti sejarah akan fungsi hujan yang kelima ini ialah kisah Nabi Nuh <em>‘alaihissalam. </em> Bagaimana dengan hujan yang turun dari langit, Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> membalas keangkuhan kaum nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> .</p>
<p class="arab">فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاء بِمَاء مُّنْهَمِرٍ  {11} وَفَجَّرْنَا  الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاء عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ – القمر:  11-12</p>
<p><em>“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air  yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka  bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” </em> (QS. Al Qamar: 11-12)</p>
<p>Dan seperti yang Anda saksikan dan mungkin juga pernah rasakan, bila hujan telah berubah menjadi tentara Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em>, maka tidak ada kekuatan yang dapat membendungnya.</p>
<p class="arab">وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا  وَلاَ تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ {42} قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ  يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاء قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ  إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ  الْمُغْرَقِينَ</p>
<p><em>“</em><em>Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di  tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami  dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.</em><em> </em><em>Anaknya  menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat  memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari  ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan  gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu  termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.</em><em>” </em> (QS. Hud: 42-43)</p>
<p>Memahami fungsi hujan yang bagaikan pisau bermata dua, dahulu Nabi e  bila menyaksikan mendung beliau begitu kawatir dan berdoa kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan berkata,</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا</p>
<p><em>“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan mendung ini.”</em></p>
<p>dan bila hujan telah turun beliau berdoa,</p>
<p class="arab">اللهُم صَيباً نَافعاً</p>
<p><em>“Ya Allah jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.”</em> (HR. Bukhari, Abu Daud, dan lainnya.</p>
<p>Saudaraku, fenomena yang sekarang terjadi di negeri kita sudah  sepantasnya mengetuk pintu hati kita. Betapa negeri kita yang dahulu <em>gemah ripah loh jinawi</em> namun sekarang semua seakan tinggal kenangan. Di musim kemarau,  sawah-sawah puso dan banyak dari saudara kita yang kekeringan sehingga  kesulitan mendapatkan air, walau hanya sekedar untuk minum. Namun di  musim hujan kondisi ternyata tidak berubah, sawah-sawah tetap saja  banyak yang puso dan banyak dari saudara kita yang menderita, bukan  karena kekeringan namun karena kebanjiran, tanah longsor atau lainnya.</p>
<p>Mungkinkah ini sebagai bukti nyata bahwa air hujan yang sedianya  membawa keberkahan, kini tidak lagi membawanya, namun sebaliknya membawa  murka Allah <em>Azza wa Jalla</em>. Tentu semua ini terjadi karena ulah tangan kita, kekufuran, kemunafikan, dan kemaksiatan yang kian hari semakin meraja lela.</p>
<p class="arab">ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي  النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ</p>
<p><em>“</em><em>Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan  karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka  sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan  yang benar).</em><em>” </em> (QS. Ar Ruum: 41)</p>
<p>Saat ini, kita sebagai penduduk dunia tengah merasakan dampak dari  ulah tangan kita sendiri, kekeringan, banjir, dan tanah longsor, terjadi  di mana-mana. Walau demikian, kita tidak segera menyadari kesalahan,  dan bahkan terus mencari kambing hitam atas petaka yang menghimpit.  Bukannya mengakui bahwa kerusakan iman, akhlak, dan mentalitas kita  adalah biang segalanya. Namun kita malah mengkambing hitamkan alam,  sehingga dengan hati yang dingin kita berkata, “Pemanasan global atau  ungkapan serupa.”</p>
<p>Keserakahan telah mendorong kita untuk bersikap membabi buta,  menghalalkan segala macam cara dan memanfaatkan kekayaan alam dengan  cara-cara yang tidak bertanggung jawab. Keserakahan ini terjadi karena  adanya kepanikan dalam urusan rezeki. Kita menduga bahwa bila tidak  membabi buta maka tidak mungkin bisa menikmati kekayaan, atau akan  digilas oleh roda kehidupan yang terus berputar.</p>
<p>Andai kita dapat menangkap berbagai pelajaran yang telah Allah <em>Ta’ala</em> sisipkan pada berbagai kejadian di sekitar kita niscaya petaka tidak  akan mengimpit kehidupan kita. Rezeki Anda hanya Anda yang dapat  menikmatinya, dan tidak mungkin ada kekuatan yang dapat merampasnya dari  mulut Anda. Sebagaimana Anda pun tidak akan kuasa merampas rezeki  saudara Anda, atau mendatangkan rezeki yang bukan milik Anda.</p>
<p>Kerakusan yang telah menyelimuti jiwa kita ini bukannya menyegerakan  datangnya rezeki atau melipatgandakannya. Namun keserakahan jiwa malah  menjadi awal dari datangnya bencana dan petaka.</p>
<p class="arab">إن هذا المال خضرة حلوة، فمن أخذه بسخاوة نفس، بورك له فيه، ومن أخذه بإشراف نفس لم يبارك له فيه، وكالذي يأكل ولا يشبع )متفق عليه</p>
<p><em>“Sesungguhnya harta ini bak bauh yang segar lagi manis.  Barangsiapa yang mengambilnya dengan tanpa ambisi (tanpa serakah atau  atas kerelaan pemiliknya), niscaya hartanya tersebut diberkahi. Dan  barang siapa yang mengambilnya dengan penuh rasa ambisi (rakus), niscaya  hartanya tersebut tidak diberkahi, dan permisalannya bagaikan orang  yang makan namun tidak pernah merasa  kenyang..” </em>(Muttafaqun ‘alaih)</p>
 