
<p><strong>Fungsi Keenam: Hujan Sebagai Ilustrasi Nyata Tentang Fungsi Agama Allah</strong></p>
<p><img loading="lazy" src="https://i0.wp.com/www.sxc.hu/pic/m/v/vi/vinicius1/918861_forest_way.jpg?resize=390%2C255" alt="fungsi hujan" width="390" height="255" data-recalc-dims="1"></p>
<p>Saudaraku, coba Anda cermati berbagai tumbuhan yang tumbuh di sekitar  Anda berkat turunnya air hujan. Apakah semua tumbuhan tersebut  bermanfaat bagi Anda? Apakah semua tumbuhan itu menghasilkan buah atau  bijian yang dapat Anda nikmati?</p>
<p>Betapa banyak tumbuhan di sekitar Anda yang keberadaannya mengganggu  atau bahkan mengancam kehidupan Anda. Ada darinya tumbuhan yang berduri,  ada pula yang menghasilkan buah yang kecil, besar, manis, kecut, masam,  pahit, beracun, dan memabukkan.</p>
<p>Itu semua terjadi padahal air hujan yang menyirami dan menjadikannya  tumbuh dan akhirnya berbuah adalah sama. Namun dari air yang sama  ternyata terlahir hasil yang berbeda-beda. Pernahkah Anda bertanya,  mengapa semua itu bisa terjadi?</p>
<p>Saya yakin Anda mengetahui sebabnya:</p>
<ol>
<li>Asal usul biji yang berbeda</li>
<li>Kesuburan tanah</li>
<li>Dan perawatan serta faktor lingkungan lainnya</li>
</ol>
<p>Saudaraku, kejadian di atas terjadi dengan sengaja. Allah <em>Ta’ala</em> menciptakan semua itu agar menjadi cermin bagi umat manusia dalam perilaku dan akhlak mereka.</p>
<p>Bila air hujan yang merupakan sumber  kehidupan fisik makhluk hidup  termasuk manusia menghasilkan buah dan tumbuhan yang berbeda-beda, maka  Alquran demikian pula halnya. Alquran yang merupakan sumber kehidupan  jiwa juga menghasilkan buah dan tanaman yang beraneka ragam.</p>
<p>Dari umat manusia yang disirami dengan wahyu Allah, ada yang kemudian  beriman dan termotivasi untuk beramal sholeh. Dari mereka ada pula yang  karena mendapat siraman Alquran malah kufur dan menentang agama Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.  Dan dari mereka ada pula yang karena mendapat siraman Alquran, namun  karena jiwanya yang kurang bagus, dan lingkungannya yang tidak subur  tidak mampu menghasilkan banyak hal.</p>
<p>Fenomena hubungan antara agama yang berperan bagaikan hujan bagi jiwa  manusia ini telah dijelaskan oleh Rasulullah e dalam sabdanya,</p>
<p class="arab">إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى  وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ  طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ  وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا  النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً  مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ  كَلأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ بِمَا  بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ  بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ</p>
<p><em>“Gambaran hidayah dan ilmu yang dengannya Allah Azza wa Jalla  mengutusku, bagaikan air hujan, yang turun membasahi bumi. Dari bumi  yang dibasahi air hujan ada tanah yang subur, sehingga menyerap air dan  menumbuhkan tetumbuhan dan rerumputan yang banyak. Ada pula tanah yang  keras, namun mampu menahan air, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan  airnya, mereka minum darinya, menyirami tanamannya dan mencukupi hewan  ternaknya. Dan ada pula tanah lain yang tandus nan gersang, tidak dapat  menyimpan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuhan. Itulah gambaran orang  yang memahami agama Allah dan ia mendapatkan manfaat dari agama yang  aku diutus Allah denganya, sehingga ia berilmu, dan mengajarkannya. Dan  itu pula perumpamaan orang yang sombong tidak perduli dengan agama, dan  tidak pula menerima  petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.”</em> (Muttafaqun ‘alaih)<em> </em></p>
<p>Bila perbedaan asal-usul biji menghasilkan perbedaan buah, maka  demikian pula perbedaan karakter dasar dan sifat keturunan pada manusia.  Orang yang mewarisi karakter luhur, maka bila ia mendapat siraman wahyu  Allah, maka ia akan menjadi orang mukmin yang jempolan. Namun  sebaliknya, orang yang sejak lahir telah mewarisi karakter buruk, maka  walaupun telah disirami dengan wahyu Allah, maka ia tidak akan  menghasilkan kecuali yang buruk pula.</p>
<p class="arab">والناس معادن خيارهم في الجاهلية خيارهم في الإسلام إذا فقهوا</p>
<p><em>“Manusia bagaikan sumber tambang, sebaik-baik orang semasa  jahilliyah, maka biasanya setelah masuk islampun mereka menjadi orang  yang paling baik bila menguasai ilmu agama.”</em> (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Sebagaimana tumbuhan terpengaruh oleh kondisi sekitarnya, maka  demikian pula uamt manusia biasanya diwarnai oleh kondisi rumah tangga,  teman karib dan masyarakat sekitarnya. Karena itu Islam menganjurkan  agar Anda selektif dalam memilih tetangga, pergaulan dan pasangan hidup.</p>
<p class="arab">مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ</p>
<p><em>“Tidaklah ada anak yang terlahir ke dunia ini melainkan ia  terlahir dalam kondisi fitrah (muslim). Namun kemudian kedua orang  tuanyalah yang menjadikannya beragama yahudi, nasrani atau mausi.” </em>(Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Dan pada hadis lain, beliau bersabda,</p>
<p class="arab">مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ  الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ  تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ،  وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ  رِيحًا خَبِيثَةً</p>
<p><em>“Permisalan sahabat yang baik dan sahabat yang buruk bagaikan  pedagang minyak wangi dan pandai besi. Bersahabat dengan pedagang minyak  wangi, menguntungkan, karena ia akan memberimu, atau Anda dapat membeli  darinya dan paling kurang Anda mendapatkan darinya aroma harum  semerbak. Sedangkan sahabat seorang pandai besi, maka bisa jadi ia  membakar bajumu, atau paling kurang engkau mendapatkan bau yang tidak  sedap darinya.” </em> (Muttafaqun ‘alaih)</p>
<p>Fenomena ini, membuktikan kepada Anda betapa pentingnya Anda  membenahi diri Anda, agar mejadi orang yang berkarakter luhur dan  terbebas dari karakter buruk. Dengan demikian siraman rohani berupa  lantunan ayat-ayat Alquran, hadis-hadis Nabi e ayat-ayat Allah <em>Ta’ala</em> yang terjadi di alam semesta dapat menyuburkan keimanan dan ketakwaan Anda.</p>
<p><strong>Fungsi Ketujuh: Hujan Adalah Ilustrasi Nyata Tentang Proses Kebangkitan Manusia Pada Hari Kiamat</strong></p>
<p><img loading="lazy" title="kebangkitan manusia di hari kiamat" src="https://i0.wp.com/www.stockvault.net/data/s/125965.jpg?resize=357%2C238" alt="kebangkitan manusia di hari kiamat" width="357" height="238" data-recalc-dims="1"></p>
<p>Tidakkah Anda mencermati berbagai ayat yang  telah saya ketengahkan  ke hadapan Anda di atas? Berbagai ayat yang berbicara tentang hujan  senantiasa di akhiri dengan kata-kata “<em>Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati</em><em>.”</em> Misalnya pada ayat berikut,</p>
<p class="arab">وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ  حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ  فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ  كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْموْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ</p>
<p><em>“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira  sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah  membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami  turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu  pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan  orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”</em> (QS. Al A’araf: 57)</p>
<p>Tidakkah Anda amati, betapa biji-bijian yang semasa musim kemarau  telah tertanam dalam perut bumi. Sesaat setelah turun hujan, semua  bijian tersebut muncul ke muka bumi dan tumbuh subur. Demikian pula yang  akan Anda alami kelak pada hari kiamat. Sahabat Abu Hurairah  mengisahkan dari Nabi e,</p>
<p class="arab">ما بين النفختين أربعون قالوا يا أبا هريرة أربعون يوما ؟ قال أبيت قالوا  أربعون شهرا ؟ قال أبيت قالوا أربعون سنة ؟ قال أبيت ثم ينزل الله من  السماء ماء فينبتون كما ينبت البقل  قال وليس من الإنسان شيء إلا يبلى إلا  عظما واحدا وهو عجب الذنب ومنه يركب الخلق يوم القيامة</p>
<p><em>“Antara dua tiupan sangkakala berjarak selama empat puluh.”  Sepontan murid-murid Abu Hurairah bertanya, “Apakah yang dimaksud adalah  empat puluh hari?” Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak mau menjawab.”  Mereka pun kembali bertanya, “Apakah yang dimaksud adalah empat puluh  bulan?” Kembali sahabat Abu Hurairah menjawab, “Aku tidak mau menjawab.”  Karena ingin tahu, mereka pun kembali bertanya, “Apakah yang dimaksud  adalah empat puluh tahun?” Kembali Abu Hurairah berkata, “Aku tidak mau  menjawab. Selanjutnya Allah menurunkan hujan dari langit, sehingga  mannusia akan tumbuh bagaikan rerumputan tumbuh ketika terkena air  hujan. Tidaklah ada organ manusia kecuali akan hancur lebur, kecuali  satu tulang saja, yaitu pangkal tulang ekornya. Dariyalah kelak pada  hari qiyamat seluruh manusia akan dihidupkan kembali.”</em> (Muttafaqun alaih)</p>
<p>Dalam riwayat lain dinyatakan,</p>
<p class="arab">ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ مَاءً مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ يُمْنِي كَمَنِيِّ  الرَّجُلِ، فَتَنْبُتُ جُسْمَانُهُمْ، وَلُحْمَانُهُمْ مِنْ ذَلِكَ  الْمَاءِ ك</p>
<p><em>“Selanjutnya Allah menurunkan air dari bawah ‘Arsy yang memancar  bagaikan air mani kaum lelaki, sehingga tubuh dan daging manusia tumbuh  kembali berkat siraman air itu.” </em> (Riwayat Al Hakim dan lainnya)</p>
<p><strong>Penutup:</strong></p>
<p>Semoga tulisan ini menggugah iman Anda dan menjadi pelajaran berharga  dalam kehidupan Anda. Harapan saya, dengan memahami  berbagai fungsi  hujan ini, kita dapat mensyukurinya dengan baik, sehingga Allah  senantiasa melimpat gandakan nikmat-Nya.</p>
<p class="arab">وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ</p>
<p><em>“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya  jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan  jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat  pedih.”</em> (QS. Ibrahim: 7)</p>
<p>Dan semoga hujan yang kini telah banyak menjadi awal dari datangnya  petaka bagi bangsa kita, segera kembali seperti sedia kala, menjadi  hujan pembawa berkah seperti yang Allah gambarkan melalui lisan Nabi Nuh  <em>‘alaihissalam </em>berikut ini,</p>
<p>فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا {10}  يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَارًا {11} وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ  وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا</p>
<p><em>“Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,  sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan  hujan kepadamu dengan lebat, dan </em><em>m</em><em>embanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.</em><em>” </em> (QS. Nuh: 10-12)</p>
<p>Akhirul kalam, mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan, <em>wallahu a’alam bisshawab.</em></p>
<p><strong>Artikel <a>www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
 