
<p><strong>Keempat:</strong> Penegasan bahwa Allah akan menghapuskan dan  memusnahkan riba.</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata, “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia  akan memusnahkan riba, maksudnya bisa saja memusnahkannya secara  keseluruhan dari tangan pemiliknya atau menghalangi pemiliknya dari  keberkahan hartanya tersebut. Dengan demikian pemilik riba tidak  mendapatkan kemanfaatan harta ribanya, bahkan Allah akan membinasakannya  dengan harta tersebut dalam kehidupan dunia, dan kelak di hari akhirat  Allah akan menyiksanya akibat harta tersebut.” (<em>Tafsir Ibnu Katsir  1/328</em>).</p>
<p>Penafsiran Ibnu Katsir ini semakna dengan hadits berikut:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(إن الربا وإن كثر، عاقبته تصير إلى قل)  رواه أحمد الطبراني والحاكم  وحسنه الحافظ ابن حجر والألباني</p>
<p>“<em>Sesungguhnya (harta) riba, walaupun banyak jumlahnya, pada  akhirnya akan menjadi sedikit.” </em>(Riwayat Imam Ahmad, at-Thabrany,  al- Hakim dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dan al-Albany).</p>
<p>Bila kita mengamati kehidupan orang-orang yang menjalankan  praktik-praktik riba, niscaya kita dapatkan banyak bukti bagi kebenaran  ayat dan hadits di atas. Betapa banyak pemakan riba yang hartanya  berlimpah ruah, hingga tak terhitung jumlahnya, akan tetapi tidak  satupun dari mereka yang merasakan keberkahan dan kebahagiaan dari harta  haram tersebut.</p>
<p>Agar kita sedikit mengetahui betapa besar peranan keberkahan harta  dalam kehidupan seseorang, maka saya mengajak para pembaca untuk  merenungkan beberapa hadits berikut:</p>
<p><strong>Hadits Pertama:</strong></p>
<p>Ketika Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menceritakan tentang  berbagai kejadian yang mendahului kebangkitan hari Kiamat, beliau  bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(يقال للأرض: أنبتي ثمرتك وردي بركتك، فيومئذ تأكل العصابة من الرمانة،  ويستظلون بقحفها، ويبارك في الرِّسْلِ، حتى أن اللقحة من الإبل لتكفي  الفئام من الناس، واللقحة من البقر لتكفي القبيلة من الناس، واللقحة من  الغنم لتكفي الفخذ من الناس) رواه مسلم</p>
<p><em>“Akan diperintahkan (oleh Allah) kepada bumi: tumbuhkanlah  buah-buahanmu, dan kembalikan keberkahanmu, maka pada masa itu,  sekelompok orang akan merasa cukup (menjadi kenyang) dengan memakan satu  buah delima, dan mereka dapat berteduh di bawah kulitnya. Dan air susu  diberkahi, sampai-sampai sekali peras seekor onta dapat mencukupi banyak  orang, dan sekali peras susu seekor sapi dapat mencukupi manusia satu  kabilah, dan sekali peras susu seekor domba dapat mencukupi satu cabang  kabilah.” </em>(Riwayat Imam Muslim).</p>
<p>Demikianlah ketika keberkahan telah Allah turunkan, sehingga rezeki  yang sedikit jumlahnya akan tetapi manfaatannya amat banyak,  sampai-sampai satu buah delima dapat mengenyangkan segerombolan orang,  dan susu hasil perasan seekor sapi dapat mencukupi kebutuhan orang satu  kabilah.</p>
<p><strong>Hadits Kedua:</strong></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلّى الله عليه و سلّم:  قال(لولا بنو إسرائيل لم يخبث الطعام ولم يخنز اللحم). متفق عليه</p>
<p><em>Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia menuturkan dari  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasannya beliau bersabda,  “Seandainya kalau bukan karena ulah Bani Isra’il, niscaya makanan tidak  akan pernah basi dan daging tidak akan pernah membusuk.”</em> (HR.  Muttafaqun ‘alaih).</p>
<p>Para ulama menjelaskan, bahwa tatkala Bani Isra’il diberi rezeki oleh  Allah Ta’ala berupa burung-burung salwa (semacam burung puyuh) yang  datang dan dapat mereka tangkap dengan mudah setiap pagi hari, mereka  dilarang untuk menyimpan daging-daging burung tersebut. Setiap pagi  hari, mereka hanya dibenarkan untuk mengambil daging yang akan mereka  makan pada hari tersebut. Akan tetapi mereka melanggar perintah ini, dan  mengambil daging dalam jumlah yang melebihi kebutuhan mereka pada hari  tersebut, dan kemudian mereka simpan. Akibat perbuatan mereka ini, Allah  menghukumi mereka, sehingga daging-daging yang mereka simpan tersebut  menjadi busuk (<em>Ma’alim at-Tanzil,</em> oleh al-Baghawy 1/97, <em>Syarah  Shahih Muslim </em>oleh Imam an-Nawawi  10/59<em>, dan  Fathul Bari </em>oleh  Ibnu Hajar 6/411).</p>
<p><strong>Hadits Ketiga:</strong></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">عن حكيم بن حزام رضي الله عنه قال: سألت رسول الله صلّى الله عليه و  سلّم فأعطاني، ثم سألته فأعطاني، ثم سألته فأعطاني، ثم قال: يا حكيم، إن  هذا المال خضرة حلوة، فمن أخذه بسخاوة نفس، بورك له فيه، ومن أخذه بإشراف  نفس لم يبارك له فيه، وكالذي يأكل ولا يشبع. اليد العليا خير من اليد  السفلى، قال حكيم: فقلت يا رسول الله، والذي بعثك بالحق لا أرزأ أحدا بعدك  شيئا حتى أفارق الدنيا) متفق عليه</p>
<p><em>Dari sahabat Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu, ia mengisahkan,  “Pada suatu saat aku pernah meminta sesuatu kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliaupun memberiku, kemudian aku  kembali meminta kepadanya, dan beliau kembali memberiku, kemudian aku  kembali meminta kepadanya, dan beliaupun  kembali memberiku, kemudian  beliau bersabda, ‘Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini bak buah yang  segar lagi manis, dan barang siapa yang mengambilnya dengan tanpa ambisi  (tama’ atau atas kerelaan pemiliknya), maka akan diberkahi untuknya  harta tersebut. Dan barang siapa yang mengambilnya dengan keserakahan,  niscaya harta tersebut tidak akan diberkahi untuknya, dan ia bagaikan  orang yang makan dan tidak pernah merasa  kenyang. Tangan yang berada di  atas lebih mulia dibanding tangan yang berada di bawah.’ Hakim  melanjutkan kisahnya dengan berkata, ‘Kemudian aku berkata, ‘Wahai  Rasulullah, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran,  aku tidak akan pernah lagi meminta harta seorangpun sepeninggalmu hingga  aku meninggal dunia.’”</em> (HR. Muttafaqun ‘alaih).</p>
<p>Ibnu Batthal berkata, “Sabda Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (dan barang siapa yang mengambilnya dengan tanpa ambisi (tama’ atau  atas kerelaan pemiliknya), maka akan diberkahi untuknya harta tersebut)  menunjukkan bahwa sifat qana’ah, senantiasa merasa kecukupan, dan upaya  mencari rezeki dari jalan yang baik senantiasa diiringi oleh keberkahan.  Dan bahwa barangsiapa yang mencari harta dengan penuh ambisi dan  keserakahan, niscaya harta penghasilannya tidak akan diberkahi, dan ia  akan terhalangi dari keberkahan seluruh hartanya.” (<em>Syarah Ibnu  Batthal,</em> 6/47).</p>
<p>Imam an-Nawawi berkata, ”Pada hadits ini dan juga hadits sebelumnya,  terdapat anjuran untuk senantiasa menjaga kehormatan diri, merasa  kecukupan, dan ridha dengan apa yang berhasil ia peroleh dengan  cara-cara yang terhormat, walau hanya sedikit, serta anjuran untuk  mencari rezeki dari jalan-jalan yang baik (halal). Sebagaimana seseorang  hendaknya tidak terbuai oleh banyaknya harta yang berhasil ia peroleh  melalui keserakahan dan ambisi atau yang serupa, karena ia tidak akan  pernah mendapatkan keberkahan padanya. Hal ini sangat menyerupai firman  Allah Ta’ala,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ</p>
<p><em>“Allah memusnahkan riba dan melipat-gandakan sedekah.” </em>(<em>Syarah  Shahih </em>Imam Muslim oleh Imam an-Nawawi, 3/486).</p>
<p>-bersambung insya Allah-</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA. –hafizhahullah-<br> Artikel: <a title="www.PengusahaMuslim.com" href="www.PengusahaMuslim.com" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
 