
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ash-Shamad” </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah salah satu nama Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang agung, yang terdapat di dalam surat Al-Ikhlas. Surat Al-Ikhlas diturunkan sebagai jawaban atas pertanyaan sebagian orang-orang musyrik yang datang menemui Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, lalu mereka mengatakan, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sebutkan nasab Tuhanmu.” </span></i><span style="font-weight: 400;">Maka Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> pun menurunkan ayat,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah, “Dia-lah Allah, Tuhan Yang maha esa.” </span><b>(QS. Al-Ikhlas [112]: 1) (HR. Tirmidzi no. 3363, dinilai hasan oleh Al-Albani)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat beberapa riwayat dari para sahabat </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhum </span></i><span style="font-weight: 400;">tentang tafsir dari nama Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">“Ash-Shamad”. </span></i></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Tafsir pertama</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">Ash-Shamad </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الصمد الذي لا جوف له</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang tidak memiliki </span><i><span style="font-weight: 400;">al-jauf </span></i><span style="font-weight: 400;">(rongga perut untuk menampung makanan).” <strong>(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam </strong></span><strong><i>As-Sunnah, </i>1/299/665 dan Ath-Thabarani dalam <i>Mu’jam Al-Kabir, </i>2/22/1162)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57187-mengenal-nama-allah-al-awwal-al-akhir-azh-zhahir-dan-al-bathin.html" data-darkreader-inline-color="">Mengenal Nama Allah “Al-Awwal”, “Al-Akhir”, “Azh-Zhahir” dan “Al-Bathin”</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Tafsir kedua</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">Ash-Shamad </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الصمد الذي يصمد إليه في الحوائج</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang menjadi tujuan (tempat bergantung) agar semua kebutuhan terpenuhi.”<strong> (Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam </strong></span><strong><i>At-Tauhiid, </i>2/62; Ibnu Abi ‘Ashim dalam <i>As-Sunnah, </i>1/303/687; dan Al-Baihaqi dalam <i>Al-Asma’ wa Shifat, </i>1/159/104)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya, Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah Dzat yang menjadi tempat bergantung semua makhluk, sehingga apa yang mereka butuhkan itu bisa terpenuhi. Dengan kata lain, semua makhluk membutuhkan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al-Qurthubi </span></i><span style="font-weight: 400;">disebutkan (20: 245),</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إنه المستغني عن كل أحد، والمحتاج إليه كل أحد.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang tidak membutuhkan segala sesuatu dan segala sesuatu membutuhkan-Nya.” Ini adalah penjelasan dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tafsir kedua ini tidak bertentangan dengan tafsir yang pertama, bahkan selaras dan merupakan konsekuensi dari tafsir pertama. Hal ini jika Dzat Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> itu tidak membutuhkan yang lainnya (termasuk tidak membutuhkan makanan dan minuman), maka hal ini menunjukkan bahwa Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah Dzat yang sempurna sehingga layak menjadi tempat bergantung semua makhluk. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pemaknaan </span><i><span style="font-weight: 400;">Ash-Shamad </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagai Dzat yang menjadi tempat bergantung semua hajat kebutuhan adalah pemaknaan yang benar. Pemaknaan ini juga menguatkan dan menunjukkan pemaknaan yang pertama. Pemaknaan ini tidaklah menafikan pernyataan bahwa Allah tidak memiliki rongga. Bahwa Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak memiliki rongga (untuk menampung makanan dan minuman) adalah sebuah keniscayaan, karena Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> dibutuhkan oleh semua manusia. Hal ini karena kebutuhan terhadap sesuatu didasari atas sifat yang ada pada sesuatu tersebut.” </span><strong><i>(Bayaan Talbiis Jahmiyyah, </i>7/556)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/55203-saatnya-kita-mengenal-nama-allah-asy-syaafiy.html" data-darkreader-inline-color="">Saatnya Kita Mengenal Nama Allah “asy-Syaafiy”</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Tafsir ketiga</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">Ash-Shamad </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الصمد : السيد الذي قد انتهى سؤدده</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pemimpin yang mencapai puncak kesempurnaan dalam kepemimpinannya.” <strong>(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam </strong></span><strong><i>As-Sunnah, </i>1/299/666 dan Al-Baihaqi dalam <i>Al-Asma’ wa Shifat, </i>1/157/99)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada juga yang menafsirkan </span><i><span style="font-weight: 400;">Ash-Shamad </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الذي لا يأكل الطعام</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dzat yang tidak makan (tidak butuh makanan).” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada juga yang menafsirkan dengan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الباقي بعد خلقه الدائم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang tetap ada, meskipun semua makhluk tiada.“ <strong>(Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam </strong></span><strong><i>At-Tauhid, </i>2/62)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kami telah menegaskan di pembahasan yang lain bahwa mayoritas tafsir ulama salaf tidaklah berbeda (bertentangan satu sama lain). Akan tetapi, terkadang mereka menjelaskan satu sifat dengan sifat (penjelasan) yang bermacam-macam. Terkadang, setiap ahli tafsir menyebutkan satu jenis atau person tertentu hanya sebagai contoh saja (bukan sebagai pembatasan). Hal ini untuk memberikan penjelasan kepada penanya, seperti seorang penerjemah yang ditanyakan kepadanya, apa itu roti? Lalu dia menyebutkan roti jenis tertentu sebagai contoh (bukan untuk membatasi bahwa roti hanya itu saja, pent.).” </span><strong><i>(Bayaan Talbiis Jahmiyyah, </i>7/535)</strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kesimpulan</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesimpulan, semua tafsir atau penjelasan ulama di atas adalah benar, karena intinya kembali bahwa Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> Maha sempurna dalam segala hal. Dia tidak membutuhkan makhluk lainnya, siapa dan apa pun makhluk tersebut. Bahkan sebaliknya, seluruh makhluk membutuhkan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Hal ini sebagaimana perkataan Muqatil,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إنه: الكامل الذي لا عيب فيه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya </span><i><span style="font-weight: 400;">Ash-Shamad </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah Dzat yang maha sempurna, yang tidak memiliki cacat (aib) sedikit pun.”<strong> (</strong></span><strong><i>Tafsir Al-Qurthubi, </i>20/245)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/55004-mengenal-nama-allah-as-samii.html" data-darkreader-inline-color="">Mengenal Nama Allah “As-Samii’”</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45078-perbedaan-antara-nama-allah-ar-rahman-dan-ar-rahiim.html" data-darkreader-inline-color="">Perbedaan antara Nama Allah “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahiim”</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor YPIA, 29 Syawal 1441/ 21 Juni 2020</span></p>
<p><b>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.ida</a></span></strong></p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Taqyiidusy Syawaarid minal Qawaa’id wal Fawaaid, </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Ar-Rajihi, hal. 32-34. Disertai penjelasan dari referensi yang lainnya dan telah kami sebutkan di atas.</span></p>
 