
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US"><i>Qantharah, </i></span><span lang="en-US">suatu istilah yang mungkin masih asing di telinga kita. Padahal, setiap orang beriman tentu mendambakan diri untuk bisa sampai di </span><span lang="en-US"><i>qantharah. </i></span><span lang="en-US">Bagaimana tidak, </span><span lang="en-US"><i>qantharah </i></span><span lang="en-US">adalah suatu tempat antara surga dan neraka yang dilalui manusia setelah selamat melewati </span><span lang="en-US"><i><a href="https://muslim.or.id/17208-faidah-dari-hadits-jisru-jahannam.html" target="_blank" rel="noopener">shirath</a>, </i></span><span lang="en-US">yaitu jembatan yang dibentangkan di atas <a href="https://muslim.or.id/29755-seluk-beluk-neraka.html" target="_blank" rel="noopener">neraka jahannam</a>.</span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US">Oleh karena itu, dalam tulisan ini kami akan sedikit membahas tentang </span><span lang="en-US"><i>qantharah, </i></span><span lang="en-US">sehingga siapa pun yang berharap masuk surga, bisa mengenal suatu tempat yang akan dilewatinya, yaitu </span><span lang="en-US"><i>qantharah.</i></span></p>

<h2 style="text-align: left;" align="justify">
<span lang="en-US">Hadits tentang </span><span lang="en-US">“<em>Qantharah</em>”</span>
</h2>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Setelah orang-orang beriman selamat melewati </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>shirath, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">mereka akan berhenti di suatu tempat bernama </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>“qantharah”.</i></span></span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Dari Abu Sa’id Al-Khudhri </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Rasulullah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">bersabda,</span></span></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><span lang="ar-SA">يَخْلُصُ المُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا</span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Setelah orang-orang beriman diselamatkan dari neraka (selamat melewati shirath, pen.), mereka tertahan di qantharah yang ada di antara surga dan neraka. Maka ditegakkanlah qishash di antara mereka akibat kedzaliman yang terjadi di antara mereka selama berada di dunia. Setelah dibersihkan dan dibebaskan, mereka pun diijinkan masuk surga. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh mereka lebih mengetahui tempat mereka di surga daripada tempatnya ketika berada di dunia.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>[1]</b></span></span><i> </i></p>
<h2 style="text-align: left;" align="justify">
<span lang="en-US">Apakah yang Dimaksud dengan </span><span lang="en-US">“<em>Qantharah</em>” </span><span lang="en-US">??</span>
</h2>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Para ulama berbeda pendapat tentang </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>“qantharah”. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Sebagian ulama berpendapat bahwa </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>qantharah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">adalah bagian paling ujung dari </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>shirath </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">sebelum masuk ke surga. Pendapat ke dua menyatakan bahwa </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>qantharah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">adalah jembatan tersendiri yang berbeda dengan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>shirath, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">dan letaknya di antara surga dan neraka.</span></span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Ibnu Hajar Al-Asqalani </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">berkata,</span></span></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><span lang="ar-SA">الذي يظهر أنها طرف الصراط مما يلي الجنة ويحتمل أن تكون من غيره بين الصراط والجنة</span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;">”</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Yang tampak bahwasannya qantharah adalah ujung dari shirath sebelum surga. Dan ada kemungkinan bahwa qantharah adalah jembatan tersendiri antara shirath dan surga.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>[2]</b></span></span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US">Di antara ke dua pendapat tersebut, pendapat yang lebih tepat adalah pendapat ke dua, yaitu bahwa </span><span lang="en-US"><i>qantharah </i></span><span lang="en-US">adalah jembatan tersendiri dan tidak termasuk bagian dari </span><span lang="en-US"><i>shirath. </i></span><span lang="en-US">Hal ini karena orang yang selamat melewati </span><span lang="en-US"><i>shirath, </i></span><span lang="en-US">berarti dia telah selamat melewati dan melintasi </span><span lang="en-US"><i>shirath </i></span><span lang="en-US">secara keseluruhan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil yang ada.</span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US">Dari Abu Hurairah </span><span lang="en-US"><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span><span lang="en-US">Nabi </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="en-US">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><span lang="ar-SA">وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ، فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُهَا</span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify">“<span lang="en-US"><i>Dan dibentangkanlah shirath di antara dua punggung neraka jahannam. Maka aku dan umatku yang pertama kali melintasinya.” </i></span><span lang="en-US"><b>[3]</b></span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US">Demikian pula kalau melihat hadits tentang </span><span lang="en-US"><i>qantharah </i></span><span lang="en-US">di atas, maka dijelaskan bahwa orang-orang mukmin telah selamat melewati </span><span lang="en-US"><i>shirath </i></span><span lang="en-US">(secara keseluruhan)</span><span lang="en-US"><i>. </i></span><span lang="en-US"><b>[4]</b></span></p>
<h2 class="western" style="text-align: left;" align="justify">
<span lang="en-US"><b>Qishash yang Terjadi ketika Manusia berada di </b></span><span lang="en-US"><i><b>“Qantharah”</b></i></span><b> </b>
</h2>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Di </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>qantharah, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">terjadi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>qishash </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">untuk menghilangkan rasa dendam, <a href="https://muslim.or.id/243-bahaya-hasad.html" target="_blank" rel="noopener">hasad</a> dan rasa dengki di antara orang-orang yang beriman. Dan ketika telah bersih, mereka akan masuk ke dalam surga. Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Ta’ala</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> berfirman,</span></span></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><span lang="ar-SA">وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ</span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">(QS. Al-Hijr [15]: 47]</span></span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">berkata,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>”Jika mereka telah melewati shirath, mereka berhenti di qantharah yang berada di antara surga dan neraka. Sebagian mereka pun diqishash atas sebagian yang lain. Ketika telah dibersihkan dan dibebaskan, mereka pun diijinkan untuk masuk ke dalam surga.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>[5]</b></span></span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Qishash di </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>qantharah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">berbeda dengan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>qishash </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">yang terjadi di <a href="https://muslim.or.id/7416-peristiwa-di-padang-mahsyar.html" target="_blank" rel="noopener">padang Mahsyar</a>. Qishash yang terjadi di padang Mahsyar bersifat umum, terjadi antara orang beriman dan orang kafir, atau antara calon penduduk surga dengan calon penduduk neraka, atau antara sesama calon penduduk neraka.</span></span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Qishash ini adalah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">dengan menyerahkan pahala kepada </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">pihak </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">yang didzalimi</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">;</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"> dan jika pahalanya sudah habis, maka dosa </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">pihak </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">yang didzalimi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">akan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">diserahkan kepada </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">pihak </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">yang mendzalimi.</span></span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Sedangkan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>qishash </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">di </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>qantharah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">hanya terjadi di antara orang beriman (setelah mereka selamat melewati shirath) untuk menyucikan hati mereka sebelum masuk ke dalam surga.</span></span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">menjelaskan,</span></span></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><span lang="ar-SA">فإذا وصلوا إلى الجنة لم يجدوها مفتوحة الأبواب، على خلاف أهل النار، فإنهم إذا وصلوا إلى النار فتحت الأبواب ليسوءهم العذاب والعياذ بالله، أما الجنة فلا تكون مفتوحة الأبواب، وإنما يوقفون هناك على قنطرة، وهي الجسر الصغير فيقتص لبعضهم من بعض اقتصاصاً غير الاقتصاص الأول الذي في عرصات القيامة، فيقتص لبعضهم من بعض اقتصاصاً يزيل ما في صدورهم من الغل والحقد؛ لأن الاقتصاص الذي في عرصات القيامة اقتصاص تؤخذ فيه الحقوق، وربما يبقى في النفوس ما يبقى، لكن هذا الأخير اقتصاص للتطهير والتهذيب والتنقية، حتى يدخلوا الجنة وما في صدورهم من غل</span>.</p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Jika mereka sampai ke surga, pintu surga masih tertutup. Berbeda dengan penduduk neraka. Ketika mereka sampai di neraka, pintu neraka dibuka sehingga mereka langsung merasakan adzab. Adapun surga, maka pintunya masih tertutup. Mereka menunggu di qantharah, yaitu suatu jembatan yang kecil. Sebagian mereka pun diqishash atas sebagian yang lain, dengan qishash yang berbeda dengan qishash yang pertama terjadi di padang Mahsyar. Mereka diqishash untuk menghilangkan rasa dendam dan rasa dengki. Hal ini karena qishash yang terjadi di padang Mahsyar bertujuan untuk mengembalikan hak (yang didzalimi atau dirampas, pen.), dan terkadang masih tersisa rasa (dendam) di hati. Qishash yang ke dua ini adalah qishash untuk mensucikan dan membersihkan (apa yang ada di dalam hati), sehingga mereka pun masuk surga tanpa ada rasa dengki dalam hati mereka.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>[6]</b></span></span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><a href="https://muslim.or.id/53-biografi-ringkas-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span></span></a><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">melanjutkan penjelasan beliau,</span></span></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><span lang="ar-SA">وبهذا نجمع بين النصوص الواردة بأن هنا اقتصاصين، الاقتصاص الأول في العرصات ويقصد منه أخذ الحقوق، وهذا الاقتصاص الأخير والمقصود به التنقية والتطهير من الغل</span>.</p>
<p style="text-align: center;" align="center"><span lang="ar-SA">فإن قال قائل</span>: <span lang="ar-SA">أفلا يحصل ذلك بأخذ الحقوق؟ قلنا</span>: <span lang="ar-SA">لا، فلو أن رجلاً اعتدى عليك في الدنيا ثم أخذت حقك منه، فإنه قد يزول ما في قلبك عليه وقد لا يزول، فإحتمال أنه لا يزول وارد، لكن إذا هذبوا ونقوا بعد عبور الصراط ودخلوا الجنة على إكمال حال، قال تعالى</span>: (<span lang="ar-SA">وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَاناً عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ</span>) (<span lang="ar-SA">الحجر</span>: 47)</p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span style="color: #000000;">“</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Dengan demikian, kita gabungkan dalil-dalil yang ada bahwa terdapat dua qishash. Qishash pertama terjadi di padang Mahsyar dan dimaksudkan untuk mengembalikan hak (pihak yang didzalimi, pen.). Qishash yang ke dua (di qantharah) ini dimaksudkan untuk membersihkan dan mensucikan (hati) dari rasa dendam. Jika ada yang bertanya, bukankah hilangnya dendam sudah terwujud dengan dikembalikannya hak? Kami katakan, tidak. Seandainya ada seseorang di dunia yang merampas hakmu, kemudian Engkau mengambil kembali hakmu dari orang tersebut, maka terkadang hilanglah apa yang ada dalam hatimu (misalnya rasa dendam atau dengki, pen.) dan terkadang tidak hilang. Maka ada kemungkinan bahwa belum hilang (rasa dendam tersebut, pen.). Akan tetapi, jika rasa dendam ini dibersihkan dan dihilangkan, maka mereka pun masuk surga dalam keadaan yang sempurna. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.’” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><b>[7]</b></span></span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><em><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</span></span></em></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify">***</p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US">Dis</span><span lang="id-ID">elesai</span><span lang="en-US">kan</span> <span lang="en-US">setelah isya’</span><span lang="id-ID">, Sint-Jobskade Rotterdam NL, </span><span lang="en-US">Jumat 11</span><span lang="id-ID"> Dzulhijah 1436</span></p>
<p class="western" lang="id-ID" style="text-align: left;" align="left">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><strong><span lang="id-ID">Penulis:</span></strong><a href="https://acadstaff.ugm.ac.id/msaifudinhakim" target="_blank" rel="noopener"><span lang="id-ID"><b> M. Saifudin Hakim</b></span></a></p>
<p style="text-align: left;" align="justify"><strong>Artikel Muslim.or.id</strong></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify">___</p>
<p lang="en-US" style="text-align: left;" align="justify"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US"><b>[1] </b></span><span lang="en-US">HR. Bukhari no. 6535.</span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US"><b>[2] </b></span><span lang="en-US"><i>Fathul Baari, </i></span><span lang="en-US">5/96.</span><b> </b></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US"><b>[3] </b></span><span lang="en-US">HR. Bukhari no. 806.</span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US"><b>[4] </b></span><span lang="en-US"><i>Al-Imaan bimaa Ba’dal Maut, </i></span><span lang="en-US">hal. 250-251.</span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US"><b>[5] </b></span><span lang="en-US"><i>Majmu’ Fataawa, </i></span><span lang="en-US">3/147.</span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US"><b>[6] </b></span><span lang="en-US"><i>Syarh Al-‘Aqidah As-Safariyaniyyah, </i></span><span lang="en-US">1/477 (Maktabah Syamilah).</span></p>
<p class="western" style="text-align: left;" align="justify"><span lang="en-US"><b>[7] </b></span><span lang="en-US"><i>Syarh Al-‘Aqidah As-Safariyaniyyah, </i></span><span lang="en-US">1/477 (Maktabah Syamilah).</span></p>
 