
<h2><strong>Qaul Qadim dan Qaul Jadid Imam as-Syafii</strong></h2>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</em></p>
<p>Seperti yang umum dikenal mereka yang belajar Fiqh, bahwa Imam Muhammad bin Idris as-Syafii memiliki dua qaul (kumpulan ijtihad),</p>
<p>[1] al-Qaul al-Qadim (kumpulan ijtihad lama)</p>
<p>[2] al-Qaul al-Jadid (kumpulan ijtihad baru)</p>
<p>Ulama berbeda pendapat dalam memberikan batasan antara qaul qadim dan qaul jadid. (<em>Faraid al-Fawaid fi Ikhtilaf al-Qoulaini Li Mujtahid Wahid</em>, hlm. 60).</p>
<p>Pertama, batasan kedua qaul kembali kepada tempat,</p>
<p>[1] Qaul qadim adalah kumpulan pernyataan Imam as-Syafii selama beliau di Baghdad, baik dalam bentuk tulisan, dekte ke murid, maupun fatwa.</p>
<p>[2] Qaul jadid adalah kumpulan pernyataan Imam as-Syafii selama di Mesir baik dalam bentuk tulisan, dekte ke murid, maupun fatwa.</p>
<p>Ini merupakan pendapat yang masyhur dari para ulama syafi’iyah yang memberi penjelasan kitab al-Minhaj, seperti ad-Damiri, Jalaluddin al-Mahalli, dan al-Khathib as-Syarbini. (Mughni al-Muhtaj, 1/13).</p>
<p>Kedua, batasan kembali kepada waktu</p>
<p>[1] Qaul qadim adalah kumpulan pernyataan Imam as-Syafii sebelum beliau masuk ke Mesir</p>
<p>[2] Qaul jadid adalah kumpulan pernyataan Imam as-Syafii setelah beliau masuk ke Medir</p>
<p>Ini merupakan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami (Tuhfatul Muhtaj, 1/59), dan Syamsuddin ar-Ramli (Nihayah al-Muhtaj, 1/50). Dan pendapat ini juga diikuti para ulama Syafiiyah belakangan.</p>
<p>Sehingga berdasarkan batasan kedua, tercakup juga pernyataan Imam as-Syafii selama perjalanan beliau dari Baghdad ke Mesir. Seperti peryataan as-Sayfii ketika di Mekah, sebelum masuk ke Mesir. Seperti kitab ar-Risalah yang beliau tulis di Mekah, sehingga lebih tepat dimasukkan dalam al-Qaul Qadim. (al-Qadim wal Jadid fi Fiqh as-Syafii, Dr. Lamin an-Naji, 2/249)</p>
<h3><strong>Representasi Qaul Qadim dan Qaul Jadid</strong></h3>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, Representasi qaul qadim Imam as-Syafii ada di kitab al-Hujjah yang diriwayatkan al-Hasan az-Za’farani (w. 260 H). Beliau perawi paling menonjol untul al-Qaul Qadim, dan beliau yang memberi nama kitab ini dengan al-Hujjah. Karena tujuan kumpulan pendapat ini adalah bantahan untuk para ulama ahlu ra’yi di kalangan hanafiyah dan para ulama Kufah yang ada di Iraq.</p>
<p>Hanya saja, kitab al-Hujjah ini termasuk daftar kitab yang hilang.</p>
<p>Karena itu, tidak ada cara untuk mengetahui al-Qaul Qadim kecuali melalui referensi-referensi lama, seperti at-Takhis karya Ibnul Qas, at-Taqrib karya al-Qaffal as-Syasyi, Jam’ul Jawami’ karya Abu Sahl az-Zuzini, al-Hawi karya al-Mawardi, dan Nihayah al-Mathlab karya Imam al-Haramain.</p>
<p>Sementara referensi syafiiyah belakangan yang terkadang menyebutkan al-Qaul al-Qadim adalah kitab al-Majmu’ karya an-Nawawi dan Fathul Aziz karya ar-Rafii.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, representasi qaul jadid</p>
<p>Ada beberapa kitab yang merupakan representasi al-Qaul al-Jadid Imam as-Syafi’i. Diantaranya,</p>
<p>[1] Kitab al-Umm. Kitab ini merupakan dekte yang beliau sampaikan ke muridnya, yang dikumpulkan ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi. Ar-Rabi’ bin Sulaiman sering mengatakan,</p>
<p class="arab">أخبرنا الشافعي</p>
<p>“as-Syafii menyampaikan kepada kami.”</p>
<p>Dan ar_Rabi’ yang memberi nama ini. sebagai isyarat bahwa kitab ini adalah induk dan kumpulan karya-karya Imam as-Syafii. Sehingga kitab ini berisi kumpulan, dalam masalah furu’ (rincian hukum), ada juga ushul Fiqh seperti ar-Risalah, fiqh perbandingan, seperti Ikhtilaf Malik dan Ikhtilaf Abu Hanifah, ada juga tafsir ayat-ayat hukum, ada juga kumpulan hadis-hadis hukum dan atsar. (al-Umm, as-Syafii, 1/16).</p>
<p>Hanya saja, ar-Rabi’ tidak menyusun kitab ini sesuai sistematikan bab fiqh. Beliau hanya meriwayatkan tanpa susunan dan sistematika. Kitab al-Umm yang diterbitkan saat ini adalah berdasarkan sistematika al-Bulqini (w. 805 H). (Mukadimah Tahqiq ar-Risalah, Ahmad Syakir, hlm. 9).</p>
<p>[2] Kitab Mukhtashar al-Buthi (w. 231 H)</p>
<p>Kitab ini merupakan pelajaran yang disampaikan as-Syafii, yang diriwayatkan oleh Yusuf bin Yahya al-Buthi.</p>
<p>[3] Kitab Mukhtashar al-Muzanni (w. 264 H)</p>
<p>Beliau memiliki satu karya berisi kumpulan pelajaran imam as-Syafii. Disamping itu, beliau juga memiliki beberapa karya, seperti al-Jami’ al-Kabir, al-Mukhtashar al-Kabir, dan al-Masail al-Mu’tabarah. (Thabaqat al-Fuqaha, as-Syirazi, hlm. 97).</p>
<p>Dan kitab-kitab itu adalah imla’at (dekte pelajaran) yang disampaikan as-Syafii. Karena itulah, an-Nawawi sering menyebutnya sebagai karya as-Syafii.</p>
<p>Dalam kitab al-Majmu’ ketika menjeaskan karya as-Syafii, an-Nawawi mengatakan,</p>
<p class="arab">فإن مصنفاته كثيرة كالأم في نحو عشرين مجلداً وهو مشهور ، وجامع المزني الكبير ، وجامعه الصغير ، ومختصريه الصغير والكبير</p>
<p>Karya beliau sangat banyak, seperti al-Umm sebanyak 20 jilid, dan ini yang masyhur, Jami’ al-Muzanni al-Kabir, Jami’ al-Muzanni as-Shaghir, dan ringkasan untuk kedua kitab itu. (al-Majmu’, 1/11).</p>
<p>[4] Mukhtashar Harmalah bin Yahya at-Tujibi (w. 243 H)</p>
<p>Harmalah termasuk salah satu muridnya Imam as-Syafii dari mesir. Dan beliau termasuk periwayat keterangan as-Syafii. Al-Baihaqi mengatakan,</p>
<p class="arab">وله كتب وأمال رواها عنه حرملة بن يحيى وغيره من المصريين ، لم يقع منها إلى ديارنا إلا القليل</p>
<p>Imam as-Syafii memiliki beberapa kitab dan pelajaran yang diriwayatkan Harmalah bin Yahya dan orang mesir lainnya. Tidak ada yang sampai ke kami kecuali sedikit. (al-Madkhal ila al-Madzhab as-Syafii, hlm. 216).</p>
<p>[5] al-Imlak riwayat Musa bin Abil Jarud</p>
<p>Para ulama Syafiiyah, seperti an-Nawawi dan ar-Rafii menyebut kitab al-Imlak sebagai kitab yang baru.</p>
<p>Meskipun kitab ini tidak banyak terkenal, bahkan ada yang mengatakan kitab ini termasuk kitab yang hilang.</p>
<p>Apakah hanya as-Syafi’I yang memiliki al-Qaul al-Qadim dan al-Qaul al-Jadid?</p>
<p>Bukankah para ulama yang lain juga mengalami perubahan pedapat. Lalu mengapa istilah pendapat baru dan pendapat lama hanya untuk imam as-Syafii?</p>
<p>Ada beberapa sebab untuk menjawab pertanyaan ini, diantaranya,</p>
<p>[1] Bahwa perubahan ijtihad yang terjadi pada Imam as-Syafii bersamaan dengan perpindahan beliau dari satu daerah ke daerah kedua yang secara geografis jaraknya sangat jauh.</p>
<p>[2] Baik pendapat baru maupun pendapat lama, masing dituangkan dalam karya tulis murid-muridnya.</p>
<p>[3] Murid beliau yang ada di Baghdad tidak ikut berpindah bersama Imam as-Syafii ke Mesir.</p>
<h3><strong>Sebab Terjadinya Perubahan Ijtihad as-Syafii</strong></h3>
<p>Sebagaimana menjadi kaidah umum bagi setiap orang yang belajar ilmu agama, bahwa</p>
<p class="arab">العلم لا يعرف الجمود</p>
<p>“Ilmu tidak mengenal jumud (kebekuan).”</p>
<p>Sehingga semua ulama yang selalu mengedepankan prinsip terus belajar, sangat memungkinkan baginya untuk mengalami perubahan dalam berijtihad. Tak terkecuali Imam as-Syafii.</p>
<p>[1] Mesir merupakan tempat berkembangnya madzhab Imam Malik, memalui murid beliau, Ibnul Qasim.</p>
<p>Sementara Imam Malik termasuk salah satu gurunya Imam as-Syafii yang banyak memberikan pengaruh bagi beliau. Sehingga ada beberapa hadis atau keterangan para ulama Malikiyah di Mesir yang baru didapatkan Imam as-Syafii.</p>
<p>[2] Pengaruh Fiqh Imam al-Laits bin Sa’d (w. 175).</p>
<p>Imam al-Laits bin Sa’d termasuk salah satu ulama besar mesir, ahli hadis dan fiqh di Mesir.</p>
<p>Meskipun sebagian penulis menilai bahwa sebab ini tergolong lemah, karena Imam as-Syafii tidak banyak menyebut al-Laits dalam fatwa maupun karyanya.</p>
<p>[3] Beliau mengetahui adanya beberapa hadis yang belum pernah beliau dapatkan.</p>
<p>Ada yang mengatakan, perubahan ijtihad ini disebabkan perbedaan kondisi antara Iraq dan Mesir.</p>
<p>Dan alasan ini sangat lemah sekali. Dengan beberapa alasan,</p>
<p>[1]<strong><em> </em></strong>Imam as-Syafii melarang meriwayatkan pendapat lama beliau waktu di Iraq. Beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">ليس في حلٍّ من روى عني القديم</p>
<p>Tidak halal bagi orang yang meriwayatkan dariku pendapat al-Qadim. (al-Bahr al-Muhith, az-Zarkasyi, 4/584)</p>
<p>Andai perubahan ijtihad itu karena perbedaan kondisi antara Iraq dan Mesir, tentu beliau akan tetap memberlakukan fatwa dan ijtihad di Iraq.</p>
<p>[2] Andai perubahan ijtihad itu karena perbedaan kondisi antara Iraq dan Mesir, tentu para murid as-Syafii di Iraq akan memfatwakan sesuai pendapat al-Qadim.</p>
<p>[3] Para ulama Syafiiyah masa silam tidak pernah menyebutkan alasan perubahan ijtihad itu karena perbedaan kondisi antara Iraq dan Mesir. Padahal mereka yang lebih tahu latar belakang itu.</p>
<p>Demikian, <em>Semoga manfaat</em>…</p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)</strong></p>
<p>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Tanya Ustadz untuk Android</strong></a>.<br>
<a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Download Sekarang !!</strong></a></p>
<p><strong>KonsultasiSyariah.com didukung oleh Zahir Accounting <a href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>SPONSOR</strong> hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>
<strong>DONASI</strong> hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong> : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK</li>
</ul>
 