
<p>Sudah tahu tingkatan Islam?</p>
<blockquote><p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> ditanyakan apa itu Iman, Islam dan Ihsan. Ketiga perkara ini sendiri adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ad Diin</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu agama Islam itu sendiri. (HR. Muslim no. 102)</span></p></blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para pembaca yang semoga dimuliakan oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Pada suatu hari, Jibril ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">alaihis salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mendatangi Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam keadaan berambut hitam dan berpakaian putih, tidak tampak pada beliau bekas melakukan perjalanan jauh dan tidak ada sahabat pun yang mengenal malaikat Jibril dalam bentuk manusia seperti ini. Kemudian dia mendekati Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> sambil menyandarkan lututnya pada lutut Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> sedangkan kedua tangannya berada pada paha Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Kemudian Jibril ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">alaihis salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> memanggil ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Ya Muhammad</span></i><span style="font-weight: 400;">’ -sebagaimana orang-orang Arab badui memanggil beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam-</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan menanyakan beberapa perkara. Di antaranya Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> ditanyakan apa itu Iman, Islam dan Ihsan. Ketiga perkara ini sendiri adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ad Diin</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu agama Islam itu sendiri. (HR. Muslim no. 102)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits di atas dikenal dengan </span><span style="font-weight: 400;">hadits Jibril</span><span style="font-weight: 400;"> dan </span><span style="font-weight: 400;">induknya hadits</span><span style="font-weight: 400;">. Dari hadits tersebut, para ulama mengatakan bahwa Islam memiliki tiga tingkatan, yaitu: (1) Islam, (2) Iman dan (3) Ihsan; masing-masing tingkatan ini memiliki rukun. Berikut ini adalah penjelasan secara singkat mengenai ketiga tingkatan tersebut.</span></p>

<h2><b>Tingkatan Pertama : Islam</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits Jibril, dikatakan bahwa Islam adalah (1) mengakui bahwa ‘Tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah kecuali Allah dan mengakui Muhammad adalah utusan-Nya, (2) menegakkan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) menunaikan puasa Ramadhan, dan (5) berhaji ke Baitullah bagi yang mampu. Jadi Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan bahwa islam memiliki </span><span style="font-weight: 400;">lima rukun</span><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang pertama, seorang muslim harus bersyahadat dengan lisan dan meyakini syahadat tersebut dalam hatinya. Dan perlu diperhatikan bahwa makna kalimat syahadat ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaha illallah</span></i><span style="font-weight: 400;">’ yang </span><span style="font-weight: 400;">benar</span><span style="font-weight: 400;"> adalah </span><b>tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah</b><span style="font-weight: 400;">. Jika seseorang sudah mengucapkan dan meyakini demikian, maka tidak pantas baginya untuk menjadikan para Nabi, malaikat, para wali dan orang-orang sholih sebagai sesembahan semisal menjadikan mereka sebagai perantara dalam berdo’a. Karena apa saja yang disembah selain Allah adalah sesembahan yang bathil. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman (yang artinya),”</span><i><span style="font-weight: 400;">Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, </span></i><i><span style="font-weight: 400;">Dialah sesembahan yang benar</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (QS. Al Hajj [22] : 62).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagai catatan penting, syahadat tidaklah cukup dengan diam (diucapkan dalam hati), namun harus diucapkan dan diumumkan (ditampakkan) pada orang lain kecuali jika ada alasan yang syar’i sehingga seseorang tidak bisa menampakkan syahadatnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits Jibril ini, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengabungkan antara syahadat ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaha illallah</span></i><span style="font-weight: 400;">’ dengan syahadat ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">anna muhammadar rasulullah</span></i><span style="font-weight: 400;">’ [Nabi Muhammad adalah utusan Allah] dalam </span><span style="font-weight: 400;">satu rukun</span><span style="font-weight: 400;">. Kenapa demikian? Karena ibadah tidaklah sempurna kecuali dengan dua hal : (1) ikhlas kepada Allah semata : hal ini terdapat dalam syahadat ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">laa ilaha illallah</span></i><span style="font-weight: 400;">’; dan (2) </span><i><span style="font-weight: 400;">mutaba’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (mengikuti) Rasul : hal ini terdapat dalam syahadat ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">anna muhammadar rasulullah</span></i><span style="font-weight: 400;">’.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain dengan bersyahadat, keislaman seseorang bisa sempurna dengan melaksanakan empat rukun yang lainnya –di mana penjelasan hal ini dapat dilihat dalam berbagai kitab fiqh-.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, perlu diperhatikan bahwa walaupun kelima hal ini disebut </span><span style="font-weight: 400;">rukun</span><span style="font-weight: 400;">, bukan berarti jika salah satu dari rukun Islam ini tidak ditunaikan maka tidak disebut muslim lagi. Karena </span><span style="font-weight: 400;">kadar wajib dalam rukun Islam</span><span style="font-weight: 400;"> adalah dengan </span><span style="font-weight: 400;">bersyahadat dan mengerjakan shalat yang diwajibkan (shalat lima waktu)</span><span style="font-weight: 400;">. Jika seorang muslim tidak melaksanakan kedua rukun Islam ini, maka pada saat ini baru tidak disebut sebagai muslim.</span></p>
<h2><b>Tingkatan Kedua : Iman</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Iman secara bahasa berarti pembenaran (</span><i><span style="font-weight: 400;">tashdiq</span></i><span style="font-weight: 400;">). Ketika Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> ditanyakan oleh Jibril </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihis salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengenai iman, beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjawab,”Iman adalah (1) engkau beriman kepada Allah, (2) kepada malaikat-Nya, (3) kepada kitab-kitab-Nya, (4) kepada rasul-rasul-Nya, (5) kepada hari akhir dan (6) beriman kepada takdir yang baik dan buruk.” Jadi Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan bahwa iman memiliki </span><span style="font-weight: 400;">enam rukun</span><span style="font-weight: 400;">. Apabila salah satu rukun ini tidak dipenuhi maka </span><span style="font-weight: 400;">tidak disebut orang beriman</span><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, dalam rukun Iman di dalamnya ada kadar (batasan) wajib di mana </span><span style="font-weight: 400;">keislaman seseorang tidaklah sah (baca : bisa kafir) kecuali dengan memenuhinya</span><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Batasan wajib dalam beriman kepada Allah adalah meyakini bahwa Allah adalah Rabb alam semesta, Allah adalah pencipta dan pengatur alam semesta; Allah-lah yang berhak ditujukan ibadah dan bukan selain-Nya; dan Allah memiliki nama dan sifat yang sempurna yang tidak boleh seseorang mensifati-Nya dengan makhluk-Nya, tidak boleh nama dan sifat tersebut ditolak keseluruhan atau pun sebagiannya setelah datang penjelasan mengenai hal ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Batasan wajib dalam beriman kepada malaikat adalah mengimani bahwa Allah memiliki makhluk yang disebut malaikat yang memiliki tugas tertentu, di antaranya adalah ada yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para Nabi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Batasan wajib dalam beriman kepada kitab-kitab Allah adalah meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab kepada para rasul yang dikehendaki-Nya; kitab tersebut adalah kalam-Nya (firman-Nya); dan di antara kitab-kitab tersebut adalah Al Qur’an dan juga merupakan kalam-Nya (firman-Nya).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Batasan wajib dalam beriman kepada para rasul adalah meyakini dengan yakin (tanpa ragu-ragu) bahwa Allah mengutus rasul kepada hamba-Nya; dan rasul terakhir adalah Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">‘alaihi wa salam</span></i><span style="font-weight: 400;">, seseorang harus beriman kepadanya dan mengikuti petunjuknya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Batasan wajib dalam beriman kepada hari akhir adalah meyakini bahwa Allah menjadikan suatu hari di mana manusia akan dihisab (diperhitungkan); mereka akan kembali, akan dibangkitkan dari kubur-kubur mereka, akan bertemu Rabb mereka dan setiap orang akan dibalas; di mana orang yang berbuat baik akan dibalas dengan surga sedangkan orang yang kufur akan dimasukkan dalam neraka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Batasan wajib dan beriman kepada takdir yang baik dan buruk adalah meyakini bahwa Allah telah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi dan Allah telah mencatatnya di Lauhul Mahfuzh; meyakini pula bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi; dan meyakini bahwa segala sesuatu telah diciptakan-Nya termasuk perbuatan hamba.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap muslim harus memiliki kadar keimanan yang wajib ini. Jika tidak memenuhi kadar keimanan yang wajib ini, maka dia tidak disebut seorang muslim.</span></p>
<h2><b>Tingkatan Ketiga : Ihsan</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits Jibril, tingkatan Islam yang ketiga ini memiliki satu rukun. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan mengenai ihsan yaitu ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, Allah akan melihatmu.</span></i><span style="font-weight: 400;">’ Itulah pengertian ihsan dan rukunnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam pengertian ihsan ini terdapat dua tingkatan. Tingkatan pertama disebut tingkatan </span><i><span style="font-weight: 400;">musyahadah</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu </span><span style="font-weight: 400;">seseorang beribadah kepada Allah, seakan-akan dia melihat-Nya</span><span style="font-weight: 400;">. Perlu ditekankan bahwa yang dimaksudkan di sini adalah </span><b>bukan</b><span style="font-weight: 400;"> melihat zat Allah, namun </span><span style="font-weight: 400;">melihat sifat-sifat-Nya</span><span style="font-weight: 400;">. Apabila seorang hamba sudah memiliki ilmu dan keyakinan yang kuat terhadap sifat-sifat Allah, dia akan mengembalikan semua tanda kekuasaan Allah pada sifat-sifat-Nya. Dan inilah tingkatan tertinggi dalam derajat Ihsan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tingkatan kedua disebut dengan tingkatan </span><i><span style="font-weight: 400;">muroqobah</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu </span><span style="font-weight: 400;">apabila seseorang tidak mampu memperhatikan sifat-sifat Allah, dia yakin Allah melihatnya</span><span style="font-weight: 400;">. Dan tingkatan inilah yang banyak dilakukan oleh banyak orang. Apabila seseorang mengerjakan shalat, dia merasa Allah memperhatikan apa yang dia lakukan, lalu dia memperbagus shalatnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam tingkatan ihsan ini ada juga </span><span style="font-weight: 400;">kadar wajib</span><span style="font-weight: 400;"> yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang akan membuat keislamannya menjadi sah. Kadar yang wajib di sini adalah seseorang harus memperbagus amalannya dengan </span><span style="font-weight: 400;">mengikhlaskannya kepada Allah dan harus mencocoki amalan tersebut dengan petunjuk Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Adapun kadar yang disunnahkan (dianjurkan) adalah seseorang beramal pada tingkatan </span><i><span style="font-weight: 400;">muroqobah</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau </span><i><span style="font-weight: 400;">musyahadah</span></i><span style="font-weight: 400;"> sebagaimana dijelaskan di atas.</span></p>
<h2><b>Pelajaran Penting</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesuatu yang perlu diperhatikan mengenai definisi Islam, Iman dan Ihsan. Jika Islam itu disebutkan secara bersendirian, yang dimaksudkan adalah seluruh ajaran agama ini baik keyakinan, perkataan maupun perbuatan. Contoh ini terdapat pada firman Allah (yang artinya),”</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah </span></i><i><span style="font-weight: 400;">Islam</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (QS. Ali Imron [3] : 19). Namun, jika Islam disebutkan bergandengan dengan keimanan (</span><i><span style="font-weight: 400;">i’tiqod</span></i><span style="font-weight: 400;">) -sebagaimana yang terdapat dalam hadits Jibril ini-, maka yang dimaksudkan dengan Islam di sini adalah </span><b>amal lahiriyah</b><span style="font-weight: 400;">. Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah (yang artinya),”</span><i><span style="font-weight: 400;">Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah </span></i><i><span style="font-weight: 400;">beriman</span></i><i><span style="font-weight: 400;">“. Katakanlah: “Kamu </span></i><i><span style="font-weight: 400;">belum beriman</span></i><i><span style="font-weight: 400;">, tapi katakanlah ‘kami telah berislam (tunduk)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al Hujuraat [49] : 14)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga dengan iman. Jika iman itu disebutkan secara sendirian, maka yang dimaksudkan adalah agama Islam secara kesuluruhan. Namun, jika iman disebut bergandengan dengan Islam (amalan lahiriyah) -sebagaimana yang terdapat dalam hadits Jibril ini-, maka yang dimaksudkan dengan iman di sini adalah mencakup </span><b>amal bathin</b><span style="font-weight: 400;">. Hal ini dapat dicontohkan pada firman Allah (yang artinya),”</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan </span></i><i><span style="font-weight: 400;">orang-orang yang beriman</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. An Nisa’ : 57). Maka yang dimaksudkan dengan orang yang beriman di sini adalah orang yang melakukan amalan bathin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan ihsan adalah memperbaiki</span><b> amalan lahir maupun bathin</b><span style="font-weight: 400;">. Gabungan dari ketiganya disebut dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">Ad Diin</span></i><span style="font-weight: 400;"> yaitu agama Islam itu sendiri.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Allahumanfa’ana bima ‘alamatana, wa ‘alimnaa maa yanfa’una wa zidna ‘ilmaa.</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><b>Sumber Rujukan</b><span style="font-weight: 400;"> : (1) </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarhul ‘Arbain An Nawawiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin; (2) </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarhul ‘Arbain An Nawawiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Sholih Alu Syaikh; (3) </span><i><span style="font-weight: 400;">Ma’arijul Qobul II</span></i><span style="font-weight: 400;">, Al Hafizh Al Hakami</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/12411-buku-referensi-belajar-islam-dari-dasar.html"><strong>Buku Referensi Belajar Islam dari Dasar</strong></a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/11511-tingkatan-marifat-tidak-lagi-ibadah.html"><strong>Tingkatan Marifat Tidak Lagi Ibadah</strong></a></span></li>
</ul>
<p><strong>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</strong></p>
<p><strong>Artikel https://rumaysho.com</strong></p>
 