
<p>Di antara bentuk kekeliruan dalam memahami penjelasan para ulama tafsir dalam menjelaskan ayat-ayat <em>Al Qur’an</em> adalah sikap pilih-pilih pendapat ahli tafsir sesuai hawa nafsu.</p>
<p>Seperti kasus yang dahulu pernah ramai tentang tafsir surat <em>Al-Maidah</em> ayat 51,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ</span></p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebagian mereka adalah auliya bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim”.</em></p>
<p>Apa makna “<em>auliya</em>” dalam ayat ini?</p>
<p>Memang banyak tafsiran ulama tentang makna <em>auliya</em>. Di antara ulama ada yang menafsirkan <em>auliya</em> artinya <em>walijah </em>(orang kepercayaan). Ulama lain menafsirkan <em>auliya</em> artinya orang yang diberikan loyalitas. Ulama lain menafsirkan <em>auliya</em> artinya teman dekat. Ulama lain menafsirkan <em>auliya</em> artinya orang yang dicintai. Ulama lain menafsirkan <em>auliya</em> artinya pemimpin dan pejabat strategis.</p>
<p>Lalu pengikut hawa nafsu seenaknya berkata, <em>“Ah kalo saya pilih tafsiran auliya yang artinya teman dekat. Jadi kalau non-Muslim jadi pemimpin, tidak apa-apa”</em>. Ini sikap yang keliru dari orang-orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai panutannya. Padahal, ketika tafsiran para ulama itu tidak saling kontradiktif, sikap yang benar adalah menggabungkan semuanya. Para ulama <em>rahimahumullah </em>mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الجمع مقدَّم على الترجيح</span></p>
<p>“Menggabungkan (semua pendapat) lebih didahulukan daripada memilih salah satu”.</p>
<p>Sehingga makna <em>auliya </em>adalah teman dekat, orang kepercayaan, orang yang dicintai, orang yang diberikan loyalitas, dan juga pemimpin. Semua ini hendaknya tidak mengambil dari non-Muslim. Dan para ulama juga sepakat (tidak ada <em>khilaf</em>) tentang terlarangnya menjadikan orang kafir sebagai pemimpin.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/62126-dua-jenis-tilawah-al-quran.html" data-darkreader-inline-color="">Dua Jenis Tilawah Al-Qur’an</a></strong></p>
<p>Kemudian, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> menjelaskan dalam kitab <em>Muqaddimatut Tafsir,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الخلاف بين السلف في التفسير قليل، وخلافهم في الأحكام أكثر من خلافهم في التفسير، وغالب ما يصح عنهم من الخلاف يرجع إلى اختلاف تنوع لا اختلاف تضاد</span></p>
<p>“<em>Khilaf di antara para salaf dalam masalah tafsir itu sedikit. Dan khilaf mereka dalam masalah fikih lebih banyak daripada dalam tafsir. Dan umumnya ketika ada khilaf di antara salaf dalam masalah tafsir, itu adalah khilaf tanawwu’ (variasi), dan bukan khilaf tadhad (kontradiksi)</em>“.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اختلاف التنوع معناه أنه يجمع بين القولين في الجنس ويختلفان في النوع، فيكون الجنس اتفق عليه القائلان ولكن النوع يختلف، وحينئذ لا يكون هذا اختلافاً؛ لأن كل واحد منهما ذكر نوعاً كأنه على سبيل التمثيل</span></p>
<p>“<em>Ikhtilaf tanawwu’ maknanya adalah dua pendapat yang ada sebenarnya sama kategorinya, namun berbeda macamnya. Sehingga kedua ulama tafsir yang berbeda tadi sebenarnya sependapat namun hanya berbeda macam tafsirnya saja.</em></p>
<p><em>Dengan demikian, maka <strong>sejatinya ini bukan ikhtilaf</strong>. Karena masing-masing dari pendapat tersebut menyebut salah satu macam (dari hal yang sama), seolah-olah untuk memberikan contohnya</em>” (<em>Syarah Muqaddimatut Tafsir</em>, hal. 30).</p>
<p>Misalnya dalam memahami ayat</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ</span></p>
<p><em>“Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan “lahwal hadits” untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah, tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”</em> (QS. Luqman: 6).</p>
<p>Jumhur ulama tafsir menafsirkan “<em>lahwal hadits</em>” dengan <em>al-ghinaa’</em> (nyanyian dengan musik). Sebagian ulama, menafsirkan “<em>lahwal hadits</em>” dengan semua bentuk <em>lahwun </em>(kesia-siaan).</p>
<p>Ini sebenarnya bukan <em>ikhtilaf</em>. Kalau kita paham penjelasan di atas, maka cara memahami tafsiran para ulama tentang ayat ini dengan benar adalah bahwa ayat melarang semua bentuk <em>lahwun</em>, dan salah satu contoh <em>lahwun </em>adalah musik. Sehingga dengan kata lain, ayat ini mengharamkan semua bentuk <em>lahwun </em>dan juga mengharamkan musik. Semua pendapat digabungkan, bukan dipilih-pilih seenaknya.</p>
<p>Dari sini jelas kekeliruan orang yang mengatakan, <em>“Ah, kalo saya pilih pendapat yang menafsirkan lahwal hadits dengan semua bentuk lahwun. Jadi bagi saya musik halal”</em>. Padahal ulama 4 mazhab telah sepakat dalam mengaramkan musik.</p>
<p>Semoga Allah <em>Ta’ala </em>memberi taufik dan hidayah.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/30038-keutamaan-mempelajari-tafsir-alquran.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Mempelajari Tafsir Alquran</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29926-tadabbur-alquran-cara-dahsyat-meningkatkan-iman.html" data-darkreader-inline-color="">Tadabbur Alquran, Cara Dahsyat Meningkatkan Iman</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><strong><span style="color: #000000; --darkreader-inline-color: #f2f0ed;" data-darkreader-inline-color="">Penulis:</span> <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color="">Yulian Purnama</a></span></strong></span></p>
<p><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><span style="color: #000000; --darkreader-inline-color: #f2f0ed;" data-darkreader-inline-color="">Artikel:</span><a href="http://Muslim.or.id"> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 