
<p>Ketahanan iman dan kekokohannya sangat dibutuhkan dalam menghadapi fitnah kehidupan dunia ini. Kesempurnaan iman menjadi satu keharusan dalam mempertahankan kekokohan hati dan kesabarannya. Karena itu upaya mengetahui dan mengamalkan semua sebab yang mengantar kita dalam menyempurnakan iman harus diwujudkan.</p>
<p>Nah diantara sebab-sebab penyempurna iman adalah mengenal Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dan sejarah hidupnya yang meliputi sifat-sifat mulia dan budi pekerti beliau yang sangat luhur sekali, sebagaimana disifatkan Allah <em>Ta’ala</em> dalam firmanNya:</p>
<p style="text-align: right;">وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ</p>
<p><i>“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” </i>(Qs. al-Qalam:4).</p>
<p>Disamping keluhuran budi pekerti Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> juga adalah utusan yang Allah <em>Ta’ala</em> angkat untuk menjelaskan kepada manusia cara ibadah pengabdian yang benar. Dengan ibadah yang benar inilah seorang dapat menyempurnakan sifat kemanusiaannya, sebab Allah <em>Ta’ala</em> menciptakan manusia untuk beribadah kepadaNya sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ</p>
<p>“<em>Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (ibadah) kepada-Ku</em>” (Qs.Adz-Dzariyaat : 56).</p>
<p>Jelaslah ukuran manusai yang sempurna sesuai dengan kesempurnaan peribadahan kepada sang penciptanya.</p>
<p>Kebahagian pun diraih manusia bila tujuan penciptaannya tersebut terwujudkan secara sempurna. Hal ini tidak dapat diwujudkan tanpa mengikuti dan mencontoh Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> .</p>
<p>Imam Ibnu al-Qayyim <em>rahimahullah</em> menjelaskan hal ini dengan cukup indah dalam ungkapan beliau: “Tidak ada jalan menggapai kebahagian dan kesuksesan didunia dan akherat kecuali ada ditangan para Rasul. Tidak ada juga cara mengenal yang baik dan buruk secara terperinci kecuali dari sisi mereka. Demikian juga tidak dapat diraih keridhaan Allah <em>Ta’ala</em> sama sekali kecuali ditangan mereka. Yang baik dari prilaku, perkataan dan akhlak hanyalah ada pada petunjuk dan ajaran mereka. Merekalah timbangan yang pas untuk menimbang seluruh perkataan dan perbuatan serta akhlak manusia dengan perkataan dan perbuatan serta akhlak mereka. Dengan mengikuti mereka terpisahlah orang yang mendapat petunjuk dengan yang sesat. Kebutuhan mendesak kepada para rasul lebih besar dari pada kebutuhan badan kepada ruhnya dan mata kepada cahayanya serta ruh kepada kehidupannya. Semua kebutuhan yang harus ditunaikan segera maka kebutuhan mendesak kepada para Rasul diatas itu semua” (<em>Zaad al-Ma’ad,</em> 1/79).<sup><a href="#sdfootnote1sym"><sup><br>
</sup></a></sup></p>
<p>Beliau pun menambahkan: “Apabila kebahagian hamba di dunia dan akherat bergantung kepada petunjuk Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, maka wajib pada setiap orang yang ingin kebaikan untuk dirinya dan ingin kesuksesan dan kebahagian untuk mengetahui ajaran, sejarah hidup dan semua urusan Rasul <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> yang dapat mengeluarkannya dari lingkungan orang-orang bodoh dan memasukkannya kedalam hitungan pengikut, pendukung dan golongan beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. orang dalam permasalahan ini ada yang mendapatkan sedikit, ada yang banyak dan ada yang tidak mendapatkannya sama sekali” (<em>Zaad al-Ma’ad,</em> 1/70).<sup><a href="#sdfootnote2sym"><sup><br>
</sup></a></sup></p>
<p>Oleh karena itu, semakin kita mempelajari dan merenungkan sifat-sifat nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> yang disampaikan dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits serta kitab-kitab sejarah nabi (<em>sirah nabawiyyah</em>) semakin banyak juga mendapatkan kebaikan dan kecintaan kepada beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> serta cinta untuk mengikuti perkataan dan perbuatan beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. secara otomatis akan menumbuhkan keimanan yang bertambah sempurna terhadap Allah yang mengutus beliau dan ajaran keimanan dan islam yang beliau telah sampaikan kepada seluruh manusia.</p>
<p>Dengan demikian mengenal sejarah beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> menjadi sebab seorang langsung beriman sebagaimana imannya Abu Bakar sahabat beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> yang paling tahu keadaan beliau sebelum kenabian dan sesudahnya. Juga akan menambah keimana orang yang telah beriman kepada beliau. Oleh karenanya Allah <em>Ta’ala</em> menganjurkan kita untuk merenungkan keadaan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> yang menjadi faktor pendorong keimanan dalam firmanNya:</p>
<p style="font-size: 18px; text-align: right;">قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ</p>
<p>Katakanlah: “<em>Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, Yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras” </em>(Qs. Sabaa` : 46).</p>
<p>Semoga kita semua diberi taufiq untuk mengenal sejarah kehidupan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> agar menjadi hambaNya yang kokoh dan kuat imannya.</p>
<p><em>Wabillahitatufiq</em></p>
<p> </p>
<div>
<p>—</p>
<p>Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.<br>
Artikel <a href="https://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
</div>
 