
<p>Cemburu merupakan suatu  faktor yang menyertai kebanyakan problem kejiawaan pada diri anak-<a href="https://muslimah.or.id/tag/anak">anak</a>. Adapun  yang dimaksud disini adalah cemburu yang tidak sehat, yang dapat merusak diri  anak-anak, bahkan terkadag merupakan sebab frustuasinya dan bisa  menghadapkannya pada problem kejiwaan.</p>
<p>Cemburu juga merupakan salah  satu perasaan alami yang ada pada diri manusia, seperti halnya cinta. Maka  keluarga hendaknya bisa menerimanya dengan nyata, namun dalam waktu yang sama  tidak pula mengabaikan perkembangannya.</p>
<p>Cemburu merupakan sarana  yang akan mengantarkan seorang anak pada kurangnya kepercayaan terhadap dirinya  sendiri, ataupun membangkitkannya untuk melakukan permusuhan, perusakan dan  juga kemarahan.</p>
<p>Cemburu merupakan perasaan  menyakitkan yang muncul karena berbagai keadaan, seperti: kelahiran anak baru  pada sebuah keluarga, atau sang anak merasa gagal mewujudjkan  harapan-harapannya dan berhasilnya anak lain mewujudkan harapan tersebut,  ataupun perasaan memiliki kekurangan akibat dari kegagalan perasaan tersebut.</p>
<p>Pada dasarnya cemburu  merupakan perasaan terkombinasi antara perasaan senang untuk berkuasa (unggul)  dan perasaan benci (marah). Terkadang perasaan cemburu pada diri seseorang itu  disertai dengan perasaan benci (marah), baik terhadap dirinya sendiri ataupun  terhadap rekan-rekannya yang mampu mewujudkan tujuan-tujuan mereka, sementara  dia tidak mapu mewujudkannya.</p>
<p>Terkadang perasaan cemburu  ini disertai dengan gejala-gejala lain, seperti: memberotak, memfitnah,  perasaan jengkel, merusak, membangkang, ataupun sifat durhaka. Dan terkadang  pula disertai gejala-gejala sejenis yang menyertai perasaan marah (kebencian)  yang menyebabkan kondisi frustasi. Seperti apatis, perasaan malu, sensitif,  perasaan lemah ataupun hilangnya selera dan juga hasrat dalam berbicara.</p>
<p>Rasa cemburu merupakan  persoalan serius bagi kehidupan seseorang yang mengakibatkan konflik kejiwaan  yang beraneka ragam. Ia juga akan memunculkan resiko-resiko yang tak disadari  bagi dirinya pribadi dan juga sosial. Yakni dengan munculnya gejala-gejala  sikap yang beraneka macam, diantaranya: mengompol, mengisap jari, menggit kuku,  hasrat untuk menarik perhatian orag lain, serta berusaha memperoleh kasih  saying mereka dengan berbagi cara. Atau berpura-pura menunjukkan rasa sakit,  takut, goncang, ataupun menampakkan rasa permusuhan dengan terang-terangan.</p>
<p>Untuk menangani perasaan  cemburu dan menjaganya dari dampak-dampak negatif, upaya-upaya yang hendaknya  dilakukan antara lain:</p>
<ul>
<li> Mengetahui sebab-sebab dan  juga penanganannya.</li>
<li> Membuat sang anak bisa  merasakan nilai (harga) diri dan juga keberadaannya ditengah-tengah keluarga,  sekolah, dan diantara teman-temannya.</li>
<li> Membiasakan anak untuk ikut  serta dalam mencintai anak/orang lain.</li>
<li> Mengajarkan kepada anak  sejak kecil bahwa hidup itu menerima dan memberi, dan sesungguhnya wajib bagi  setiap manusia untuk menghormati hak-hak orang lain.</li>
<li> Membiasakan anak dalam  persainan yang sehat, dengan bersikap sportif terhadap orang lain.</li>
<li> Membangkitkan rasa percaya  diri dalam jiwa anak dan meringankan ketajaman perasaan dengan kekurangan  ataupun kelemahan pada dirinya.</li>
<li> Mewujudkan hubungan-hubungan  yang ditegakkan dengan pondasi kebersamaan dan keadilan, tanpa membeda-bedakan  ataupun melebihkan atas yang lain, apapun itu jenis kelaminnya, usia, ataupun  kemampuan. Jangan memfavoritkan dan jangan pula mengistimewakan, akan tetapi  pergaulilah dengan sama.</li>
<li> Membiasakan anak untuk bisa  menerima keunggulan dan juga kekalahan. Yaitu berusaha mewujudkan keberhasilan  dengan mencurahkan dengan segala kesungguhan, tanpa harus merasa cemburu dengan  keunggulan anak lain atas dirinya, sehingga dapat mencegahnya dari kehilangan  rasa percaya diri.</li>
<li> Membiasakan anak yang egois  untuk menghormati, menghargai, serta memberikan rasa simpati terhadap sebuah  kebersamaan. Dan juga menyertakan anak tersebut dalam berbagai permainan dan  peralatan yang dimilikinya.</li>
<li> Hendaknya orangtua bersikap  teguh terhadap hal-hal yang berkaitan dengan perasaan cemburu pada diri anak.  Tidak menampakkan kegoncangan dan juga perhatian yang berlebihan terhadap  perasaan-perasaan tersebut. Dan tidak mengabaikan anak yang pasif, dimana  perasaan-perasaan cemburu tidak nampak pada dirinya.</li>
<li> Pada kondisi kelahiran anak  baru, maka tidak boleh mengabaikan anak yang besar dan memberikan perhatian  kepada si kecil lebih dari selazimnya. Hendaknya memperhatikan si bayi sesuai  dengan kadar kebutuhannya, dan bayi tidaklah membutuhkan hal yang berlebihan.</li>
<li> Hendaknya orangtua menahan  diri dari sikap membanding-bandingkan secara terang-terangan. Namun hendaknya  menganggap bahwa setiap anak itu sebagai pribadi yang memiliki perbekalan dan  keistimewaan khusus yang ada pada dirinya.</li>
<li> Menumbuhkan hobi yang  berbeda diantara saudara-saudaranya, agar setiap anak akan unggul pada  masing-masing bidangnya, sehingga bisa menilai dan menghargainya tanpa harus  membandingkannya dengan yang lain.</li>
<li> Tidak berlebihan dalam  mengistimewakan anak yang sakit. Sesungguhnya hal ini dapat menimbulkan cemburu  diantara saudara-saudaranya yang sehat.</li>
</ul>
<p>***<br>
artikel <a href="https://muslimah.or.id/">muslimah.or.id</a><br>
Diringkas dari buku <em>Mengatasi  Rewel Si Kecil</em>, Asma’ binti Ahmad Al-Bahishy, Pustaka Ausath</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 