
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Marilah Mengagungkan dan Melaksanakan Ajaran Nabi </strong></span></h2>
<p>Kita dapat melihat dalam beberapa ayat telah dijelaskan mengenai pentingnya menaati dan mengagungkan ajaran (petunjuk) beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> serta bahaya meninggalkannya. Di antaranya, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;" align="right"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ</span></p>
<p>“<em>Barang siapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah</em>.” (QS. An Nisa’ 4: 80)</p>
<p class="arab" style="text-align: center;" align="right"><span style="font-size: 21pt;">فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ</span></p>
<p>“<em>Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih</em>.” (QS. An Nur 24: 63)</p>
<p class="arab" style="text-align: center;" align="right"><span style="font-size: 21pt;">وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ</span></p>
<p>“<em>Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.</em>” (QS. An Nur 24: 54)</p>
<p class="arab" style="text-align: center;" align="right"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (1) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2)</span></p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu , sedangkan kamu tidak menyadari.</em>” (QS. Al Hujuraat 49: 2). Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Ini adalah adab yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya yang beriman ketika berinteraksi dengan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yaitu hendaklah mereka menghormati dan mengagungkannya.”</p>
<p>Hal ini juga dapat dilihat dalam hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> seolah-olah inilah nasehat terakhir Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menasehati para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;" align="right"><span style="font-size: 21pt;">« فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ »</span></p>
<p>“<em>Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.</em>” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban. At Tirmidizi mengatakan hadits ini <em>hasan shohih</em>. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat <em>Shohih At Targhib wa At Tarhib</em> no. 37)</p>
<p>Salah seorang <em>khulafa’ur rosyidin</em> dan manusia terbaik setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>Abu Bakar Ash Shiddiq <em>radhiyallahu ‘anhu </em>mengatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;" align="right"><span style="font-size: 21pt;">لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ</span></p>
<p>“<em>Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang</em>.” (Lihat <em>Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud, </em>Syaikh Al Albani mengatakan bahwa <em>atsar</em> ini <em>shohih</em>)</p>
<p>Ibnu Baththoh dalam <em>Al Ibanah</em>, 1/246, mengomentari perkataan Abu Bakar di atas, beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Inilah, wahai saudaraku! Orang yang paling <em>shiddiq</em> (paling jujur) seperti ini saja masih merasa takut dirinya akan menyimpang jika dia menyelisihi sedikit saja dari perintah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Bagaimana lagi dengan orang yang mengejek Nabi dan perintahnya (ajarannya), membanggakan diri dengan menyelisihinya, mencemooh petunjuknya (ajarannya). -Kita memohon kepada Allah agar terjaga dari kesalahan dan agar terselamatkan dari amal yang jelek-</p>
<p>Imam Syafi’iy <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.”</p>
<p>Imam Ahmad <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Barang siapa menolak hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka dia telah berada dalam jurang kebinasaan.”</p>
<p>Imam Malik bin Anas <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Sunnah (petunjuk Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>) adalah perahu/kapal Nabi Nuh. Siapa saja yang menaikinya (melaksanakan petunjuk Nabi) pasti akan selamat, sedangkan yang menyelisihinya pasti akan tenggelam.” (Dinukil dari <em>Ta’zhimus Sunnah</em>, hal. 13-17, Abdul Qoyyum As Sahyabaniy)</p>
<p>Dari ayat, hadits, dan perkataan para ulama di atas, nampak jelas bahwa seorang muslim hendaknya selalu mengagungkan ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, menaatinya dan mengikutinya. Itulah sikap seorang muslim yang benar, bukan malah mengejek dan mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan agama ini. Seharusnya seorang muslim mencela orang yang tidak shalat, mencela wanita-wanita yang tidak memakai jilbab atau yang memakai jilbab tetapi cuma sekedar aksesoris dan bukan menutupi aurat yang wajib ditutupi. Kenapa kaum muslimin malah sebaliknya? Kenapa malah mencela orang yang seharusnya tidak dicela? Ini adalah suatu pencelaan yang tidak adil.</p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Kisah-Kisah Orang yang Meremehkan Ajaran Nabi </strong></span></h2>
<p>Berikut kami akan membawakan kisah-kisah orang yang meremehkan atau tidak mau mengindahkan ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan akibat yang mereka peroleh di dunia. Sebagian kisah ini diperoleh dari Sunan Ad Darimi pada Bab <span style="text-decoration: underline;">‘Disegerakannya hukuman di dunia bagi orang yang meremehkan perkataan Nabi dan tidak mengagungkannya’</span><em>.</em></p>
<h3><span style="font-size: 17pt;"><strong>Kisah Pertama: Kerabat dekat tidak mau diajak bicara lagi karena meremehkan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang <em>khodzaf</em></strong></span></h3>
<p><em>Khodzaf</em> adalah melempar batu atau kerikil antara dua jari telunjuk atau antara ibu jari dan jari telunjuk atau antara bagian luar jari tengah dan bagian dalam ibu jari. Inilah sebagian pengertian <em>khodzaf</em> sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bari</em> 15/412.</p>
<p>Dari Sa’id bin Jubair dari Abdullah bin Mughoffal, beliau mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang <em>khodzaf</em> Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;" align="right"><span style="font-size: 21pt;">« إِنَّهَا لاَ تَصْطَادُ صَيْداً وَلاَ تَنْكِى عَدُوًّا، وَلَكِنَّهَا تَكْسِرُ السِّنَّ وَتَفْقَأُ الْعَيْنَ »</span></p>
<p><em>“Binatang buruan itu tidak bisa ditangkap dengan khodzaf dan tidak bisa digunakan untuk memerangi musuh. Khodzaf itu hanya mematahkan gigi dan mencungkil mata.” </em></p>
<p>Kemudian seseorang -yang masih ada hubungan keluarga dengan Sa’id- mengambil sesuatu di tanah. Lalu dia berkata, “Lihatlah ini. Tahukah yang akan diperbuat?” Kemudian Sa’id mengatakan, “Bukankah aku telah memberitahukan kepadamu hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu engkau menganggap remeh? <strong>Sungguh, aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya</strong>.”</p>
<p>Husain Salim Asad mengatakan bahwa hadits ini juga terdapat dalam shohih Bukhari-Muslim dan sanadnya <em>shohih</em>.</p>
<h3><span style="font-size: 17pt;"><strong>Kisah Kedua: Tidak mau diajak bicara lagi karena meremehkan hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong></span></h3>
<p>Dari Qotadah, beliau berkata bahwa Ibnu Sirin mengatakan kepada seseorang sebuah hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Kemudian dia mengatakan, “Akan tetapi si A mengatakan demikian dan demikian.” Lalu Ibnu Sirin mengatakan, “Saya mengatakan kepadamu hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu kamu malah berkata si A mengatakan demikian dan demikian? <strong>Aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya</strong>.”</p>
<p>Husain Salim Asad mengatakan bahwa jalur dari Sa’id bin Basyir, itu sanadnya berderajat hasan.</p>
<h3><span style="font-size: 17pt;"><strong>Kisah Ketiga: Tertimpa kecelakaan karena tidak mau menghiraukan hadits Nabi yang melarang keluar masjid setelah adzan</strong></span></h3>
<p>Abdurrahman bin Harmalah mengatakan, “Seorang laki-laki datang menemui Sa’id bin Al Musayyib untuk menitipkan sesuatu karena mau berangkat haji dan umroh. Lalu Sa’id mengatakan kepadanya, “Janganlah pergi, hendaklah kamu shalat terlebih dahulu karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;" align="right"><span style="font-size: 21pt;">« لاَ يَخْرُجُ بَعْدَ النِّدَاءِ مِنَ الْمَسْجِدِ إِلاَّ مُنَافِقٌ إِلاَّ رَجُلٌ أَخْرَجَتْهُ حَاجَتُهُ وَهُوَ يُرِيدُ الرَّجْعَةَ إِلَى الْمَسْجِدِ »</span></p>
<p>“<em>Tidaklah keluar dari masjid setelah adzan kecuali orang munafik atau orang yang ada keperluan dan ingin kembali lagi ke masjid.</em>”</p>
<p>Lalu orang ini mengatakan, “(Tetapi) teman-temanku sedang menunggu di Al Harroh.” Lalu dia keluar (dari masjid). Belum lagi Sa’id menyayangkan kepergiannya, tiba-tiba dikabarkan orang ini telah jatuh dari kendaraannya sehingga pahanya patah.”</p>
<p>Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.</p>
<p>Tambahan kisah berikut, kami peroleh dari sumber rujukan lainnya.</p>
<h3><span style="font-size: 17pt;"><strong>Kisah Keempat: Diperintahkan makan dengan tangan kanan namun enggan</strong></span></h3>
<p>Terdapat sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p class="arab" style="text-align: center;" align="right"><span style="font-size: 21pt;">عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ حَدَّثَنِى إِيَاسُ بْنُ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ</span></p>
<p>Dari Ikrimah bin ‘Ammar, (beliau berkata) Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ telah berkata bahwa ayahnya mengatakan kepadanya (yaitu) ada seorang laki-laki makan dengan <span style="text-decoration: underline;">tangan kirinya</span> di dekat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Lalu beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan, “<em>Makanlah dengan tangan kananmu</em>.” Lalu dia mengatakan, “<em>Aku tidak mampu</em>.” Maka beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata, “Engkau memang tidak akan mampu”. Tidak ada yang menghalanginya untuk menaati Nabi kecuali rasa sombong. Akhirnya, dia tidak bisa lagi mengangkat tangan kanannya ke mulut. (HR. Muslim no. 5387)</p>
<p>An Nawawi dalam <em>Syarh Shohih Muslim</em> mengatakan, “Perkataan ‘<em>Tidaklah ada yang menghalanginya kecuali rasa sombong’</em>, ini bukan berarti dia adalah munafik. Karena semata-mata ada rasa sombong dan menyelisihi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tidaklah mengharuskan adanya nifak dan kekufuran dalam diri seseorang. Akan tetapi perbuatan ini adalah maksiat, mengingat perintah itu adalah perintah yang harus diperhatikan.”</p>
<h3><span style="font-size: 17pt;"><strong>Kisah Kelima: Menganggap remeh sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>ketika bangun tidur di malam hari</strong></span></h3>
<p>Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il At Taimiy -dalam penjelasan beliau terhadap shohih Muslim- berkata, “Aku telah membaca di sebagian kisah (hikayat) mengenai sebagian ahli bid’ah ketika mendengar hadits Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p class="arab" style="text-align: center;" align="right"><span style="font-size: 21pt;">إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ فِى الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثًا فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ</span></p>
<p>“<em>Jika salah seorang di antara kalian bangun tidur, maka janganlah dia mencelupkan tangannya di dalam bejana sampai dia mencucinya tiga kali terlebih dahulu, karena dia tidak tahu di manakah tangannya bermalam.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dalam rangka mengejek, ahli bid’ah ini berkata, “Ya, saya tahu ke mana tangan saya bermalam di ranjang!!” Lalu tiba-tiba pada saat pagi, dia dapati tangannya berada dalam dubur sampai pergelangan tangan.</p>
<p>At Taimiy berkata, “Oleh karena itu hendaklah seseorang berhati-hati untuk meremehkan sunnah (petunjuk) Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan kondisi-kondisi yang menuntut diam. Lihatlah apa yang terjadi pada orang ini karena akibat dari perbuatannya.” (<em>Bustanul ‘Arifin li An Nawawi</em>. Dinukil dari <em>Ta’zimus Sunnah</em>, hal. 19-20, Darul Qosim)</p>
<p><strong>Baca pembahasan selanjutnya: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/91-mengikuti-ajaran-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-bukanlah-teroris-6.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Mengikuti Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah Teroris (6)</a></span></strong></p>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal, S.T.</strong><br>
<strong><em>(Penuntut Ilmu di Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)</em></strong><br>
<strong>Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar</strong><br>
<strong>Artikel www.muslim.or.id</strong></p>
 