
<h4 style="text-align: center;">Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah</h4>
<p><b>Soal:</b></p>
<p>Jika saya tertidur dan belum sempat mengerjakannya di malam hari, apakah boleh saya meng-<i>qadha</i>-nya? Jika boleh, kapan meng-<i>qadha</i>-nya?</p>
<p> </p>
<p><b>Jawab:</b></p>
<p>Yang sunnah, hendaknya meng-<i>qadha</i> shalat witir di waktu dhuha setelah matahari meninggi sebelum ia tegak lurus. Dengan jumlah rakaat yang genap, tidak ganjil.</p>
<p>Misalnya jika anda biasa shalat witir 3 rakaat di malam hari, lalu ia tertidur atau terlupa maka anda disyariatkan untuk meng-<i>qadha</i>-nya di siang hari sebanyak 4 rakaat dengan dua salam.</p>
<p>Jika anda biasa shalat witir 5 rakaat di malam hari, lalu ia tertidur atau terlupa maka anda disyariatkan untuk meng-<i>qadha</i>-nya di siang hari sebanyak 6 rakaat dengan tiga salam. Demikian seterusnya untuk rakaat yang banyak dari itu.</p>
<p>Berdasarkan hadits dari ‘Aisyah <i>radhiallahu’anha</i>, ia berkata:</p>
<p style="text-align: right;">كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا شغل عن صلاته بالليل بنومٍ أو مرض صلى من النهار اثنتي عشرة ركعة</p>
<p>“<i>Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika tidak sempat shalat malam karena ketiduran atau sakit, maka beliau meng-qadha shalat tersebut di siang hari sebanyak 12 rakaat</i>” (HR. Muslim, no. 746).</p>
<p>Dan shalat witir Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> umumnya sebanyak 11 rakaat. Maka yang sunnah adalah meng-<i>qadha</i>-nya dengan rakaat yang genap, dua rakaat dua rakaat, berdasarkan hadits yang mulia tersebut. Dan juga berdasarkan sabda  Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>:</p>
<p style="text-align: right;">صلاة الليل والنهار مثنى مثنى</p>
<p>“<i>Shalat (sunnah) di malam dan siang hari, dua rakaat dua rakaat</i>” (HR. Ahmad no. 4776 dalam Musnadnya, Malik dalam Muwatha’).</p>
<p>Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Ahlus Sunan dengan sanad yang shahih, dan <em>ashl</em>-nya terdapat dalam <i>Shahihain</i> dari hadits Ibnu Umar <i>radhiallahu’anhuma</i>, namun tanpa menyebutkan “<i>dan siang hari</i>”. Namun tambahan ini shahih dalam riwayat yang kami sebutkan tadi yaitu riwayat Imam Ahmad dan Ahlus Sunan.</p>
<p><i>Wallahu waliyyut taufiq</i>.</p>
<p>Sumber: <i>Al Fatawa Al Islamiyah</i>, 1/347</p>
<p> </p>
<p>Penerjemah: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/">muslim.or.id</a></p>
 