
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh al-Babili, seorang ulama fikih bermazhab Syafi’i yang wafat tahun 1077 H mengatakan, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;">اَلْمَنُّ مِنَ الْوَالِدِ وَالْمُعَلِّمِ لَيْسَ ذَمًّا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Menyebut nyebut kebaikan di masa silam yang dilakukan oleh ortu atau guru ngaji bukanlah tindakan yang tercela.” (<em>Fath Maula al-Mawahib ‘ala Hidayah ar-Raghib</em> 1/12, <em>Muassasah ar-Risalah</em>)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menyebut nyebut atau mengingatkan jasa dan kebaikan yang pernah diberikan dan dilakukan adalah hal yang terpuji jika dilakukan oleh Allah dan ditujukan kepada para hamba-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tujuan dari hal ini agar manusia bersemangat untuk bersyukur dan beribadah kepada-Nya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hukum asalnya mengungkit ungkit kebaikan itu tercela jika dilakukan oleh manusia kepada sesama manusia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lebih tercela lagi jika manusia merasa berjasa kepada Allah dengan ibadah dan dakwah yang dilakukan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak semua tindakan seorang mengingatkan kebaikan yang pernah dilakukan kepada orang lain itu tercela. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalilnya Nabi pernah mengingatkan jasa dan kebaikan beliau kepada para shahabat Ansor ketika mereka merasa kecewa karena tidak mendapatkan bagian dari harta rampasan perang Hunain. Demikian dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengingatkan kebaikan  dan jasa dalam rangka agar orang yang diingatkan menjadi orang yang tahu berterima kasih itu diperbolehkan untuk dua jenis manusia</span></p>
<p><strong>PERTAMA:</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang tua kepada anak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang tua boleh mengingatkan jasa-jasa ortu kepada anak agar anak berbakti atau makin berbakti kepada orang tua. </span></p>
<p><strong>KEDUA:</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Guru ngaji kepada muridnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Guru ngaji diperbolehkan menyebut dan mengingatkan jasa dan kebaikannya kepada murid-muridnya untuk menanamkan nilai-nilai positif di jiwa murid-muridnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah anugerahkan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak biologis dan anak-anak ideologis (baca: murid) yang berbakti. Aamiin.</span></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.</strong></p>
 