
<p><strong>MENJAMA’ SHALAT KARENA PEKERJAAN</strong></p>
<p>Pertanyaan.<br>
Ustadz, teman saya mau bertanya. Dia bekerja di sebuah bengkel, tiap hari dia tidak bisa mengerjakan shalat Ashar tepat pada waktunya karena situasi dan kondisinya tidak memungkinkan. Juga bosnya tidak memberikan ijin karena masih jam kerja. Apakah shalat Asharnya boleh  dijamak dengan shalat Dzuhur ?</p>
<p>Jawaban.<br>
Menjama’ shalat adalah menggabungkan dua shalat (Zhuhur dengan Ashar atau Maghrib dengan ‘Isya’) dan dikerjakan pada salah satu waktu shalat tersebut. Seseorang boleh melakukan <em>jama’ taqdîm</em> dan <em>jama’ ta’khîr</em>.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p><em>Jama’ taqdîm</em> adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan pada waktu shalat pertama, yaitu  shalat Zhuhur dan shalat Ashar dikerjakan pada waktu shalat Zhuhur; Shalat Maghrib dan shalat ‘Isya’ dikerjakan pada waktu shalat Maghrib. <em>Jama’ taqdîm</em> harus dilakukan secara berurutan sebagaimana urutan shalat dan tidak boleh terbalik.</p>
<p>Adapun <em>jama’ ta’khîr</em> adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan pada waktu shalat kedua, yaitu shalat Zhuhur dan shalat Ashar dikerjakan pada waktu Ashar; Shalat Maghrib dan shalat ‘Isya’ dikerjakan dalam waktu shalat Isya’. <em>Jama’ ta’khîr</em> boleh dilakukan secara berurutan dan boleh pula tidak berurutan akan tetapi yang afdhal adalah dilakukan secara berurutan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Menjama’ shalat boleh dilakukan oleh siapa saja yang memerlukannya – baik musafir atau bukan- dan tidak boleh dilakukan terus menerus tanpa udzur. Artinya boleh dilakukan ketika diperlukan saja.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a><br>
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Sebagian imam (Ulama) berpendapat bahwa seorang yang muqim (tidak sedang bepergian) boleh menjama’ shalatnya apabila diperlukan asal tidak dijadikan kebiasaan.”<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>Ini berdasarkan perkataan Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu yang berbunyi :</p>
<p><strong>جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍقِيْلَ لِابْنِ عَبَّاسٍ لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ قَالَ كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ </strong></p>
<p><em>“Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama antara Zhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya’ di Madinah tanpa sebab takut dan hujan.” Ketika ditanyakan hal itu kepada Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Agar tidak memberatkan ummatnya.”</em><a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<p>Dengan demikian, kita tahu bahwa pensyari’atan <em>jama’</em> dalam shalat bertujuan untuk memberikan kemudahan kepada umat ini dalam masalah-masalah yang menyusahkan mereka.</p>
<p>Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa para pekerja industri dan petani apabila pada waktu tertentu mengalami kesulitan (<em>masyaqqah</em>) , seperti lokasi air yang jauh dari tempat pelaksanaan shalat, sehingga jika mereka pergi ke lokasi air dan bersuci bisa mengakibatkan hilangnya pekerjaan yang dibutuhkan. Jika demikian kondisinya, maka mereka boleh shalat di waktu <em>musytarak<a href="#_ftn6" name="_ftnref6"><strong>[6]</strong></a></em>  lalu men<em>jama’</em> (menggabungkan) dua shalat.<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<p>Berdasarkan ini, maka teman saudara boleh men<em>jama’</em> shalat bila diperlukan dan tidak dijadikan sebagai rutinitas sehari-hari.</p>
<p><em>Wall</em><em>â</em><em>hu a’lam</em>.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
________<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Lihat <em>Fiqhus Sunnah</em> 1/313-317.<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Lihat <em>Fatâwâ Muhimmah</em>, Syaikh Bin Bâz, hlm. 93-94; Kitab as-Shalah, Prof.Dr. Abdullah ath-Thayyâr, hlm. 177<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Lihat <em>Taudhîhul Ahkâm</em>, <em>al-Bassâm</em>, 2/308-310 dan <em>Fiqhus Sunnah</em>, 1/316-317.<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Lihat <em>Syarh Muslim</em>, Imam Nawawi 5/219 dan <em>al-Wajîz fi Fiqhis Sunnah wal Kitâbil Azîz</em>, hlm. 141.<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> HR. Muslim dan lain-lain. Lihat <em>Sahîhul Jâmi’</em>, no. 1070.<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> Maksudnya waktu yang diperbolehkan dua shalat dilaksanakan padanya.<br>
<a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a>  <em>Majmû’ al-Fatâwâ</em>, 21/458.</p>
 