
<p><span lang="en-US">Dusta adalah kabar yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan sudah semestinya bagi setiap muslim agar menghindarinya dalam pergaulannya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman: </span></p>
<p class="arab" align="RIGHT">…وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ</p>
<p>“<span lang="en-US"><em>Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya</em>” (Al-Isra’: [17]: 36).</span></p>
<p><span lang="en-US">Malik menyampaikan bahwa Ibnu Mas’ud berkata:</span> “<span lang="en-US"><em>Seorang hamba yang berdusta dan terus-menerus berdusta maka akan terlukis satu titik hitam di hatinya sampai rata hatinya berwana hitam, maka dia di sisi Allah akan ditulis termasuk golongan pendusta</em>.” (HR. Malik dalam kitab <em>Al-Muwatha’</em>).</span></p>
<p><span lang="en-US">Dalam masalah ini, saya ingatkan kepada setiap orang Islam agar tidak berdusta dalam segala perkara, bahkan meskipun dengan bergurau. Hendaknya dicamkan dalam diri mereka sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</span> “<span lang="en-US"><em>Tidak sempurna iman seorang hamba sampai dia meninggalkan berdusta dalam gurauan dan meninggalkan perdebatan walaupun dia dalam posisi benar</em>.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).</span></p>
<p><span lang="en-US">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> jika bergurau dengan para sahabatnya, beliau tidak berkata kecuali yang benar dan jujur, seperti tertera dalam sebuah kisah berikut:</span></p>
<p><span lang="en-US">Dari Hasan <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dia berkata, “Datanglah seorang wanita tua kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu wanita itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar memasukkanku ke dalam surga’. Maka Rasulullah menjawab, ‘<em>Wahai Ummu Fulan, sesungguhnya surga itu tidak akan dimasuki oleh orang yang renta</em>.’ Hasan melanjutkan, “Maka wanita itu berbalik pergi sambil menangis, kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘laihi wa sallam</em> bersabda, ‘<em>Beritahukan kepadanya kalau dia tidak akan memasukinya dalam keadaan tua renta. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),</em></span><em>“</em><span lang="en-US"><em>Sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya.’</em>” (Al-Waqi’ah [56]: 35-37)” (HR. At-Tirmidzi).</span></p>
<p><span lang="en-US">Dari Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bahwa ada seorang laki-laki minta tumpangan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau bersabda, “<em>Saya akan memberimu tumpangan di atas seekor anak unta</em>.” Orang tadi keheranan dan bertanya, “Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “<em>Bukankah yang melahirkan unta dewasa itu adalah anak unta juga?</em>”</span></p>
<p><span lang="en-US">Yang menyedihkan bagi seorang Islam adalah adanya sebagian orang yang membuat tertawa orang lain dengan sengaja berbohong, seperti banyak kita saksikan di masyarakat dan grup-grup sandiwara dan lawak.</span></p>
<p><span lang="en-US">Dalam sebuah hadits dari Nahzi bin Hakim <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dari bapaknya dari kakeknya <em>radhiyallahu ‘anhum</em>, “Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</span> “<span lang="en-US"><em>Celakalah seseorang yang berkata lalu berbohong agar ditertawakan oleh suatu kaum, celakalah dia, celakalah dia</em>.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-I, dan Al-Baihaqi).</span></p>
<p><span lang="en-US">Berkatalah yang benar dan selalu berusahalah untuk berkata benar sampai kamu ditulis di sisi Allah <em>Ta’ala</em> sebagai orang yang jujur. Berhati-hatilah dari berdusta, karena dusta bisa berakiba kepada timbulnya kerusakan-kerusakan besar dan fitnah yang besar.</span></p>
<p><span lang="en-US">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Aku tadi malam bermimpi didatangi oleh dua orang dan keduanya memberitahuku, “Orang yang dirobek bibirnya dan lidahnya seperti yang kamu lihat tadi adalah pendusta yang membuat kedustaan dan disebarkannya ke seluruh penjuru. Maka dia akan terus diadzab seperti itu sampai hari kiamat</em>.” (HR. Bukhari).</span></p>
<p><span lang="en-US">Seorang penyair telah memperingatkan manusia dari berdusta dan akibatnya, dan hal itu merupakan aib bagi pelakunya ketika diketahui kedustaannya, sehingga akan mengakibatkannya rendah dan hina di hadapan manusia. Penyair tersebut berkata:</span></p>
<blockquote>
<p><span lang="en-US">Jika manusia itu diketahui berdusta, maka di hadapan manusia</span></p>
<p><span lang="en-US">Akan tetap saja dicap sebagai pendusta, walaupun dia berkata benar</span></p>
<p><span lang="en-US">Jika dia berkata, ucapannya akan diabaikan kawan-kawannya</span></p>
<p><span lang="en-US">Mereka tidak akan mendengarkannya walaupun hanya satu kata</span></p>
<p><span lang="en-US">Dalam menjelaskan kotornya perbuatan dusta dan menganjurkan untuk menjauhinya</span><span lang="en-US">, penyair lain berkata:</span></p>
<p><span lang="en-US">Tidaklah berdusta seseorang melainkan itu merupakan kehinaanya</span></p>
<p><span lang="en-US">Atau perbuatan buruk, atau tanda tidak beradab</span></p>
<p><span lang="en-US">Sebagian bangkai anjing lebih enak baunya</span></p>
<p><span lang="en-US">Daripada kedustaan seseorang dalam seriusnya maupun guraunya</span></p>
</blockquote>
<p>***</p>
<p>Disalin ulang dari buku “<span lang="en-US"><em>Etika Pergaulan dari A-Z</em>“, Abduh Ghalib Ahmad Isa, penerbit: Pustaka Arafah</span></p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 