
<p>Para pengunjung setia <span style="color: #000000;">Rumaysho.com</span>, selanjutnya kita akan melihat kerancuan-kerancuan yang kembali dibawakan oleh Makrus Ali. Di antara kerancuan beliau lagi adalah ia menyatakan bahwa istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meracuni beliau sehingga beliau mati gara-gara racun tersebut. Ia pun mengatakan bahwa dalam Al Qur’an sama sekali tidak pernah disebut “ikutilah Nabi Muhammad”, namun yang ada adalah “ikutilah Isa”. Temukan jawaban dari kerancuan ini dalam artikel seri kedua berikut.     <!--more-->  </p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><span style="font-size: 14pt;"><strong>Kerancuan Ketiga</strong></span></span></p>
<p>Dia mengatakan,”Hadirnya shalawat itu ada riwayatnya sendiri. Pada saat Muhammad berusia 61 tahun, beliau tidak bisa mendeteksi racun yang berada dalam tubuhnya. Nabi Muhammad diracuni oleh istrinya sendiri, yaitu istri yang ke-17 (total istri nabi adalah 22) selama dua tahun. Lalu beliau katakan,”Setelah [mungkin: telah, ed] diturunkan bahasa shalawat dengan bacaan ‘<em>Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala ali sayyidina Muhammadin</em>’, kemudian Nabi Muhammad meninggal.”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bantahan:</strong></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Orang yang mengaku Habib ini mengatakan bahwa Nabi pada usia 61 tahun pernah diracuni oleh istrinya sendiri lalu setelah dua tahun meninggal. Dalam kitab <em>Ar Rohiqul Makhtum</em> yang ditulis oleh Syaikh Al Mubarakfury (yang mendapatkan juara I dalam penulisan sejarah nabi), dikisahkan bahwa setelah perang Khaibar, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah diracuni oleh seorang wanita yang bernama <strong>Zainab binti Al Harits</strong>, istri <strong>Sallam bin Misykam</strong>. Wanita ini pernah memberikan daging domba yang telah dipanggang dan disisipkan racun pada bagian paha domba tersebut. Setelah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menerimanya, beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lalu menggigit dengan satu kunyahan. Namun kemudian beliau memuntahkannya lagi dan tidak menelannya. Lalu beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,<em>”Tulang ini mengabarkan kepadaku bahwa di dalam daging ini telah disusupi racun.”</em> Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memanggil wanita tadi dan dia pun mengakuinya.</p>
<p>Kemudian dikisahkan lagi dalam kitab yang sama mengenai hari terakhir kehidupan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Pada hari Senin Tanggal 12 Rabi’ul Awwal 11 H, rasa sakit beliau<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> semakin parah. Ditambah lagi pengaruh racun yang disusupkan dalam daging oleh wanita Yahudi yang beliau makan sewaktu di Khaibar sehingga beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,”<em>Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang sempat kucicipi di Khaibar. Inilah saatnya bagiku untuk merasakan bagaimana terputusnya nadiku karena racun tersebut.</em>”</p>
<p>Inilah kisah akhir kehidupan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Yang dapat kita lihat bahwa memang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah diracuni, tetapi beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bukanlah diracuni oleh istri beliau sendiri. Beliau diracuni oleh Zainab binti Al Harits, istri Sallam bin Misykam, seorang wanita Yahudi.</p>
<p>Jika kita lihat dalam kitab <em>Ar Rohiqul Makhtum</em>, istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang bernama Zainab itu ada 2, yaitu :</p>
[1]   <strong>Zainab binti Khuzaimah bin Al Harits</strong>. Dia berasal dari Bani Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah. Sebelumnya dia adalah istri Abdullah bin Jahsy, yang mati syahid pada perang Uhud, lalu dinikahi oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada tahun 4 H. Namun dia meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahan ini.
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Komentar</strong> : Jika kita lihat nama wanita yang meracuni Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mungkin hampir sama dengan nama istri beliau ini yaitu sama-sama ada Al Harits. Namun jika kita melihat pada tahun 4 H lebih beberapa bulan, istri beliau ini sudah meninggal. Bagaimana mungkin istri beliau ini meracuni Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>? Ataukah mungkin dia meracuni Nabi tatkala dia sudah berada di kuburan? Ini sangat tidak mungkin! Padahal peristiwa peracunan tadi terjadi pada saat Nabi berusia 61 tahun (sekitar tahun 9 H) sebagaimana perkataan Si Habib ini. Namun perlu diketahui bahwasanya peracunan ini terjadi bukan pada saat Nabi berusia 61 tahun karena peracunan ini terjadi pada saat perang Khaibar. Sedangkan perang Khaibar sebagaimana dalam buku sejarah Nabi terjadi pada tahun 7 H, dan itu tatkala Nabi berusia sekitar 59 tahun.</p>
[2]   Zainab binti Jahsy bin Rayyab. Dia berasal dari Bani Asad bin Khuzaimah dan putri bibi Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri. Sebelumnya dia adalah istri Zaid bin Haritsah, yang dianggap sebagai putra beliau sendiri. Zaid menceraikannya, lalu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menikahinya pada bulan Sya’ban pada tahun 6 H.
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Komentar</strong> : Kalau kita melihat dari nama istri Nabi yang kedua ini, jelas namanya berbeda dengan wanita yang meracuni Nabi. Maka sungguh <em>ngawur</em> orang yang menyatakan istri Nabi-lah yang meracuni Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Dia menyebutkan bahwa jumlah total istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah 22. Menurut pendapat yang kuat, istri yang dinikahi oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ada 11 :</p>
[1]      Khadijah binti Khuwailid;
[2]      Saudah binti Zum’ah;
[3]      Aisyah binti Abu Bakar Ash Shidiq;
[4]      Hafshoh binti Umar bin Al Khaththab;
[5]      Zainab binti Khuzaimah;
[6]      Ummu Salamah Hindun binti Abu Umayyah;
[7]      Zainab binti Jahsy bin Rayyab;
[8]      Juwairiyyah binti Al Harits;
[9]      Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan;
[10]  Shafiyah binti Huyai bin Akhthab;
[11]  Maimunah binti Al Harits.
<p>Mereka inilah para wanita yang pernah dinikahi Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> dan beliau hidup bersama mereka. Ada dua orang yang meninggal dunia semasa beliau masih hidup yaitu Khadijah dan Zainab binti Khuzaimah, yang berarti beliau meninggal dunia dengan meninggalkan sembilan janda.</p>
<p>Sedangkan dua wanita lainnya yang tidak hidup bersama beliau, salah seorang di antaranya berasal dari Bani Kilab dan satunya lagi berasal dari Kindah yang dikenal dengan nama Al Juwainiyah. Namun ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.</p>
<p>Adapun wanita yang beliau nikahi bukan sebagai wanita merdeka adalah Mariyah Al Qibthiyah, yang dihadiahkan oleh Al Maquqis dan beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memiliki anak dari wanita ini yang bernama Ibrahim. Namun Ibrahim meninggal semasa hidup beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di Madinah. Selain Mariyah adalah Raihanah binti Zaid An Nadhiriyah atau Al Qurzhiyah, yang sebelumnya termasuk tawanan Quraizhah. Beliau memilihnya untuk diri beliau sendiri. Ada yang berpendapat bahwa dia juga termasuk istri beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang dimerdekakan lalu dinikahi. Pendapat pertama dipilih oleh Ibnul Qayyim. Sedangkan Abu Ubaidah menambahkan dua wanita lainnya.</p>
<p><strong>Komentar :</strong> Jika kita melihat dari kitab sejarah Nabi ini terlihat bahwasanya total istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> baik wanita merdeka dan budak = 11 + 2 wanita yang tidak hidup bersama Nabi + 2 budak wanita + 2 wanita yang disebut Abu Ubaidah = 17 wanita. Lihatlah, jika kita tidak memperhatikan perselisihan yang ada, jumlah total istri Nabi adalah 17. Kami tidak mengetahui dari kitab mana beliau mengatakan pendapatnya itu.</p>
<p>Perlu diperhatikan bahwa dalam teks shalawat yang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ajarkan tidak terdapat lafadz ‘<strong>sayyidina’</strong>. Agar lebih yakin dengan yang kami katakan, lihatlah fatwa dari komisi Fatwa di Saudi Arabia (<em>Lajnah Daimah</em>) berikut ini.</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">السؤال الثالث من الفتوى رقم ( 4276 )</p>
<div style="text-align: center;"></div>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">س3: هل يجوز أن نقول أثناء كلامنا على رسول الله صلى الله عليه وسلم: سيدنا محمد في غير المأثور عنه كالصلاة الإبراهيمية أو غير ذلك؟<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pertanyaan Ketiga dari Fatawa no. 4276</strong></p>
<p><strong>Soal</strong> : Bolehkan kita mengatakan dalam sanjungan kita kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> : ‘<em>Sayyidina Muhammad</em>’ dalam shalawat yang <em>ma’tsur</em> sebagaimana shalawat Ibrahimiyyah atau selainnya?</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">ج3: الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في التشهد لم يرد فيها – فيما نعلم – كلمة سيدنا أي: (اللهم صل على سيدنا محمد ..إلخ) وهكذا صفة الأذان والإقامة فلا يقال فيها سيدنا، لعدم ورود ذلك في الأحاديث الصحيحة التي علم فيها النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه كيفية الصلاة عليه وكيفية الأذان والإقامة، ولأن العبادات توقيفية فلا يزاد فيها ما لم يشرعه الله سبحانه وتعالى، أما الإتيان بها في غير ذلك فلا بأس، لقوله صلى الله عليه وسلم: أخرجه أحمد 1 / 5، 281، 295، 3 / 2، 144، ومسلم 4 / 1782 برقم (2278)، وأبو داود 5 / 54 برقم (4673) والترمذي 4 / 622، 5 / 587 برقم (2434، 3615 ) وابن ماجه 2 / 1440 برقم (4308) . أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jawab</strong> : Shalawat kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam tasyahud, sepengetahuan kami tidak terdapat kalimat sayyidina yaitu ‘<em>Allahumma sholli ‘ala <strong>sayyidina</strong> Muhammad …</em>’. Begitu juga pada do’a sesudah adzan dan iqomah tidak terdapat pula kalimat sayyidina. Alasannya karena tidak ada dalil shohih (yang bisa diterima, pen) yang menyebutkan bahwa Nabi mengajarkan para sahabatnya mengenai tata cara shalawat kepada beliau atau pun adzan dan iqomah. Dan juga hal ini dikarenakan ibadah adalah tauqifiyyah (harus ada dalil untuk dilaksanakan, pen). Tidak boleh seseorang menambah ajaran yang bukan syari’at Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Adapun menggunakan lafadz sayyidina selain dari yang demikian maka tidaklah mengapa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> :</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر</p>
<p>“<em>Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat maka janganlah berbangga diri</em>.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah).</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.</p>
<div style="text-align: center;"></div>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء</p>
<div style="text-align: center;"></div>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">عضو … عضو … الرئيس</p>
<div style="text-align: center;"></div>
<p style="text-align: center;" dir="rtl">عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد العزيز بن عبد الله بن باز</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><span style="font-size: 14pt;"><strong> </strong><strong>Kerancuan Keempat</strong></span></span></p>
<p>Beliau juga mengatakan,”Saudara kita dari Bani Kedar (beliau menyebut umat Islam dengan istilah ini yang maksudnya adalah <strong>keledai liar</strong>, pen) juga menantikan Yesus. Dalam surat Az Zukhruf: 61 jelas di sana dikatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61)</span></p>
<p>(Namun beliau salah membaca ayat ini dengan menghilangkan huruf <em>lam</em> pada kata <em>sa’ah</em> dan menghilangkan kata <em>biha</em> serta menutup ayat dengan <em>hadza shirothol mustaqim</em>, pen). Beliau artikan,’<em>Sesungguhnya Isa adalah (tanda kiamat) sebagai hakim yang adil, maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus</em>’. Jadi dalam ayat ini Al Qur’an memerintahkan untuk mengikuti Isa. Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad <em>ngomong</em> ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.”</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Bantahan: </strong></span></p>
<p>Marilah kita lihat arti sebenarnya dari Surat Az Zukhruf ayat 61 (yang terdapat kesalahan bacaan dari beliau) dengan merujuk Al Qur’an terjemahan. Arti ayat tersebut adalah,”<em>Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus</em>.” Lalu bagaimana tafsir ulama mengenai ayat ini?</p>
<p>Ibnu Katsir dalam <em>Tafsirul Qur’anil ‘Azhim</em> mengatakan, ”Tafsir dari Ibnu Ishaq telah disebutkan, yaitu yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah diutusnya Isa <em>‘alaihis salam</em> di mana beliau ‘<em>alaihis salam</em> akan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta serta penyakit lainnya.” Kemudian selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan,”Yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah mengenai turunnya Nabi Isa <em>‘alaihis salam</em> sebelum hari kiamat. Sebagaimana terdapat pula dalam firman Allah,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا </span></p>
<p>“<em>Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepada Isa (‘alaihis salam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.</em>” (QS. An Nisa’ [4] : 159).</p>
<p>Hal ini juga dikuatkan dengan qiro’ah (bacaan) lain dari ayat ini,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">“وإنه لعَلَم للساعة”</span></p>
<p>Yang artinya ‘<em>Sungguh Isa adalah sebagai tanda datangnya hari kiamat</em>’ yaitu Isa sebagai tanda atau petunjuk akan terjadinya kiamat. Dan Mujahid berkata mengenai ayat ini bahwa sebagai tanda hari kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat. Demikianlah yag diriwayatkan dari Abu Huroiroh, Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Abu Malik, ‘Ikrimah, Qotadah, Adh Dhohak, dan selainnya. Juga terdapat hadits <em>mutawatir</em> (melalui banyak jalan periwayatan) dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bahwasanya Isa ‘<em>alaihis salam</em> akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam dan hakim yang adil.</p>
<p>Janganlah ragu-ragu dengan hari kiamat (<span style="text-decoration: underline;">bukan</span> dengan Isa, pen). Sesungguhnya hari kiamat itu pasti terjadi dan bukan sesuatu yang mustahil. Ikutilah Aku mengenai yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya (tentang turunnya Isa). Inilah jalan yang lurus.”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pertanyaan</strong> : Apakah Yesus turun kembali untuk membela orang Nashrani?</p>
<p>Dijawab oleh Al Baghowi dalam tafsirnya, beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">وروينا عن النبي صلى الله عليه وسلم: “ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكمًا عادلا يكسر الصليب، ويقتل الخنزير ويضع الجزية، وتهلك في زمانه الملل كلها إلا الإسلام”.</span></p>
<p>”Kami telah mendapatkan riwayat dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,’<em>Sungguh hampir dekat waktunya turun di tengah-tengah kalian (Isa) bin Maryam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghilangkan jizyah (upeti, karena kafir dzimmi sudah tidak ada lagi. Semuanya muslim, ed). Akan dihancurkan seluruh agama di zaman beliau kecuali Islam’</em>.”(HR. Bukhari)</p>
<p>Perhatikan Nabi Isa akan datang bukan untuk membela agama Nashrani, tetapi akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghancurkan agama tersebut.</p>
<p>Dan yang dimaksudkan bahwa beliau menjadi hakim yang adil adalah beliau menjadi hakim dengan menggunakan syari’at Islam, bukan dengan syari’at Nashrani atau syari’at yang baru. Karena tatkala Isa bin Maryam itu turun, syari’at Islam masih tetap berlaku dan tidak terhapus. Bahkan Nabi Isa akan menjadi salah seorang hakim umat ini. Yang menguatkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Thobroni, dari Abdullah bin Mughoffal. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">يَنْزِل عِيسَى اِبْن مَرْيَم مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدِ عَلَى مِلَّته</span></p>
<p>“<em>Isa bin Maryam akan turun dengan membenarkan agama yang dibawa Nabi Muhammad</em>.” Lihatlah penjelasan tentang hal ini di <em>Fathul Bari,</em> <em>Ibnu Hajar</em>.</p>
<p>Bahkan Nabi Isa akan menjadi makmum di belakang imam kaum muslimin karena Allah memuliakan umat ini. <em>Al Baghowi</em> menceritakan dalam tafsirnya bahwa ketika Isa mendatangi Baitul Maqdis sedangkan orang-orang sedang melakukan shalat Ashar, maka Imam di masjid itu mundur dan menyuruh Isa untuk maju. Namun, Nabi Isa enggan, dan dia tetap shalat di belakang Imam tadi dengan syari’at Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> (HR. Abu Daud dan Ahmad).</p>
<p>Lalu beliau mengartikan ayat itu dengan,’<em>maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus</em>’. <em>Waduh!</em> Untuk mendukung pendapatnya dan pemikirannya, dia mengartikan ‘<em>ikutilah Aku</em>’ di sini dengan ‘<em>ikutilah Isa</em>’. Di dalam Al Qur’an Terjemahan saja <span style="text-decoration: underline;">tidak ditulis</span> seperti itu, tetapi<em> </em>‘<em>ikutilah Aku, Inilah jalan yang lurus</em>’. Lihatlah kata ‘aku’ dalam Al Qur’an terjemahan ditulis dengan <em>huruf kapital</em> (<span style="text-decoration: underline;">bukan</span> huruf kecil) yang berarti ‘ikutilah Allah’ dan bukan ikutilah Isa.</p>
<p>Agar lebih jelas, kita lihat tafsir dari para ulama ahli tafsir mengenai ayat ‘<em>Ikutilah Aku</em>’</p>
<p>Ibnu Jarir Ath Thobary mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu Ta’atlah pada-Ku (Allah), lakukanlah segala sesuatu yang Aku perintahkan kepada kalian dan jauhilah yang Aku larang.” Ibnu Katsir mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu ikutilah yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya.” Al Baghowi mengatakan,”Ibnu ‘Abbas berkata,’Janganlah mendustakan hari kiamat. Ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah jalan yang lurus yang Aku berada di atas-Nya.” Dalam <em>Tafsir Jalalain </em>disebutkan,”Dan katakanlah kepada mereka, ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah yang Aku perintahkan dengannya, yaitu jalan yang lurus.”</p>
<p>Syaikh As Sa’di mengatakan,”Ikutilah Aku dengan mengikuti yang Aku perintahkan pada kalian dan menjauhi yang Aku larang. Inilah jalan yang lurus yang mengantarkan kepada Allah <em>‘azza wa jalla</em>.” Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu katakanlah kepada mereka, wahai rasul Kami, ikutilah Aku di atas tauhid dan petunjuk yang Aku datangkan pada kalian. Inilah jalan yang lurus yaitu Islam dan Tauhid yang akan memalingkan kalian dari was-was dan kesesatan.” Inilah tafsiran para ulama yang sangat jauh berbeda dengan tafsiran orang ini yang terlalu banyak membuat kesalahan dalam menafsirkan dan memahami Al Qur’an. ‘<em>Ikutilah Aku</em>’ dalam ayat ini bukan berarti ‘<em>Ikutilah Isa</em>’ tetapi Ikutilah Allah di atas tauhid sebagaimana menurut salah satu penafsiran ulama.</p>
<p>Kemudian beliau mengatakan,”Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad <em>ngomong</em> ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.”</p>
<p>Baik, kami akan buktikan kedustaan beliau ini. Lihatlah firman Allah <em>Ta’ala</em> berikut, semoga menjadi perenungan bagi kita semua. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ</span></p>
<p>“<em>Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</em>” (QS. Ali Imron [3] : 31)</p>
<p>Bagaimana tafsiran ayat ini?</p>
<p>Al Baghowi dalam tafsirnya mengatakan,”Ayat ini diturunkan kepada Yahudi dan Nashrani yang mengatakan,’Kami adalah anak Allah dan yang paling dicintai-Nya’. Kemudian Adh-Dhohak mengatakan dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> mengatakan,”Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdiam di sekitar orang Quraisy yang sedang memajang berhala-berhala mereka di Masjidil Harom dan menggantungkan pada berhala-berhala itu telur burung unta dan di telinganya diberi <em>shunuf</em> (anting-anting) dan mereka sujud di hadapannya. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengatakan,”Wahai orang-orang Quraisy, Demi Allah, sungguh kalian telah menyelisihi (mendurhakai) agama ayah kalian –yaitu Ibrahim dan Isma’il-. Kemudian orang Quraisy mengatakan,”Sesungguhnya kami menyembah berhala-berhala tersebut karena kecintaan kami kepada Allah untuk mendapatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka Allah <em>Ta’ala </em> mengatakan,”Katakanlah wahai Muhammad<em> </em>(kepada orang-orang musyrik, pen), jika kalian mencintai Allah dan menyembah berhala untuk mendekatkan diri kalian kepada-Nya, ikutilah aku (Muhammad, pen) maka Allah akan mencintai kalian.  Karena sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian dan sebagian <em>hujjah</em> (bukti) bagi kalian. Yaitu ikutilah syari’atku (syari’at Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, pen) dan sunnahku (jalan hidupku) maka Allah akan mencintai kalian. Maka kecintaan kaum mukminin kepada Allah adalah dengan mengikuti perintah Allah dan taat kepada-Nya dan mengharap ridho-Nya. Dan kecintaan Allah kepada kaum mukminin adalah pujian Allah kepada mereka, ganjaran untuk mereka, dan ampunan Allah untuk mereka. Oleh karena itu Allah mengatakan (yang artinya),”<em> Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”</em>.</p>
<p>Setelah kita mencermati Surat Ali Imron ayat 31 ini dan tafsirnya, maka jelaslah bahwa di dalam Al Qur’an terdapat perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Inilah sebagai bantahan kepada ‘habib’ ini yang menyatakan tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Sungguh klaim dan perkataan beliau ini hanya omong kosong belaka. Dan satu ayat ini saja sudah cukup sebagai bukti.</p>
<p>Oleh karena itu, kalau kaum Nashrani benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah perintah-Nya untuk mengikuti Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan masuk ke dalam agama Islam ini. Karena Nabi kalian juga telah mengisahkan tentang beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagaimana Allah firmankan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6) </span></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan <span style="text-decoration: underline;">memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku</span>, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”</em>” (QS. Ash Shof [61] : 6)</p>
<p>Begitu juga kitab kalian (Injil) telah menceritakan Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Allah <em>Ta’ala </em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29) </span></p>
<p>“<em>Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan <span style="text-decoration: underline;">sifat-sifat mereka dalam Injil</span>, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.</em>” (QS. Muhammad [48] : 29).</p>
<p>Oleh karena itulah, masuklah dalam agama Islam karena agama inilah yang diterima di sisi Allah.</p>
<p style="text-align: center;"><em><strong>-bersambung insya Allah-</strong></em></p>
<p> </p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dan <a target="_blank" href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel https://rumaysho.com</p>
<p>Ditulis di bulan Syawal 1428 H</p>
<p> </p>
 