
<p><span style="font-weight: 400;">Orang liberal yang mengaku-ngaku sebagai muslim terus berusaha merusak syariat dari dalam. Kali ini mereka berusaha “menghalalkan zina” dengan memakai konsep <em>“milkul yamin”</em>. Bisa jadi orang awam terpengaruh karena ada istilah-istilah Arab yang terkesan ilmiah. Begitu juga dengan istilah “non-marital” (tidak menikah) yang dipakai agar terkesan ilmiah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebenarnya bukan hanya saat ini saja pemikiran seperti ini muncul. Pemikiran liberal ini muncul sejak lama dan selalu menghadirkan orang baru dan gaya baru untuk mengusungnya. Sejak dahulu mereka umumnya memakai dua “pemikiran” untuk menghalalkan zina yaitu bolehnya berhubungan badan di luar pernikahan.</span></p>

<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/22305-fatwa-ulama-berzina-lalu-menikah-sahkah-pernikahannya.html" data-darkreader-inline-color="">Berzina Lalu Menikah, Sahkah Pernikahannya?</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;"> 1. “Milkul yamin” (Tuan boleh menggauli budak perempuannya)</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Membolehkan berhubungan badan di luar nikah tidak bisa dikiaskan dengan budak. Mereka mengkiaskan bolehnya seseorang mengauli patnernya/pacarnya dengan budak, tentu tidak tepat. Orang yang merdeka tentu berbeda dengan budak. Terdapat hikmah besar mengapa seorang tuan boleh menggauli budak perempuannya di antaranya tuannya akan lebih memperhatikan dan memberikan kasih sayang kepada budaknya. Apabila budak perempuan itu hamil, budak tersebut akan melahirkan anak tuannya yang status anaknya merdeka dan mengangkat derajat sang ibu, lalu status budak perempuan menjadi “ummu walad” yang akan merdeka apabila tuannya telah meninggal. Masih banyak hikmah lainnya di balik syariat Allah ini.</span></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">2. Konsep mut’ah (boleh berhubungan badan suami istri dalam jangka waktu sesuai perjanjian, misalnya sehari, sepekan, sebulan, setahun. Setelah jangka waktu itu, maka mereka berpisah. Konsep ini disebut juga “nikah mut’ah”)</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Memakai dalil ini untuk membolehkan berhubungan badan di luar nikah juga tidak tepat, karena konsep nikah mut’ah sempat diperbolehkan di awal-awal Islam kemudian syariat ini dihapus (mansukh).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/14137-tanya-jawab-pernah-berzina-di-mushala-bagaimana-taubatnya.html" data-darkreader-inline-color="">Tanya Jawab: Pernah Berzina Di Mushala, Bagaimana Taubatnya?</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><strong>Berikut penjelasan lebih rinci bahwa pemikiran di atas tidak tepat</strong></span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>1. Milkul yamin (Tuan boleh menggauli budak perempuannya)</strong></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Membolehkan berhubungan badan di luar nikah tidak bisa dikiaskan dengan budak. Mereka mengkiaskan bolehnya seseorang mengauli patnernya/pacarnya dengan budak, tentu tidak tepat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penyebutan “milkul Yamin” terdapat dalam beberapa ayat Al-Quran, Salah satunya di mana Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ . إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” <strong>(QS Al-Mukminun: 5-6)</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh As-Sa’di menjelaskan maksud “milkul yamin” yaitu budak perempuan, beliau berkata:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">من الإماء المملوكات</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yaitu budak perempuan yang ia miliki.” <strong>[Lihat Tafsir As-Sa’diy]</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang liberal menafsirkan sendiri ayat ini dengan asal-asalnya serta membolehkannya berhubungan badan di luar nikah (membolehkan berzina), padahal tafsir ayat ini justru <strong>TIDAK membolehkan berzina.</strong></span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/23331-kekejian-syiah-terhadap-ahlus-sunnah-di-wilayahnya.html" data-darkreader-inline-color="">Kekejian Syiah Terhadap Ahlus Sunnah di Wilayahnya</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Qurthubi berkata menjelaskan tafsir ayat ini:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وهذا يقتضي تحريم الزنا وما قلناه من الاستنماء ونكاح المتعة</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hal ini berkonsekuensi haramnya zina, demikian juga haramnya onani/masturbasi dan nikah mut’ah.” <strong>[Lihat Tafsir Al-Qurthubi]</strong></span></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;"> 2. Konsep mut’ah </span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Memakai dalil ini untuk membolehkan berhubungan badan di luar nikah juga tidak tepat, karena konsep nikah mut’ah sempat diperbolehkan di awal-awal Islam kemudian syariat ini di hapus (mansukh).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat beberapa dalil yang menyebutkan bahwa nikah mut’ah telah diharamkan hingga hari kiamat. </span><span style="font-weight: 400;">Dari Rabi` bin Sabrah, dari ayahnya, bahwasanya ia bersama Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ياَ أَيَّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الاسْتِمْتاَعِ مِنَ النِّسَاءِ , وَ إِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ , فَمَنْ كاَنَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخْلِ سَبِيْلَهُ , وَ لَا تَأْخُذُوْا مِمَّا آتَيْتمُوْهُنَّ شَيْئاً ” .</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> “Wahai, sekalian manusia. Sebelumnya aku telah mengizinkan kalian melakukan mut’ah dengan wanita. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkannya hingga hari Kiamat. Barangsiapa yang mempunyai sesuatu pada mereka , maka biarkanlah! Jangan ambil sedikitpun dari apa yang telah diberikan”.<strong>[HR. Muslim]</strong></span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/23321-syiah-melukai-diri-hari-asyura-ibadah.html" data-darkreader-inline-color="">Syiah: Melukai Diri di Hari Asyura Termasuk Ibadah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau juga berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَمَرَناَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم باِلْمُتْعَةِ عَامَ اْلفَتْحِ حِيْنَ دَخَلْنَا مَكَّةَ ثُمَّ لَمْ نَخْرُجْ حَتَّى نَهَاناَ عَنْهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mut’ah pada masa penaklukan kota Mekkah, ketika kami memasuki Mekkah. Belum kami keluar, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkannya atas kami”. <strong>[HR. Muslim]</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa larangan nikah mut’ah adalah Ijma’ ulama. Beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ثبت أن نكاح المتعة كان جائزاً في أول الإسلام ، ثم ثبت أنه نسخ بما ذكر من الأحاديث في هذا الكتاب وفى غيره ، وتقرر الإجماع على منعه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Di awal-awal Islam nikah mut’ah hukumnya boleh, kemudian terdapat nash yang menghapusnya sebagaimana terdapat dalam beberapa hadits dalam kitab ini dan telah ada ijma’ larangan hal ini.”<strong> [Ikmalul Mu’allim 4/275]</strong></span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">Sebagai penutup, kami ajak merenung dan berpikir bagi mereka yang membolehkan berhubungan badan di luar pernikahan (memperbolehkan berzina). </span></p>
<blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah mereka punya anak perempuan atau punya saudara perempuan? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Relakah anak perempuan dan saudara perempuan mereka dizinahi dan di luar status pernikahan? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tentu tidak kan. </span></p>
</blockquote>
<p><span style="font-weight: 400;">Perhatikan hadits berikut:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Umamah<em> Radhiyallahu anhu</em> bercerita, “Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, merekaberkata, “Diam kamu, diam!”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata, “Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">“Tidak demi Allah, wahai Rasul” sahut pemuda tersebut.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/30123-menjaga-anak-dan-pemuda-dari-paham-liberal-dan-plurarisme.html" data-darkreader-inline-color="">Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">“Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">“Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">“Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Relakah engkau jika bibi (dari jalur bapakmu) dizinai?”.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Relakah engkau jika bibi (dari jalur ibumu) dizinai?”.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/12770-syahwat-liberal.html" data-darkreader-inline-color="">Syahwat Liberal</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/50955-jawaban-atas-tuduhan-umat-islam-menyembah-kabah.html" data-darkreader-inline-color="">Jawaban Atas Tuduhan: Umat Islam Menyembah Ka’bah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah kejadian tersebut, pemuda itu TIDAK PERNAH lagi tertarik untuk berbuat zina”. <strong>[HR. Ahmad, shahih, Ash-Shahihah I/713 no. 370]</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian semoga bermanfaat</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@ Lombok, Pulau Seribu Masjid</span></p>
<p><strong>Penyusun: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/raehan" data-darkreader-inline-color="">Raehanul Bahraen</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</a></span></strong></p>
 