
<p><span style="font-weight: 400;">Muhammad Syahrur -‘</span><i><span style="font-weight: 400;">aamalallahu bimaa yastahiqquhu</span></i><span style="font-weight: 400;">-, tokoh liberal yang sedang ramai dibicarakan karena menyerukan konsep halalnya zina, dia mengatakan bahwa zina yang terlarang adalah yang terang-terangan. Sedangkan yang sembunyi-sembunyi maka tidak mengapa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diapun mengutip ayat:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan fahisyah mubayyinah. Itulah batasan-batasan Allah”</span></i><strong> (QS. Ath Thalaq: 1).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dia menafsirkan “</span><i><span style="font-weight: 400;">fahisyah mubayyinah</span></i><span style="font-weight: 400;">” dengan “zina terang-terangan”. Mafhumnya, menurut dia, zina yang sembunyi-sembunyi itu boleh. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51115-menjawab-propaganda-menghalalkan-zina-dengan-konsep-milkul-yamin.html" data-darkreader-inline-color="">Menjawab Propaganda Menghalalkan Zina Dengan Konsep “Milkul Yamin”</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Maka kita jawab:</b></span></p>
<p><strong>PERTAMA, ini tafsiran yang aneh yang tidak dikenal. Baik dari kalangan para sahabat, tabi’in dan juga para ulama tafsir. Ini tafsiran dari hawa nafsu semata.</strong></p>
<p><strong>KEDUA, justru para ahli tafsir memaknai “<i>fahisyah mubayyinah</i>” dengan zina secara umum. Al Hasan Al Bashri, Mujahid, Ibnu Zaid dan yang lainnya mengatakan:</strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الزنى، قال فتُخْرَج ليُقام عليها الحدّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maksudnya zina, maka istri yang berzina dikeluarkan dari rumah untuk dijatuhkan hukuman hadd”<strong> (lihat </strong></span><strong><i>Tafsir Ath Thabari</i>).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan Ibnu Abbas dan Qatadah memaknai “</span><i><span style="font-weight: 400;">fahisyah mubayyinah</span></i><span style="font-weight: 400;">” adalah semua bentuk maksiat.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">عن ابن عباس ( إِلا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ ) والفاحشة: هي المعصية</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dari Ibnu Abbas tentang ayat [kecuali mereka mengerjakan </span><i><span style="font-weight: 400;">fahisyah mubayyinah</span></i><span style="font-weight: 400;">], </span><i><span style="font-weight: 400;">fahisyah </span></i><span style="font-weight: 400;">di sini maknanya maksiat” <strong>(lihat </strong></span><strong><i>Tafsir Ath Thabari</i></strong><span style="font-weight: 400;"><strong>)</strong>.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan “</span><i><span style="font-weight: 400;">mubayyinah</span></i><span style="font-weight: 400;">” di sini maksudnya perbuatan tersebut jelas merupakan maksiat dan jelas keburukannya. As Sa’di menjelaskan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">{ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ } أي: بأمر قبيح واضح، موجب لإخراجها، بحيث يدخل على أهل البيت الضرر من عدم إخراجها</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“[kecuali mereka mengerjakan </span><i><span style="font-weight: 400;">fahisyah mubayyinah</span></i><span style="font-weight: 400;">], maksudnya perkara yang jelas keburukannya. Yang mewajibkan dia untuk dikeluarkan dari rumah, karena menimbulkan bahaya bagi penghuni rumah jika tidak dikeluarkan”<strong> (</strong></span><strong><i>Tafsir As Sa’di</i>).</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/26960-hukum-membaca-situs-edukasi-seks.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Membaca Situs Edukasi Seks</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka “</span><i><span style="font-weight: 400;">mubayyinah</span></i><span style="font-weight: 400;">” di sini bukan maksudnya melakukan terangan-terangan di depan banyak orang. Walaupun itu termasuk dalam cakupan. Artinya, jika ia melakukan maksiat terang-terangan tentu lebih parah dan lebih dosa lagi.</span></p>
<p><strong>KETIGA, larangan zina bersifat mutlak untuk semua zina, tanpa pengecualian. Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”</span></i><strong> (QS. Al Isra: 32).</strong></p>
<p><strong>KEEMPAT, di zaman Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam </i>pelaku zina dijatuhi hukuman hadd walaupun tidak terang-terangan melakukannya.</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Jabir bin Abdillah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أن رجلاً من أسلمَ، جاء النبيَّ صلى الله عليه وسلم فاعترف بالزنا، فأعرض عنه النبيُّ صلى الله عليه وسلم حتى شَهِدَ على نفسِه أربعَ مراتٍ، قال له النبيُّ صلى الله عليه وسلم:أبك جنونٌ؟ قال: لا، قال: آحصَنتَ؟. قال: نعم، فأمرَ به فرُجِمَ بالمصلى، فلما أذلقته الحجارةُ فرَّ، فأُدرِك فرُجِمَ حتى مات. فقال له النبيُّ صلى الله عليه وسلم خيرًا، وصلى عليه</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ada seorang lelaki, yang sudah masuk Islam, datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengakui dirinya berbuat zina. Nabi berpaling darinya hingga lelaki tersebut mengaku sampai 4 kali. Kemudian beliau bertanya: ‘Apakah engkau gila?’. Ia menjawab: ‘Tidak’. Kemudian beliau bertanya lagi: ‘Apakah engkau pernah menikah?’. Ia menjawab: ‘Ya’. Kemudian beliau memerintah agar lelaki tersebut dirajam di lapangan. Ketika batu dilemparkan kepadanya, ia pun lari. Ia dikejar dan terus dirajam hingga mati. Kemudian Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan hal yang baik tentangnya. Kemudian menshalatinya”</span></i><strong> (HR. Bukhari no. 6820).</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/30123-menjaga-anak-dan-pemuda-dari-paham-liberal-dan-plurarisme.html" data-darkreader-inline-color="">Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada wanita dari Bani Ghamid mengaku berzina. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَيْحَكِ اِرْجِعِي فَاسْتَغْفِرِيْ اللهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ! فَقَالَتْ: أَرَاكَ تُرِيْدُ أَنْ تُرَدِّدَنِي كَمَا رَدَّدْتَ مَاعِزَ بْنَ مَالِكٍ، قَالَ: وَمَا ذَاكِ؟ قَالَتْ: إِنَّهَا حُبْلَى مِنَ الزِّنَى، فَقَالَ: أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، فَقَالَ لَهَا حَتَّى تَضَعِي مَا فِي بَطْنِكِ، قَالَ: فَكَفَلَهَا رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ حَتَّى وَضَعَتْ، قَالَ: فَأَتَى النَّبِيَّ j، فَقَالَ: قَدْ وَضَعَتِ الْغَامِدِيَّةُ، فَقَالَ: إِذًا لاَ نَرْجُمُهَا وَنَدَعُ وَلَدَهَا صَغِيْرًا لَيْسَ لَهُ مَنْ يُرْضِعُهُ، فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ اْلأَنْصَارِ فَقَالَ: إِلَيَّ رَضَاعُهُ يَا نَبِيَّ اللهِ، قَالَ: فَرَجَمَهَا.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Celaka engkau! Pulanglah dan mintalah ampun kepada Allah serta bertaubatlah!” Kemudian wanita itu menjawab, “Aku melihat engkau menolak (pengakuan)ku sebagaimana engkau menolak (pengakuan) Ma’iz bin Malik.” Beliau bersabda, “Apa yang terjadi padamu?” Wanita itu menjawab, “Ini adalah kehamilan dari perzinaan.” Beliau meyakinkan, “Apakah engkau melakukannya?” Ia menjawab, “Benar.” Lalu beliau bersabda kepadanya, “Sampai engkau melahirkan apa yang engkau kandung.” (Perawi) berkata, “Lalu wanita itu ditanggung kesehariannya oleh seorang laki-laki dari Anshar sampai melahirkan.” (Perawi) melanjutkan, “Kemudian ia (laki-laki Anshar) mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Perempuan Ghamidiyyah itu sudah melahirkan.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kalau begitu, kita tidak akan merajamnya dan membiarkan anaknya yang masih kecil tanpa ada yang menyusui.’ Lalu seorang laki-laki dari Anshar berkata, ‘Aku yang akan bertanggung jawab atas penyusuannya, wahai Nabi Allah.’” (Perawi) berkata, “Maka Nabi pun merajam wanita tersebut”</span></i><strong> (HR. Muslim no.1695).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dua kasus zina di atas, pelakunya berzina diam-diam, tidak terang-terangan. Buktinya hukuman dijatuhkan atas dasar pengakuan. Andaikan mereka terang-terangan maka sudah dilaporkan oleh orang-orang, bukan karena pengakuan.</span></p>
<p><strong>KELIMA, beda antara masalah dosa dengan masalah hadd. Terkadang pelaku dosa tidak terkena hukuman hadd, karena tidak dilaporkan atau tidak ketahuan, tapi ia tetap berdosa.</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/9360-menelusuri-akar-pemikiran-liberalisme.html" data-darkreader-inline-color="">Menelusuri Akar Pemikiran Liberalisme</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan terkadang orang yang berbuat maksiat karena tergelincir, padahal ia asalnya orang baik, maka hendaknya dimaafkan dan tidak dilaporkan kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">ulil amri </span></i><span style="font-weight: 400;">agar tidak dijatuhi hadd. Namun jika sudah dilaporkan wajib dijatuhi hadd. Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ زَلَّاتِهِمْ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Maafkanlah ketergelinciran orang-orang yang baik”</span></i><strong> (HR. Ibnu Hibban 94).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat lain:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أقيلوا ذوي الهيئات عثراتهم ، إلا الحدود</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Maafkanlah ketergelinciran dzawil haiah (orang-orang yang baik namanya), kecuali jika terkena hadd”</span></i><strong> (HR. Abu Daud 4375, Dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah, 638).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An Nawawi mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الْمُرَادُ بِهِ السَّتْرُ عَلَى ذَوِي الْهَيْئَاتِ وَنَحْوِهِمْ مِمَّنْ لَيْسَ هُوَ مَعْرُوفًا بِالْأَذَى وَالْفَسَادِ فَأَمَّا المعروف بذلك فيستحب أن لا يُسْتَرَ عَلَيْهِ بَلْ تُرْفَعَ قَضِيَّتَهُ إِلَى وَلِيِّ الْأَمْرِ إِنْ لَمْ يَخَفْ مِنْ ذَلِكَ مَفْسَدَةً</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Maksudnya adalah menutupi kesalahan orang yang memiliki nama baik dan semisal mereka yang tidak dikenal gemar melakukan gangguan dan kerusakan. Adapun orang yang gemar melakukan gangguan dan kerusakan maka dianjurkan untuk tidak ditutup-tutupi kesalahannya bahkan dianjurkan untuk diajukan perkaranya kepada waliyul amri, jika tidak dikhawatirkan terjadi mafsadah” <strong>(</strong></span><strong><i>Syarah Shahih Muslim</i>, 16/135).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sini kita paham bahwa beda antara hadd dengan dosa. Zina yang tidak ketahuan, sembunyi-sembunyi, tidak ada 4 saksi, maka memang tidak bisa dijatuhi hadd. Namun tetap pelakunya berdosa besar.</span></p>
<p><strong>KEENAM, zina mata, zina lisan, zina hati saja dilarang. Maka bagaimana mungkin zina yang betulan malah dibolehkan jika sembunyi-sembunyi??</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi Wasallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالةَ ، فزنا العينِ النظرُ ، وزنا اللسانِ المنطقُ ، والنفسُ تتمنى وتشتهي ، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah telah menakdirkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya”</span></i><strong> (HR. Al Bukhari 6243).</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/2029-kegagalan-islam-liberal-dalam-memahami-ijtihad.html" data-darkreader-inline-color="">Kegagalan Islam Liberal dalam Memahami Ijtihad</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Bathal menjelaskan: “Zina mata, yaitu melihat yang tidak berhak dilihat lebih dari pandangan pertama dalam rangka bernikmat-nikmat dan dengan syahwat, demikian juga zina lisan adalah berlezat-lezat dalam perkataan yang tidak halal untuk diucapkan, zina nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan. Semua ini disebut zina karena merupakan hal-hal yang mengantarkan pada zina dengan kemaluan”<strong> (</strong></span><strong><i>Syarh Shahih Al Bukhari</i>, 9/23).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>KETUJUH, haramnya zina dalam bentuk apapun, disepakati oleh para ulama bahkan semua agama samawiyah mengharamkan zina. Haramnya zina juga disepakati oleh orang-orang berakal dan waras. Karena sangat jelas sekali kerusakan zina, jijiknya zina dan akibat-akibat buruknya bagi pribadi dan masyarakat.</strong></span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/25405-para-ulama-sepakat-menolak-pemahaman-syiah-imamiyyah.html" data-darkreader-inline-color="">Para Ulama Sepakat Menolak Pemahaman Syiah Imamiyyah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23331-kekejian-syiah-terhadap-ahlus-sunnah-di-wilayahnya.html" data-darkreader-inline-color="">Kekejian Syiah Terhadap Ahlus Sunnah di Wilayahnya</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memberi taufik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">**</span></p>
<p><strong>CATATAN:</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemikiran-pemikiran Muhammad Syahrur dan juga doktor Abdul Aziz jangan disebar-sebarkan dan jangan diberi panggung. Walaupun dengan alasan diskusi atau debat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena mereka juga menggunakan ayat-ayat dan hadits-hadits yang mereka pelintir sesuai hawa nafsu, yang ini bisa menjadi syubhat dan fitnah bagi orang awam.</span></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom" data-darkreader-inline-color=""> Yulian Purnama</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 