
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya : <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/66515-menuju-kesempurnaan-ibadah-shalat-bag-7.html" data-darkreader-inline-color="">Memahami tentang Haid, Nifas dan Istihadah</a></span></strong></p>

<p>Pembahasan perihal ibadah salat dalam artikel sebelumnya merupakan rukun-rukun yang mesti diketahui oleh setiap muslim sebelum melaksanakan ibadah salat itu sendiri. Pada artikel kali ini, pembahasan seputar salat mulai masuk kepada perkara inti dalam ibadah salat yang dimulai dari kedudukan, keutamaan, dan hukum meninggalkan salat.</p>
<p>Pada hakikatnya salat merupakan doa dengan dua maksud, yaitu doa permohonan dan ibadah. Memohon segala hal hanya kepada Allah <em>Ta’ala</em> untuk diberikan suatu manfaat atau dihindarkan dari suatu bahaya. Juga beribadah kepada Allah <em>Ta’ala </em>melalui berbagai macam amal salih, yaitu berdiri, duduk, ruku’, i’tidal, dan sujud (1).</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hukum Salat</strong></span></h2>
<p>Salat adalah ibadah kepada Allah berupa ucapan dan perbuatan yang dikenal dan khusus, diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam (2). Salat merupakan hal yang diwajibkan bagi setiap muslim yang telah <em>baligh</em> dan berakal menurut ketetapan al-Qur’an, as-Sunnah, dan <em>ijma</em>‘ ulama.</p>
<p>Ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>sangat banyak menjelaskan tentang wajibnya salat, di antaranya adalah firman Allah <em>Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ</span></p>
<p><em>“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”. </em>(QS. Al-Bayyinah: 5)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda melalui hadis Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.</span></p>
<p><em>“Islam dibangun di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tiada ilah (yang haq) selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan puasa Ramadan”</em>. (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Adapun <em>ijma</em>‘ ulama dapat dilihat dalam banyak <em>nash</em> tentang kesepakatan mereka tentang wajibnya salat lima waktu dalam satu hari dan satu malam.(3)</p>
<p>Perintah wajibnya salat bagi setiap muslim ini tentu dikecualikan bagi wanita yang sedang haid atau tengah menjalani nifas -sebagaimana yang telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya-. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ ، وَلَمْ تَصُمْ</span></p>
<p><em>“Bukankah jika wanita sedang haid tidak salat dan tidak puasa.” </em>(HR. Bukhari)</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/65653-shalat-ghaib-untuk-prajurit-tni-al-kri-nanggala-402-yang-gugur.html" data-darkreader-inline-color="">Shalat Ghaib Untuk Prajurit TNI AL KRI Nanggala 402 yang Gugur</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kedudukan Salat dalam Islam</strong></span></h2>
<p>Salat menempati kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Di antara bukti betapa pentingnya salat dalam Islam adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Salat merupakan tiang agama. (4)</li>
<li>Salat adalah amal yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat. Baik atau buruknya salat seseorang berbanding lurus dengan rusak atau tidaknya amal perbuatan seseorang. (5)</li>
<li>Salat merupakan amalan agama yang paling terakhir hilang. Apabila salat hilang dari agama, maka tidak ada lagi yang tersisa dari agama. (6)</li>
<li>Salat adalah wasiat terakhir Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>kepada ummatnya. (7)</li>
<li>Perintah salat langsung dari Allah <em>Ta’ala </em>kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>tanpa perantara Jibril ‘<em>alaihissalam</em>.</li>
<li>Pada awalnya, salat diwajibkan sebanyak lima puluh waktu salat. Kemudian Allah memberi keringanan dengan hanya mewajibkan lima waktu salat dengan kedudukan lima puluh dalam timbangan (pahala) dan lima (kali) dalam pelaksanaan. (8)</li>
<li>Allah memuji orang-orang yang mengerjakan salat dan yang menyuruh keluarganya mengerjakan salat. (9)</li>
<li>Allah mencela orang-orang yang mengabaikan salat. (10)</li>
<li>Allah mempertegas pentingnya salat sampai-sampai orang yang tertidur dan lupa tetap diperintahkan untuk meng-<em>qadha</em> salatnya. (11)</li>
</ol>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Keutamaan Salat</strong></span></h2>
<p>Ketahuilah bahwa keagungan ibadah salat dapat dilihat dari betapa syari’at sangat mempertegas keutamaan ibadah mulia ini. Di antara keutamaan salat adalah:</p>
<ol>
<li>Salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. (12)</li>
<li>Salat merupakan amal yang paling baik setelah dua kalimat syahadat. (13)</li>
<li>Salat dapat membersihkan dari dosa-dosa. (14)</li>
<li>Salat dapat menghapuskan berbagai macam dosa. (15)</li>
<li>Salat menjadi cahaya bagi pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat. (16)</li>
<li>Dengan salat Allah akan meninggikan derajat dan menghapuskan dosa. (17)</li>
<li>Di antara sebab dimasukkannya seseorang ke dalam surga dan menjadi teman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>adalah salat. (18)</li>
<li>Berjalan menuju tempat salat (masjid) akan dicatat baginya kebaikan-kebaikan, ditinggikan beberapa derajat, dan dihapuskan kesalahan-kesalahan. (19)</li>
<li>Akan disediakan jamuan di surga setiap kali seorang berangkat di masjid untuk mengerjakan salat baik pada pagi maupun sore hari. (20)</li>
<li>Dengan salat Allah akan memberikan ampunan atas dosa-dosa yang terjadi antara satu salat dengan salat berikutnya. (21)</li>
<li>Salat juga akan menghapuskan dosa-dosa yang terjadi sebelum salat. (22)</li>
<li>Malaikat akan bersalawat kepada orang yang mengerjakan salat selama dia masih tetap berada di tempat salatnya. Dia masih dianggap mengerjakan salat selama salat masih tetap menahannya. (23)</li>
<li>Menunggu salat merupakan <em>ribath </em>(perjuangan) di jalan Allah. (24)</li>
<li>Pahala orang yang berangkat menunaikan salat itu sama seperti pahala orang yang berhaji dengan berihram. (25)</li>
<li>Barang siapa yang berangkat ke masjid terlambat, dan dia mendapatkan orang-orang telah selesai menunaikan salat, maka baginya pahala seperti pahala orang yang ikut mengerjakan salat dengan jamaah. (26)</li>
<li>Jika seseorang telah bersuci lalu berangkat ke masjid untuk menunaikan salat, dia akan selalu berada dalam keadaan salat sampai dia kembali. Sedangkan kepergian dan kepulangannya ditetapkan mendapatkan pahala. (27)</li>
</ol>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/61691-hukum-takbir-setelah-salam-dalam-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Takbir Setelah Salam dalam Shalat</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Hukum Meninggalkan Salat</strong></span></h2>
<p>Di antara poin penting yang mesti diketahui oleh seorang muslim perihal ibadah salat adalah tentang hukum bagi orang yang meninggalkan salat. Dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadis sangat jelas menggambarkan betapa pentingnya ibadah yang agung ini dan kedudukan orang-orang yang meninggalkannya.</p>
<p>Orang yang meninggalkan salat wajib secara syari’at dihukumi kufur dengan ketentuan bahwa apabila orang tersebut mengingkari hukum wajibnya salat, maka menurut kesepakatan (<i>ijma’</i>) para ulama termasuk dalam kategori kufur besar, meskipun terkadang dia juga mengerjakannya (28). Sedangkan orang yang meninggalkan secara total, sementara dia meyakini hukum wajibnya dan tidak mengingkarinya, dia tetap termasuk kufur. Menurut pendapat para ulama bahwa kufurnya tersebut adalah kufur besar yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam (29).</p>
<p>Hal itu didasarkan pada banyak dalil yang menegaskan hukum bagi orang yang meninggalkan salat sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ  ۝ خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۖ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ  ۝</span></p>
<p><em>“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.”</em>  (QS. al-Qalam : 42-43)</p>
<p>Dalam ayat lain, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِینَةٌ ۝  إِلَّاۤ أَصۡحَـٰبَ ٱلۡیَمِینِ ۝  فِی جَنَّـٰتࣲ یَتَسَاۤءَلُونَ ۝  عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِینَ ۝  مَا سَلَكَكُمۡ فِی سَقَرَ ۝  قَالُوا۟ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّینَ ۝  وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِینَ ۝  وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَاۤىِٕضِینَ ۝  وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِیَوۡمِ ٱلدِّینِ ۝</span></p>
<p><em>“Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan”</em>. (QS. al-Muddatstsir: 38-46)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> juga menegaskan pemisah antara seorang muslim dari kesyirikan dan kekufuran adalah shalat. Sebagaimana hadis Jabir <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>bahwa Rasulullah <em>s</em><em>hallalahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat”.</em> (HR. Muslim no. 82; Abu Dawud no. 4678; At-Tirmidzi no. 2620; dan Ibnu Majah no. 1078)</p>
<p>Begitu pula hadis dari ‘Abdullah bin Buraidah bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ</span></p>
<p><em>“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah salat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir”. </em>(HR. Ibnu Majah no. 1079; At-Tirmidzi no. 2621, dan an-Nasa-i I/231-232)</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kesimpulan</strong></span></h2>
<p>Ibadah salat menempati posisi yang sangat agung dalam syari’at Islam. Setelah syahadat, salat merupakan hal yang pertama yang menjadi rukun keislaman seseorang. Keutamaan dan keistimewaan salat juga dipertegas dengan dalil-dalil sahih dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta <em>ijma</em>‘ para ulama. Di samping itu, ketegasan syari’at dalam menghukumi orang-orang yang meninggalkan salat secara sengaja -dengan kekufuran- semakin membuktikan keagungan dan kemuliaan ibadah salat yang mesti diprioritaskan oleh seorang muslim. <em>Wallahu Ta’ala a’lam</em>.</p>
<p>Semoga Allah <em>Ta’ala </em>senantiasa memberikan hidayah kepada kita untuk terus menimba ilmu tentang perkara-perkara agama yang dapat menghantarkan kita menuju <em>husnul khotimah</em> kelak di hadapan-Nya.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/61009-waktu-terbaik-untuk-shalat-subuh.html" data-darkreader-inline-color="">Waktu Terbaik untuk Shalat Subuh</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/60553-mereka-adalah-orang-orang-yang-khusyu-dalam-shalat-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Mereka adalah Orang-Orang yang Khusyu’ dalam Shalat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/author/fauzanhidayat" data-darkreader-inline-color=""> Fauzan Hidayat</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Referensi : </strong></p>
<p>(1)  Lihat Kitab <em>Fathul Majid li Syarhi Kitaabit Tauhid, </em>hlm. 180.</p>
<p>(2) Lihat Kitab <em>al-Mughni </em>(III/5) karya Ibnu Qudamah</p>
<p>(3) Kitab <em>al-Mughni </em>(III/6)</p>
<p>(4) Lihat Kitab <em>al-Iimaan </em>bab <em>maa Jaa-aa fii Hurmatish Shalaah </em>(V/11) no. 2616 karya at-Tirmidzi</p>
<p>(5) Lihat Kitab <em>al-Ausatf </em>(I/409) karya ath-Thabrani.</p>
<p>(6) Lihat Kitab <em>al-Jaami’ ashShagiir </em>(VII/263) karya ath-Thabrani</p>
<p>(7) Dari Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha,</em> “Bahwasanaya ia pernah berkata, ‘Wasiat terakhir kali yang disampaikan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em> adalah, ‘Jagalah salat, jagalah salat, dan budak-budak yang kalian miliki. ‘Sampai-sampai Nabiyullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em> mengulang-ulangnya di dalam dada dan tidak dapat mengucapkan melalui lisannya dengan jelas’. (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh al-Albani dalam Kitab <em>I</em><em>rwaa-ul Ghalil </em>(VII/238)</p>
<p>(8) Lihat Kitab <em>al-Iimaan </em>bab <em>al-Israi bi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam wa Fardhi Shalawat</em> no 162, karya Muslim.</p>
<p>(9) QS. Maryam: 54-55</p>
<p>(10) QS. Maryam: 9</p>
<p>(11) Lihat  Kitab <em>Mawaaqiitush Shalaah</em> Bab <em>Man Nasiya Shlaatan Falyushalliihaa Idzaa Dzakaraha</em> (I/166) no. 597 karya al-Bukhari.</p>
<p>(12) QS. al-Ankabuut: 45</p>
<p>(13) Lihat Kitab <em>at-Tauhid </em>Bab <em>Wa Samman Nabiyu ash-Shalaata Amalan </em>(VIII/265) no. 7534 karya al-Bukhari.</p>
<p>(14) Lihat Kitab <em>al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah</em> Bab <em>al-Masy-yu ilash Shalaati Tumha Bihil Khataayaa wa Tarfa’u Bihid darajaat </em>(I/463) no. 668 Karya Muslim.</p>
<p>(15) Lihat Kitab <em>ath-Thahaarah </em> Bab <em>ash_Shalawaatul Khamsu wal Jumu’atu ilal Jumu’ati wa Ramadhani ilaa Ramadhaana Mukaffiratun Lima Bainahunna Majtunibail Kabaa’ir</em> (I/209) no. 233 Karya Muslim.</p>
<p>(16) Lihat Kitab <em>al-Musnad </em>(II/169) karya Ahmad.</p>
<p>(17) Lihat Kitab <em>ash-Shalaah</em> Bab <em>Fadhlus Sujuud wal Hatstsu ‘Alaihi</em> (I/253) no. 448 karya Muslim.</p>
<p>(18) Ibid. No. 849</p>
<p>(19) Lihat Kitab <em>al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah</em> Bab <em>al-Masy-yu ilash Shalaati Tumha Bihil Khataayaa wa Tarfa’u Bihid darajaat </em>(I/463) no. 666 karya Muslim.</p>
<p>(20) Lihat Kitab <em>al-Adzaan </em>Bab <em>Fadhlu Man Ghadaa Ilal Masjid au Raaha</em> (I/182) no. 662 karya al-Bukhari.</p>
<p>(21) Lihat Kitab <em>ath-Thahaarah </em>Bab <em>Fadhluul Wudhu wash Shalaati Aqibahu</em> (I/206) no. 227 karya Muslim.</p>
<p>(22) Ibid no. 288.</p>
<p>(23) Lihat Kitab <em>al-Buyuu’ </em>Bab <em>Maa Dzukira dil Aswaaq </em>no. 2119 karya al-Bukhaari.</p>
<p>(24) Lihat Kitab <em>ath-Thahaarah </em>Bab <em>Isbaaghul Wudhu ‘alal makaarih</em> no. 251 karya Muslim.</p>
<p>(25) Lihat Kitab <em>ash-Shalaah </em>Bab <em>Maa Jaa-a fii Fadhlil Masy-yi ilash Shalaah </em>no. 558 karya Abu Dawud.</p>
<p>(26) Ibid, Bab <em>Fii Man Kharaja Yuridush Shalaata Fasubiqa Bihaa </em> no. 564</p>
<p>(27) Lihat Kitab <em>Shahiih </em>(I/229) karya Ibnu Khuzaimah.</p>
<p>(28) Lihat Kitab <em>Tuhfatul al-Ikhwaan bi ajwibatin Muhimmatin Tata’allaqu bi arkaanil Islam </em>halaman 73 karya al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz.</p>
<p>(29) Lihat Kitab <em>Shalatul Mu’min/</em>Ensiklopedi Shalat Shalat Bab Hukum Meinggalkan Shalat halaman 165 karya Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani.</p>
 