
<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p>Apa hukum<em> ‘azl </em>(melepaskan hubungan persetubuhan untuk menumpahkan air mani keluar rahim)?</p>
<p><!--more--></p>
<p><strong>Jawaban: </strong></p>
<p><em>‘Azl</em> dibolehkan, namun hukumnya <em>makruh</em>. Dalil bahwa<em> ‘azl</em> dibolehkan adalah hadits Jabir bin Abdillah <em>radhiallahu ‘anhuma</em>, beliau mengatakan, “<em>Dulu kami (para sahabat) melakukan ‘azl di masa ketika al-Qur’an diturunkan.</em>” Dalam riwayat yang lain, “<em>Dulu kami melakukan ‘azl di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Demikian pula hadits Sa’ad bin Abi Waqqash <em>radhiallahu ‘anhuma,</em> bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan mengatakan, “<em>Saya melakukan ‘azl ketika hubungan dengan istriku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Mengapa kamu lakukan itu?” Dia menjawab, “Saya kasihan dengan anak-anaknya.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikan ‘azl itu berbahaya, tentu akan membahayakan orang Persia dan orang Romawi.</em>” (HR. Muslim),</p>
<p>Sementara sisi hukum makruh praktik <em>‘azl,</em> berdasarkan hadits berikut:</p>
<p>Pertama, dari Abu Said al-Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan, “<em>Ketika kami mendapatkan wanita tawanan perang, di antara kami ada yang melakukan ‘azl (ketika menyetubuhinya). Kemudian, kami bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau bersabda, ‘Apakah kalian melakukan hal itu…? (beliau ulangi tiga kali). Tidaklah ada satu jiwa yang ditetapkan sampai Kiamat, kecuali dia pasti tercipta.’</em>” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadits ini Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya kepada para sahabat dengan gaya mengingkari.</p>
<p>Kedua, Dari Jadzamah bintu Wahb <em>radhiallahu ‘anha</em>, bahwa para sahabat bertanya kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang<em> ‘azl</em>. Beliau menjawab, “’<em>Azl itu pembunuhan terselubung</em>.” (HR. Muslim).</p>
<p>(<em>Jami’ Ahkam an-Nisa’,</em> jilid 5, hal. 398 – 399)</p>
<p>Diterjemahkan oleh Ustadz Ammi Nur Baits<br>
Artikel www.KonsultasiSyariah.com dengan pengubahan tata bahasa seperlunya.</p>
 