
<p>Adakah tuntunan menutup majelis dengan membaca surat Al-Ashr?</p>
<p>Jawabannya ada.</p>
<p>Dalilnya adalah perbuatan para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum.</em></p>
<p>Dari Abu Madinah Ad-Darimi, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">كَانَ الرَّجُلانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَيَا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَقْرَأَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ : ” وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ” ، ثُمَّ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ</p>
<p>“<em>Jika dua orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bertemu, mereka tidaklah berpisah sampai salah satu di antara keduanya membaca ‘wal ‘ashr innal insana lafii khusr …’. Lalu salah satu dari keduanya mengucapkan salam untuk lainnya.</em>” (HR. Abu Daud dalam Az-Zuhd, no. 417; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 5: 215; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman, 6: 501. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2648)</p>
<p>Ada dua faidah dari hadits ini kata Syaikh Al-Albani sebagaimana kita mengamalkan sunnah para salaf kita:</p>
<p> </p>
<p><strong>Pertama</strong>: Mengucapkan salam saat berpisah.</p>
<p>Hal ini sesuai pula dengan hadits,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتِ الأُولَى بِأَحَقَّ مِنَ الآخِرَةِ</p>
<p>“<em>Apabila salah seorang di antara kalian masuk majlis, hendaklah ia mengucapkan salam.  Apabila ia keluar, hendaklah ia mengucap salam. Tidaklah yang pertama lebih pantas dari yang kedua.”</em>” (HR. Abu Daud, no. 5208; Tirmidzi, no. 2706. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>hasan</em>)</p>
<p> </p>
<p><strong>Kedua</strong>: Para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> sudah terbiasa merutinkan surat Al-‘Ashr (saat berpisah dari majelis). Seperti itu bukanlah <em>bid’ah</em> yang dibuat-buat. Amalan tersebut tentu ada petunjuk dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, entah sabda, praktik atau persetujuan dari beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Allah <em>Ta’ala</em> pun telah memuji para sahabat,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ</p>
<p>“<em>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.</em>” (QS. At-Taubah: 100)</p>
<p>Ibnu Mas’ud dan Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّيًا فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرَّ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قُلُوْبًا، وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا، وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا، وَأَقْوَمَهَا هَدْيًا، وَأَحْسَنَهَا حَالاً، قَوْمٌ اخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ وَلإِقَامَةِ دِيْنِهِ، فَاعْرِفُوْا لَهُمْ فَضْلَهُمْ وَاتَّبِعُوْهُمْ فِي آثَارِهِمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَى الْهُدَى الْمُسْتَقِيْمِ.</p>
<p>“<em>Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus</em>.” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-‘Ilm, 2: 97) (Lihat <em>Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah</em>, no. 2648, 6: 308-309)</p>
<p>Semoga Allah memberi taufik dan hidayah, serta diberi kemudahan terus berada dalam petunjuk ilmu.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #0000ff;">Referensi:</span></h4>
<p><em>Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah</em>. Cetakan Kedua, Tahun 1415 H. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Penerbit Maktabah Al-Ma’arif.</p>
<p>—</p>
<p>Diselesaikan menjelang Zhuhur, 28 Jumadats Tsaniyyah 1437 H <a href="https://darushsholihin.com/">@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul</a></p>
<p><em>Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi</em>: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p><a href="http://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a>, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam</p>
 