
<h2 style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </b><b><i>rahimahullah</i></b></span></h2>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Pertanyaan:</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apa pendapat syaikh terhadap fenomena yang muncul akhir-akhir ini, yaitu adanya orang yang memberikan ceramah di pemakaman?</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/26982-bolehkah-wanita-berziarah-kubur.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Wanita Berziarah Kubur?</a></strong></p>
<p><span style="font-size: 18pt;"><b>Jawaban:</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapatku tentang (hukum) memberikan ceramah di pemakaman adalah bahwa perkara tersebut adalah perkara yang tidak disyariatkan dan tidak sepatutnya dijadikan sebagai kebiasaan yang dilakukan secara rutin (terus-menerus). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun </span><b>jika ada sebab tertentu,</b><span style="font-weight: 400;"> maka tidak mengapa dan terkadang bisa jadi disyariatkan. Misalnya, seseorang melihat para pengiring jenazah yang memakamkan mayit sambil tertawa, bermain-main dan berdesak-desakan. Dalam kondisi ini, tidak diragukan lagi bahwa adanya nasihat (dalam bentuk ceramah singkat, pent.) itu baik dan bermanfaat. Hal ini karena ada sebab tertentu yang mendorongnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan jika seseorang tanpa ada sebab tertentu tiba-tiba berdiri di hadapan pengantar jenazah kemudian berkhutbah (memberikan ceramah) dalam kondisi mereka sedang memakamkan jenazah, hal ini tidak memiliki landasan dari Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">sehingga tidak selayaknya untuk dilakukan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Betul bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">keluar untuk melihat pemakaman salah seorang shahabat dari kaum Anshar ketika galian lahad dibuat. Nabi</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">duduk dan demikian pula para shahabat pun duduk mengelilingi beliau, (mereka diam) seakan-akan di atas kepala mereka ada burung karena rasa hormat dan pengagungan (kepada Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam).</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memegang sebatang kayu yang kemudian ditancapkan ke tanah. Mulailah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">berbicara tentang kondisi seseorang ketika meninggal dan setelah meninggal dunia </span><b>[1].</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perkara ini sangatlah jelas, yaitu bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika itu tidaklah menjadi khatib yang berceramah kepada manusia dan menasihati mereka. Akan tetapi, beliau duduk dikelilingi para shahabat sambil menunggu kapan liang lahad dibuat lalu beliau pun berbicara kepada mereka. Ini seperti Engkau dan teman-temanmu menunggu pemakaman jenazah kemudian Engkau pun berbicara kepada mereka tentang suatu perkara. Tentu saja kondisinya berbeda antara suatu kejadian khusus (tertentu) yang terjadi pada orang yang sedang duduk-duduk dengan yang dilakukan oleh orang-orang jaman ini dalam bentuk (sengaja) memberikan ceramah (khutbah).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">terbiasa ketika memakamkan jenazah, beliau berdiri dan bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ، وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu, dan mintalah agar dia diberikan keteguhan, karena sesungguhnya sekarang ini dia sedang ditanya.”</span><b>[2] </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka hal ini juga merupakan perkara yang sifatnya khusus, dan bukan khutbah. </span><b>[3]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/26795-fatwa-ulama-hukum-bersih-bersih-kuburan.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Bersih-Bersih Kuburan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/24635-adzab-kubur-apakah-berlangsung-terus-menerus-sampai-hari-kiamat.html" data-darkreader-inline-color="">Adzab Kubur, Apakah Berlangsung Terus-Menerus Sampai Hari Kiamat?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 17 Rabi’ul akhir 1441/ 14 Desember 2019</span></p>
<p><b>Penerjemah: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">HR. Ahmad (4: 287) dan Abu Dawud no. 4753 dari hadits Al-Barra’ bin ‘Aazib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu. </span></i></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">HR. Abu Dawud no. 3221. </span></p>
<p><b>[3] </b><span style="font-weight: 400;">Diterjemahkan dari kitab </span><b><i>Ash-Shahwah Al-Islamiyyah: Dzawabith wa Taujihaat</i></b> <span style="font-weight: 400;">hal. 112-113, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala.</span></i></p>
 