
<p>Hari Jumat adalah hari yang mulia, dan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memuliakannya. Keutamaan yang besar tersebut menuntut umat Islam untuk mempelajari petunjuk Rasulullah dan sahabatnya, bagaimana seharusnya menyambut hari tersebut agar amal kita tidak sia-sia dan mendapatkan pahala dari Allah ta’ala</p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Memperbanyak membaca Al-Qur’an di hari Jum’at</span></strong></h2>
<p>Dianjurkan bagi orang yang menghadiri shalat Jum’at untuk memperbanyak shalat sunnah, sebanyak yang dia mampu. <strong>[1]</strong></p>
<p>Jika selesai dari ibadah shalat sunnah, dia bisa membaca Al-Qur’an, jika memang bisa (mampu) membaca Al-Qur’an. Para ulama telah menyebutkan dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ</span></p>
<p>“Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An-Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam <em>Shahihul Jami’</em> no. 6470)</p>
<p>Yang dimaksud dengan hari Jum’at adalah antara terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Maka di antara dua hal tersebut adalah waktu dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi. Sehingga dianjurkannya membaca surat Al-Kahfi tidaklah khusus hanya ketika shalat Jum’at saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian manusia. Jika seseorang membaca surat Al-Kahfi setelah shalat subuh atau setelah shalat ‘ashar, itu pun sudah mencukupi, insyaa Allah. (Lihat <em>Majmu’ Al-Fataawa,</em> 24: 215)</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/42217-keutamaan-waktu-bada-ashar-hari-jumat.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Waktu Ba’da Ashar Hari Jumat</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Menyibukkan diri dengan dzikir dan berdoa</span></strong></h2>
<p>Jika tidak mampu membaca Al-Qur’an, hendaknya dia menyibukkan diri berdzikir kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya. Bertambahlah pahala dari membaca dzikir tersebut karena keutamaan hari Jum’at.</p>
<p>Dianjurkan pula untuk memperbanyak berdoa di sepanjang hari Jum’at tersebut, sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari, dengan penuh harap bersesuaian dengan waktu dikabulkannya doa (waktu ijabah). Waktu ijabah tersebut diperselisihkan oleh para ulama dengan perbedaan pendapat yang banyak sekali. Waktu tersebut diisyaratkan dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebutkan hari Jum’at, kemudian beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ</span></p>
<p>“Di hari Jum’at terdapat suatu waktu, yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri melaksanakan shalat, kemudian dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut, melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhari no. 935 dan Muslim 2006)</p>
<p><em>Wallahu Ta’ala a’lam,</em> dari pendapat-pendapat ulama terkait masalah ini, pendapat yang paling kuat adalah yang mengatakan bahwa waktu tersebut adalah setelah shalat ‘ashar di hari Jum’at. <strong>[2]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/184-adab-pada-hari-jumat-sesuai-sunnah-nabi.html" data-darkreader-inline-color="">Adab Pada Hari Jumat Sesuai Sunnah Nabi</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Memperbanyak shalawat kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></span></strong></h2>
<p>Para ulama juga menyebutkan dianjurkannya memperbanyak shalawat kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di hari Jum’at. Orang yang sudah hadir di masjid untuk shalat Jum’at, namun tidak berkehendak untuk memperbanyak shalat sunnah, dianjurkan untuk memperbanyak shalawat.</p>
<p>Hali ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Aus bin Aus <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ قُبِضَ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ: قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ – يَقُولُونَ: بَلِيتَ -؟ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ</span></p>
<p>“Sesungguhnya di antara hari-harimu yang paling utama adalah hari Jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau wafat, pada hari itu juga ditiup (sangkakala), dan pada hari itu juga mereka pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku -karena- shalawat kalian akan disampaikan kepadaku.”</p>
<p>Aus bin Aus berkata, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami bisa disampaikan kepadamu, sementara Anda telah tiada (meninggal)? -atau mereka berkata, “Telah hancur (menjadi tulang belulang).”</p>
<p>Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘<em>Azza wa Jalla</em> mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi.” (HR. Abu Dawud no. 1047, An-Nasa’i no. 1374, Ibnu Majah no. 1636, dan lain-lain. Dinilai shahih oleh Al-Albani)</p>
<p>Sebagian orang, ketika selesai mengerjakan shalat sunnah, mereka pun mulai mengantuk sampai ketika khatib naik mimbar. Perbuatan semacam ini berarti telah menghalangi dari kebaikan yang sangat banyak, dia pun terlewat dari mendapatkan kebaikan yang sangat banyak di hari Jum’at. Terdapat hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ إِلَى غَيْرِهِ</span></p>
<p>“Apabila salah seorang mengantuk di dalam masjid (ketika khutbah Jumat), hendaknya dia pindah tempat duduk ke tempat duduk yang lain.” (HR. Abu Dawud no. 1119, dinilai shahih oleh Al-Albani)</p>
<p>Adapun hikmah adanya perintah berpindah tempat adalah agar orang tersebut kemudian bisa menggerakkan badannya untuk mengusir rasa kantuk tersebut. Kemungkinan hikmah yang lain adalah agar seseorang berpindah dari tempat yang telah membuat dia lalai (dengan mengantuk), ke tempat yang baru. <em>Wallahu a’lam.</em> (Lihat <em>Nailul Authar,</em> 3: 284)</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/55639-hukum-safar-di-hari-jumat.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Safar di Hari Jum’at</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/35842-hukum-jual-beli-ketika-shalat-jumat.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Jual Beli ketika Shalat Jumat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat. <strong>[3]</strong></p>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p>***</p>
<p>@Rumah Kasongan, 4 Muharram 1442/ 23 Agustus 2020</p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
[1] Silakan disimak pembahasannya di sini:
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="rzFRV3xr3s"><p><a href="https://pengusahamuslim.com/1993-adakah-shalat-sunnah-khusus-sebelum-shalat-jumat.html">Adakah Shalat Sunnah Khusus Sebelum Shalat Jumat?</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="“Adakah Shalat Sunnah Khusus Sebelum Shalat Jumat?” — PengusahaMuslim.com" src="https://pengusahamuslim.com/1993-adakah-shalat-sunnah-khusus-sebelum-shalat-jumat.html/embed#?secret=rzFRV3xr3s" data-secret="rzFRV3xr3s" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
[2] Silakan disimak pembahasannya di sini:
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="E5Csv0nmXc"><p><a href="https://konsultasisyariah.com/24097-waktu-mustajab-di-hari-jumat.html">Waktu Mustajab di Hari Jumat</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="“Waktu Mustajab di Hari Jumat” — Konsultasi Agama dan Tanya Jawab Pendidikan Islam" src="https://konsultasisyariah.com/24097-waktu-mustajab-di-hari-jumat.html/embed#?secret=E5Csv0nmXc" data-secret="E5Csv0nmXc" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
[3] Pembahasan ini kami sarikan dari kitab <strong><em>Ahkaam Khudhuuril Masaajid</em></strong> karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan <em>hafidzahullah,</em> hal. 255-257 (cetakan ke empat tahun 1436, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, Riyadh KSA). Kutipan-kutipan dalam tulisan di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.
 