
<p align="JUSTIFY">Lebih lanjut, syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman al-Bassam<sup><a href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup> menjelaskan dengan lebih rinci, beberapa sebab untuk menghadirkan hati dan meraih khusyu’ dalam shalat, berdasarkan pengamatan terhadap dalil-dalil dalam al-Qur-an dan hadits yang shahih dari Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em>, akan kami bawakan di sini beserta tambahan keterangan dan penyebutan dalil, sebagai berikut:</p>
<h5 align="JUSTIFY">
<b>1- Berlindung kepada Allah <em>Ta’ala</em></b><b> dari (godaan) setan yang terkutuk.</b>
</h5>
<p align="JUSTIFY">Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em> bersabda tentang Setan yang selalu mengganggu manusia dalam shalat: “Itu adalah Setan yang bernama <i>Khinzab</i>, jika kamu merasakan (godaannya) maka berlindunglah kepada Allah darinya, dan hembuskanlah sedikit ludahmu ke (arah) kiri tiga kali”. ‘Utsman bin Abil ’Ash <em>Radhiallahu’anhu</em> berkata: Lalu aku praktekkan petunjuk Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em> tersebut, maka Allah menghilangkan (godaan) Setan itu dariku<sup><a href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></sup>.</p>
<h5 align="JUSTIFY"><b>2- Merenungi/menghayati (makna) bacaan al-Qur-an dan zikir-zikir dalam shalat.</b></h5>
<p align="JUSTIFY">Karena bacaan al-Qur-an dan zikir-zikir yang disyariatkan dalam Islam akan bermanfaat bagi orang yang membacanya jika dibaca dengan perenungan dan penghayatan dalam hati. Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">{</span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ</span></span></span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">}</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Ini adalah sebuah kitab (al-Qur-an) yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka merenungkan (makna) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran</em>” (QS Shaad: 29).</p>
<p lang="" align="JUSTIFY">Dalam ayat lain, Dia berfirman:</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';">{</span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ</span></span></span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';">}</span></p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Sesungguhnya pada yang demikian itu (al-Qur-an) benar-benar terdapat peringatan (pelajaran) bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang mengkonsentrasikan pendengarannya, sedang dia menghadirkan (hati)nya</em>” (QS Qaaf:37).</p>
<h5 align="JUSTIFY">
<b>3- Menghadirkan kebesaran Allah <em>Ta’ala</em></b><b> dan (meyakini) bahwa orang yang shalat sedang bermunajat dan menghadapkan diri kepada-Nya.</b>
</h5>
<p align="JUSTIFY">Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em> bersabda: “Sesungguhnya orang yang shalat sedang bermunajat (berkomunikasi) dengan Allah <i>Ta’ala</i>, maka hendaknya salah seorang darimu memperhatikan bagaimana dia bermunajat dengan Allah, dan janganlah kalian saling mengeraskan suara ketika membaca al-Qur-an (dalam shalat)”<sup><a href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></sup>.</p>
<h5 align="JUSTIFY">
<b>4- Mengetahui kelemahan dan ketergantungan manusia ketika dia ruku’ dan sujud terhadap keagungan dan kebesaran Allah <em>Ta’ala</em></b><b>.</b>
</h5>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Termasuk sempurnanya sifat khusyu’ dan ketundukan seorang hamba kepada Allah <i>Ta’ala</i> ketika dia ruku’ dan sujud adalah tatkala dia merendahkan diri kepada Allah dalam ruku’ dan sujudnya maka pada saat itu dia menyifati-Nya dengan sifat-sifat kemuliaan, kebesaran, keagungan dan ketinggian, seolah-olah hamba itu berkata: “kerendahan dan ketundukan adalah sifatku, sedangkan ketinggian, keagungan dan kebesaran adalah sifat-Mu”. Oleh sebab itu, orang yang shalat disyariatkan membaca (zikir) dalam ruku’nya: <i>subhaana Rabbiyal ‘azhiim</i> (maha suci Rabb-ku/Allah <i>Ta’ala</i> yang maha agung)”, dan dalam sujudnya membaca (zikir): <i>subhaana Rabbiyal a’laa</i> (maha suci Rabb-ku/Allah yang maha tinggi)”<sup><a href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></sup>.</p>
<h5 align="JUSTIFY"><b>5- Membatasi pandangan (matanya hanya) pada tempat sujudnya, karena sesungguhnya jika pandangan itu tersebar (kemana-mana) maka hati (dan pikiran) akan mengikutinya.</b></h5>
<p align="JUSTIFY">Inilah di antara hikmah disyariatkannya meletakkan <i>sutrah</i> (pembatas shalat) di depan orang yang shalat, sebagaimana yang diperintahkan dalam beberapa hadits yang shahih<sup><a href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></sup>, untuk membatasi pandangan mata sehingga hati dan pikiranpun akan lebih terkonsentrasi pada shalat yang sedang dikerjakan, maka ini jelas akan memudahkan untuk mencapai khusyu’ dengan izin Allah <i>Ta’ala</i><sup><a href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Oleh karena itu, orang yang sedang shalat disunnahkan agar pandangan matanya tidak melewati tempat sujudnya<sup><a href="#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Bahkan dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em> menegaskan bahwa memalingkan pandangan dari tempat sujud adalah tipu daya Setan yang ingin merusak shalat manusia. Dari ‘Aisyah <em>Radhiallahu’anha</em> dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> tentang orang yang menoleh (memalingkan pandangan) ketika shalat, maka Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em> bersabda: “Itu adalah rampasan Setan dari shalat seorang hamba”<sup><a href="#sdfootnote8sym"><sup>8</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Dalam hadits yang lain, Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em> bersabda: “Sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya kepada wajah hamba-Nya dalam shalatnya selama hamba-Nya itu tidak memalingkan pandangan”<sup><a href="#sdfootnote9sym"><sup>9</sup></a></sup>.</p>
<h5 align="JUSTIFY"><b>6- Jangan mengerjakan shalat ketika hati/pikiran sedang sibuk (dengan hal lain), seperti keinginan makan dan minum, menahan buang air besar dan kecil, atau hal-hal lain yang mengganggu pikiran.</b></h5>
<p align="JUSTIFY">Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em> bersabda: “Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan dan ketika menahan buang air besar dan kecil”<sup><a href="#sdfootnote10sym"><sup>10</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Dalam hadits lain, Rasulullah <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em> ketika shalat mengenakan pakaian yang bercorak (bergambar), setelah selesai shalat beliau <em>Shallallahu’alahi Wasallam</em> bersabda: “Sungguh pakaian ini melalaikanku (mengganggu kekhusyu’anku) ketika aku shalat tadi”<sup><a href="#sdfootnote11sym"><sup>11</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Hadits-hadits di atas menunjukkan tidak disukainya shalat dalam keadaan hati dan pikiran disibukkan dengan hal lain, seperti rasa lapar dan haus, atau keinginan untuk buang hajat. Demikian juga shalat dengan pakaian atau di hadapan sesuatu yang bermotif, bergambar, bertulisan, berwarna-warni dan hal-hal lain yang menggangu atau meyibukkan pikiran, karena semua ini akan merusak kekhusyu’an dalam shalat<sup><a href="#sdfootnote12sym"><sup>12</sup></a></sup>.</p>
<h4 align="JUSTIFY"><b>Hukum khusyu’ dalam shalat dan ibadah lainnya</b></h4>
<p align="JUSTIFY">Imam asy-Syaukani berkata: “Para ulama berbeda pendapat tentang (hukum) khusyu’, apakah termasuk kewajiban shalat atau keutamaan (anjuran) dalam shalat”<sup><a href="#sdfootnote13sym"><sup>13</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menguatkan pendapat bahwa khusyu’ hukumnya wajib dalam shalat dan beliau membawakan banyak dalil untuk menguatkan pendapat ini<sup><a href="#sdfootnote14sym"><sup>14</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Akan tetapi pendapat yang lebih kuat adalah pendapat mayoritas ulama bahwa khusyu’ bukan merupakan kewajiban dalam shalat, sehingga shalat yang dilakukan dengan tidak khusyu’ tetap sah dan mencukupi, meskipun jelas pahala dan keutamaannya sangat berkurang<sup><a href="#sdfootnote15sym"><sup>15</sup></a></sup>. Maka shalat yang didominasi oleh kelalaian dan bisikan-bisikan Setan tidaklah batal dan tidak disyariatkan untuk diulang, meskipun jelas nilai pahala dan keutamaannya sangat kurang<sup><a href="#sdfootnote16sym"><sup>16</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkata: “Pendapat yang benar: khusyu’ adalah sunnah (anjuran), akan tetapi anjurannya sangat ditekankan (<i>sunnatun muakkadah</i>). Karena khusyu’ adalah ruh shalat yang sebenarnya. Maka shalat (yang dikerjakan) tanpa menghadirkan hati (khusyu’) tidak lain (ibaratnya seperti) kulit tanpa isi dan pahala/keutamaan shalat akan berkurang sesuai dengan berkurangnya kekhusyu’an”<sup><a href="#sdfootnote17sym"><sup>17</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Di antara dalil yang menunjukkan tidak wajibnya khusyu’ adalah hadits-hadits yang shahih tentang sujud sahwi, juga sabda Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> tentang Setan yang mengganggu hamba yang shalat sehingga hamba tersebut tidak mengetahui berapa rakaat shalat yang telah dikerjakannya<sup><a href="#sdfootnote18sym"><sup>18</sup></a></sup>. Dalam hadits-hadits ini, Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> tidak memerintahkan shalat tersebut untuk diulangi, padahal jelas shalat tersebut dilakukan tanpa menghadirkan hati dan khusyu’<sup><a href="#sdfootnote19sym"><sup>19</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Kesimpulannya, dalam hal ini para ulama bersepakat bahwa shalat yang dikerjakan seorang hamba tidak akan meraih pahala dan keutamaan kecuali sesuai dengan kadar kekhusyu’an dan kehadiran hatinya dalam shalat tersebut. Maka shalat tanpa khusyu’ tetap dikatakan sah, dalam artian tidak perlu diulangi, meskipun jelas pahala dan keutamaannya sangat sedikit<sup><a href="#sdfootnote20sym"><sup>20</sup></a></sup>.</p>
<h4 align="JUSTIFY"><b>Syubhat (kerancuan dan kesalahpahaman) tentang khusyu’</b></h4>
<p align="JUSTIFY">Beberapa perbuatan yang dianggap oleh orang-orang bodoh termasuk bentuk khusyu’ padahal sama sekali bukan khusyu’, di antaranya:</p>
<p align="JUSTIFY">1- <i><b>Khusyu’ nifaq</b></i> (khusyu’ munafik), yaitu anggota badan yang terlihat tunduk dan tenang padahal hatinya lalai dan jauh dari khusyu’.</p>
<p align="JUSTIFY">Hudzaifah bin al-Yaman berkata <em>radhiallahu’anhu</em>: “Jauhilah khusyu’ munafik”. Seseorang bertanya kepada beliau: Apa itu khusyu’ munafik? Hudzaifah <em>radhiallahu’anhu</em> berkata: “(Yaitu) kamu melihat (anggota) badan yang (seolah-olah) khusyu’ padahal hatinya tidak khusyu’”<sup><a href="#sdfootnote21sym"><sup>21</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Inilah makna ucapan ‘Umar bin al-Khattab <em>radhiallahu’anhu</em>, ketika beliau melihat seorang pemuda yang tertunduk kepalanya, beliau  berkata: “Wahai pemuda, angkatlah kepalamu, karena sesungguhnya khusyu’ itu tidak lebih dari apa yang ada di dalam hati”<sup><a href="#sdfootnote22sym"><sup>22</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Dalam atsar lain, Ummul mu’minin ‘Aisyah <em>radhiallahu’anha</em> melihat beberapa orang pemuda yang terlihat lemas ketika berjalan, ‘Aisyah <em>radhiallahu’anha</em> bertanya: “Siapakah mereka itu”? Orang-orang menjawab: Mereka adalah ahli ibadah. Maka `’Aisyah <em>radhiallahu’anha</em> berkata: “Dulunya ‘Umar bin al-Khattab <em>radhiallahu’anhu</em> kalau berjalan (langkahnya) cepat, kalau berbicara (suaranya) keras, kalau memukul (pukulannya) menyakitkan dan kalau dia memberi makan mengenyangkan, padahal beliau adalah ahli ibadah yang sejati”<sup><a href="#sdfootnote23sym"><sup>23</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnu Rajab berkata: “Barangsiapa yang menampakkan (seolah-olah) khusyu’ (padahal) berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya maka itu tidak lain adalah kemunafikan di atas kemunafikan”<sup><a href="#sdfootnote24sym"><sup>24</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">2- Persangkaan sebagian dari orang-orang awam yang mengatakan bahwa ibadah yang khusyu’ adalah ibadah yang dikerjakan oleh seseorang tanpa ada bisikan, was-was dan godaan setan dalam hatinya.</p>
<p align="JUSTIFY">Jelas ini merupakan persangkaan yang sangat keliru, karena tidak mungkin Iblis dan bala tentaranya pernah berhenti atau libur menggoda dan berusaha menghalangi manusia dari jalan kebaikan, apalagi kebaikan besar yang mendatangkan keridhaan Allah <i>Ta’ala</i>, yaitu beribadah dengan khusyu’. Dalam al-Qur-an, Allah <i>Ta’ala</i> menceritakan ucapan dan tekad Iblis untuk memalingkan manusia dari semua jalan kebaikan:</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">{</span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ</span></span></span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">. </span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ</span></span></span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">}</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)</em>” (QS al-A’raaf).</p>
<p align="JUSTIFY">Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> bersabda: “<em>Sesungguhnya Setan (Iblis) akan selalu duduk (menghalangi) manusia pada semua jalan (kebaikan yang akan ditempuhnya)</em>”<sup><a href="#sdfootnote25sym"><sup>25</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnul Qayyim berkata: “Tidak ada satu jalan kebaikanpun kecuali Setan selalu menghadang untuk menghalangi orang yang ingin mengerjakannya”<sup><a href="#sdfootnote26sym"><sup>26</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Bahkan Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> mengabarkan dalam hadits yang shahih tentang adanya Setan yang tugasnya menggoda manusia dalam shalatnya, yaitu ketika ‘Utsman bin Abil ’Ash <em>radhiallahu’anhu</em> bertanya kepada Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Setan menghalangiku (menggodaku) dalam shalat dan mengacaukan bacaanku (dalam shalat). Maka Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> bersabda: “Itu adalah Setan yang bernama <i>Khinzab</i>, jika kamu merasakan (godaannya) maka berlindunglah kepada Allah darinya, dan hembuskanlah sedikit ludahmu ke (arah) kiri tiga kali”. ‘Utsman bin Abil ’Ash <em>radhiallahu’anhu</em> berkata: Lalu aku praktekkan petunjuk Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> tersebut, maka Allah menghilangkan (godaan) Setan itu dariku<sup><a href="#sdfootnote27sym"><sup>27</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Oleh karena itu, upaya Setan untuk selalu menggoda manusia dalam ibadah mereka agar mereka jauh dari sifat khusyu’ tentu besar sekali, karena semakin besar pahala dan keutamaan suatu amal kebaikan, maka semakin besar pula usaha Setan untuk menghalangi manusia darinya.</p>
<p align="JUSTIFY">Maka jika ada orang yang menyangka bahwa ketika dia beribadah tidak diganggu oleh Setan, maka ini ini justru menimbulkan kecurigaan dan pertanyaan; apakah memang hatinya sedemikian parah kerusakannya sehingga Setan tidak merasa perlu untuk menggodanya? Karena kalau imannya benar dan hatinya khusyu’ maka bagaimana mungkin Setan akan membiarkannya dan tidak berusaha merusak kekhusyu’annya?</p>
<p align="JUSTIFY">Bahkan boleh jadi semua ini justru merupakan bukti nyata kuatnya kedudukan dan tipu daya setan bersarang dalam diri mereka. Karena bagaimana mungkin setan akan membiarkan manusia merasakan ketenangan iman dan tidak membisikkan was-was dalam hatinya?</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnul Qayyim membuat perumpaan hal ini<sup><a href="#sdfootnote28sym"><sup>28</sup></a></sup> dengan seorang pencuri yang ingin mengambil harta orang lain; manakah yang akan selalu diintai dan didatangi oleh pencuri tersebut: rumah yang berisi harta dan perhiasan yang melimpah atau rumah yang kosong melompong bahkan telah rusak?</p>
<p lang="" align="JUSTIFY">Jawabnya: jelas rumah pertama yang akan ditujunya, karena rumah itulah yang bisa dicuri harta bendanya. Adapun rumah yang kedua, maka akan “aman” dari gangguannya karena tidak ada hartanya, bahkan mungkin rumah tersebut merupakan lokasi yang strategis untuk dijadikan tempat tinggal dan sarangnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Demikianlah keadaan hati manusia, hati yang dipenuhi tauhid, keimanan yang kokoh dan selalu khusyu’ kepada Allah <i>Ta’ala</i>, akan selalu diintai dan digoda setan untuk dicuri keimanannya dan dirusak kekhusyu’annya, sebagaiamana rumah yang berisi harta akan selalu diintai dan didatangi pencuri.</p>
<p align="JUSTIFY">Oleh karena itu, dalam sebuah hadits shahih, ketika salah seorang sahabat <em>radhiallahu’anhu</em> bertanya kepada Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i>: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku membisikkan (dalam) diriku dengan sesuatu (yang buruk dari godaan setan), yang sungguh jika aku jatuh dari langit (ke bumi) lebih aku sukai dari pada mengucapkan/melakukan keburukan tersebut. Maka beliau <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> bersabda: “Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar, segala puji bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan menjadi was-was (bisikan dalam jiwa)”<sup><a href="#sdfootnote29sym"><sup>29</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Dalam riwayat lain yang semakna, Rasulullah <i>Shallallahu’alaihi Wasallam</i> bersabda: “Itulah (tanda) kemurnian iman”<sup><a href="#sdfootnote30sym"><sup>30</sup></a></sup>.</p>
<p lang="" align="JUSTIFY">Dalam memahami hadits yang mulia ini ada dua pendapat dari para ulama:</p>
<ul>
<li>
<p lang="" align="JUSTIFY">Penolakan dan kebencian orang tersebut terhadap keburukan yang dibisikkan oleh setan itulah tanda kemurnian iman dalam hatinya</p>
</li>
<li>
<p align="JUSTIFY">Adanya godaan dan bisikkan setan dalam jiwa manusia itulah tanda kemurnian iman, karena setan ingin merusak iman orang tersebut dengan godaannya<sup><a href="#sdfootnote31sym"><sup>31</sup></a></sup>.</p>
</li>
</ul>
<p align="JUSTIFY">Adapun hati yang rusak dan jauh dari sifat khusyu’ ketika beribadah kepada Allah <i>Ta’ala</i>, maka hati yang gelap ini terkesan “tenang” dan “aman” dari godaan setan, karena hati ini telah dikuasai oleh setan, dan tidak mungkin “pencuri akan mengganggu dan merampok di sarangnya sendiri”.</p>
<p align="JUSTIFY">Inilah makna ucapan sahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Abbas <em>radhiallahu’anhu</em>, ketika ada yang mengatakan kepada beliau: Sesungguhnya orang-orang Yahudi menyangka bahwa mereka tidak diganggu bisikan-bisikan (setan) dalam shalat mereka. Abdullah bin ‘Abbas <em>radhiallahu’anhu</em> menjawab: “Apa yang dapat dikerjakan oleh setan pada hati yang telah hancur berantakan?”<sup><a href="#sdfootnote32sym"><sup>32</sup></a></sup>.</p>
<h4 align="JUSTIFY"><b>Penutup</b></h4>
<p align="JUSTIFY">Dalam al-Qur-an Allah <i>Ta’ala</i> mengajak orang-orang yang beriman untuk meraih sifat khusyu’ dengan mempelajari dan memahami petunjuk-Nya, Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">{</span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نزلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ</span></span></span><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">}</span></span></p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ (tunduk) hati mereka kepada peringatan dari Allah (al-Qur-an) dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturnkan al-kitab kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik</em>” (QS al-Hadiid: 16).</p>
<p align="JUSTIFY">Ayat ini memberikan motivasi bagi orang-orang yang beriman untuk bersungguh-sungguh meraih sifat khusyu’ dalam hati mereka, sekaligus merupakan celaan bagi orang-orang yang tidak mau tunduk hatinya ketika membaca, mendengarkan dan merenungkan isi ayat-ayat al-Qur-an<sup><a href="#sdfootnote33sym"><sup>33</sup></a></sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Kalau hati manusia tidak juga mau berubah dan tunduk ketika membaca dan merenungkan firman Allah <i>Ta’ala</i>, maka kapan lagi hatinya akan tunduk dan menjadi baik?</p>
<p align="JUSTIFY">Oleh karena itu, peringatan dan ancaman Allah <i>Ta’ala</i> dalam al-Qur’an hanyalah akan bermanfaat dan memberikan kebaikan bagi orang-orang yang hatinya hidup, beriman kepada Allah <i>Ta’ala</i> dan takut terhadap azab-Nya. Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY">{<span style="font-family: 'Traditional Arabic';">إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ</span>. <span style="font-family: 'Traditional Arabic';">لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ</span>}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir</em>” (QS Yaasiin: 69-70).</p>
<p align="JUSTIFY">Dalam ayat lain, Allah <i>Ta’ala</i> juga berfirman:</p>
<p dir="RTL" align="RIGHT">{<span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';">فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ </span></span>}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Maka berilah peringatan dengan al-Qur’an kepada orang yang takut kepada ancaman-Ku</em>” (QS Qaaf: 45).</p>
<p align="JUSTIFY">Adapun orang-kafir dan munafik, maka peringatan dan ancaman dalam al-Qur’an tidak bermanfaat bagi mereka, karena hati mereka tidak mengimaninya. Allah <i>Ta’ala</i> berfirman:</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY">{<span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';">إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ</span></span>}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman</em>” (QS al-Baqarah: 6).</p>
<p lang="" align="JUSTIFY">Juga firman-Nya tentang orang-orang munafik:</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY">{<span style="font-family: 'Traditional Arabic';">وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لأسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ</span>}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka mau mendengar (peringatan Allah dalam al-Qur’an). Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)</em>” (QS al-Anfaal: 23).</p>
<p align="JUSTIFY">Semoga Allah memudahkan taufik-Nya kepada kita untuk meraih sifat khusyu’ dan sifat-sifat mulia lainnya dengan memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya. Sesungguhnya Dia <span style="font-family: 'AGA Arabesque';"></span> maha mendengar lagi mengabulkan doa.</p>
<p lang="" align="CENTER"><span style="font-family: 'Traditional Arabic';"><span style="font-size: medium;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</span></span></p>
<p align="CENTER">Kota Kendari, 5 Shafar 1434 H</p>
<p align="JUSTIFY">
</p>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote1anc">1</a> Dalam kitab “<em>Taudhiihul ahkaam min buluugil maraam</em>” (2/83).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote2anc">2</a> HSR Muslim (no. 2203).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote3anc">3</a> HR Ahmad (2/67) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh syakh al-Albani dalam “<em>ash-Shahiihah</em>” (no. 1603).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote4anc">4</a> Kitab “<em>al-Khusyu’ fish shalaah</em>” (hal. 28).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote5anc">5</a> Misalnya HSR Muslim (no. 500, 505 dan 506) dan lain-lain.</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote6anc">6</a> Lihat kitab “<em>Taudhiihul ahkaam</em>” (2/58 dan 2/66).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote7anc">7</a> Lihat kitab “<em>Shifatu shalaatin Nabiyyi Shallallahu’alaihi Wasallam</em>” (hal. 89).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote8anc">8</a> HSR al-Bukhari (no. 718 dan 3117).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote9anc">9</a> HR at-Tirmidzi (5/148) dan Ibnu Khuzaimah (3/195), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah dan syaikh al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote10anc">10</a> HSR Muslim (no. 560).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote11anc">11</a> HSR al-Bukhari (no. 366 dan 5479) dan Muslim (no. 556).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote12anc">12</a> Lihat keterangan imam an-Nawawi dalam “<em>Syarhu shahih Muslim</em>” (5/46) dan syaikh ‘Abdullah al-Bassam dalam “<em>Taudhiihul ahkaam</em>” (2/98).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote13anc">13</a> Kitab “Fathul Qadiir” (3/678).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote14anc">14</a> Lihat keterangan syaikh al-‘Utsaimin dalam kitab “<em>Fathu Dzil jalaali wal ikraam bisyarhi buluugil maraam</em>” (1/571).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote15anc">15</a> Lihat keterangan syaikh ‘Abdullah al-Bassam dalam kitab “<em>Taudhiihul ahkaam</em>” (2/83).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote16anc">16</a> Lihat kitab “<em>Fathu Dzil jalaali wal ikraam</em>” (1/571) dan “Taudhiihul ahkaam” (2/93).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote17anc">17</a> Kitab “<em>Fathu Dzil jalaali wal ikraam bisyarhi buluugil maraam</em>” (1/571).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote18anc">18</a> HSR al-Bukhari (no. 583) dan Muslim (no. 389).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote19anc">19</a> Lihat kitab “<em>Mada-rijus saalikiiin</em>” (1/112) dan “<em>Fathu Dzil jalaali wal ikraam</em>” (1/571).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote20anc">20</a> Lihat kitab “<em>Mada-rijus saalikiiin</em>” (1/112-113).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote21anc">21</a> Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “<em>Mada-rijus saalikiin</em>” (1/521) dan imam Ibnu Rajab dalam “<em>al-Khusyu’ fish shalaah</em>” (hal. 14).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote22anc">22</a> Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam “<em>al-Khusyu’ fish shalaah</em>” (hal. 14).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote23anc">23</a> Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “<em>Mada-rijus saalikiin</em>” (1/521).</p>
</div>
<div>
<p><a href="#sdfootnote24anc">24</a> Kitab “<em>al-Khusyu’ fish shalaah</em>” (hal. 14).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote25anc">25</a> HR Ahmad (3/483), an-Nasa-i (6/21) dan Ibnu Hibban (10/453), dinyatakan shahih oleh imam Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote26anc">26</a> Kitab “<em>Ighaatsatul lahfaan</em>” (1/102).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote27anc">27</a> HSR Muslim (no. 2203).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote28anc">28</a> Dalam kitab beliau “<em>al-Waabilush shayyib</em>” (hal. 40-41).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote29anc">29</a> HR Ahmad (1/235) dan Abu Dawud (no. 5112).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote30anc">30</a> HSR Mualim (no. 132).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY"><a href="#sdfootnote31anc">31</a> Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “<em>al-Fawaa-id</em>” (hal. 174).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY">32 Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “<em>al-Waabilush shayyib</em>” (hal. 41).</p>
</div>
<div>
<p align="JUSTIFY">33 Lihat kitab “<em>al-Khusyu’ fish shalaah</em>” (hal. 18) dan “<em>Taisiirul Kariimir Rahmaan</em>” (hal. 840).</p>
<p align="JUSTIFY">—</p>
<p align="JUSTIFY">Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA.<br>
Artikel <a href="https://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></p>
</div>
 