
<p><strong>Bab II</strong><br>
<strong>Sebab-Sebab yang Menjadikan </strong><strong>Penghuni Kubur Diadzab</strong></p>
<p><strong>Sebab-Sebab Adzab Kubur Secara Terperinci</strong><br>
<strong>18. Meratapi Mayit</strong><br>
Ungkapan ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits ‘Umar:</p>
<p><strong>إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ</strong>.</p>
<p>“<em>Sesungguhnya seorang mayit akan disiksa dengan tangisan keluarganya kepadanya</em>.”<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Di dalam riwayat yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>اَلْمَيِّتُ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ</strong>.</p>
<p>“<em>Seorang mayit disiksa di dalam kuburnya dengan ratapan yang ditujukan kepadanya</em>.”<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Dan di dalam riwayat yang lainnya:</p>
<p><strong>مَنْ نِيحَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ يُعَذَّبُ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ</strong>.</p>
<p>“<em>Mayit siapa saja yang diratapi, maka dia akan disiksa dengan ratapan tersebut</em>.”<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Tangisan yang diungkapkan di dalam hadits pertama bukanlah tangisan secara umum, akan tetapi sebuah tangisan khusus yang merupakan ratapan sebagaimana dijelaskan di dalam riwayat yang lainnya.</p>
<p>Kemudian hadits yang pertama diterapkan hukumnya bagi seorang mayit yang berwasiat untuk diratapi atau kepada orang yang tidak berwasiat untuk tidak diratapi, padahal dia tahu bahwa masyarakat biasa melakukannya.</p>
<p>Sehubungan dengan hadits ini, ‘Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Jika si mayit melarang orang lain melakukannya semasa hidupnya, tetapi orang lain tetap saja melakukan hal itu kepadanya ketika meninggal, maka dia tidak akan menanggung dosanya sedikit pun. Sedangkan siksa dari perbuatan tersebut akan menimpa mereka.”<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>[Disalin dari <em>Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis</em> Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  <em>Judul dalam Bahasa Indonesia </em><strong>KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur </strong><em>Penerjemah </em>Beni Sarbeni <em>Penerbit  </em><strong>PUSTAKA IBNU KATSIR]</strong><br>
______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Al-Bukhari, kitab <em>al-Janaa-iz</em>, bab <em>Maa Yukrahu minan Niyaahah ‘alal Mayyit</em> (no. 1292) dan Muslim, kitab <em>al-Janaa-iz</em>, bab <em>al-Mayyit Yu’adzdzab bi Bukaa-i Ahlihi ‘alaihi</em> (no. 927 (16)).<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Muslim, bab <em>al-Mayyit Yu’adzdzab bi Bukaa-i</em><em> Ahlihi ‘alaihi</em> (no. 927 (17)).<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Al-Bukhari, kitab <em>al-Janaa-iz, </em>bab <em>Maa Yukrahu minan Niyaahah ‘alal Mayyit</em> (no. 1291) dari hadits al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu anhu.<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Lihat kitab <em>Ahkaamul Janaa-iz</em>, hal. 28, 29.<strong><br>
</strong></p>
 