
<p>Oleh: <em>Sri Khurniatun, MM,RFA*)</em></p>
<p>Sebut  saja namanya Rahmat, beberapa waktu lalu menghubungi saya via email.  Dia merencanakan berbisnis garmen atau busana muslim. Dia begitu yakin  dengan usahanya tersebut, karena istrinya memiliki talenta mendesain dan  menjahit baju. Untuk fokus di bisnis tersebut, dia ingin  berhenti  bekerja. Dia menanyakan dari segi keuangan modal apa saja yang harus  disiapkan dan realistiskah bila merencanakan keluar dari tempat  bekerjanya sesegera mungkin?.</p>
<p>Banyak orang saat ini merencanakan  memiliki usaha sebagai salah satu kendaraan untuk menuju kebebasan  finansial. Sah-sah saja, tetapi kadang sebagian orang hanya berpikir <em>action</em> saja tanpa ada perencanaan yang matang, sehingga banyak usahanya yang  bertumbangan di jalan. Parahnya lagi, banyak di antara mereka yang sudah  terlanjur keluar dari tempat kerjanya tanpa persiapan yang cukup.  Lantaran berniat fokus dan “membakar kapal”. Akhirnya, tidak sedikit  yang memutuskan untuk bekerja lagi, karena usahanya gagal di tengah  jalan.</p>
<p>Bagi saya selaku konsultan perencana keuangan,   merencanakan keuangan dalam memulai usaha sangat perlu, baik dari segi  keuangan bisnis maupun keuangan pribadi tetap direncanakan dengan  matang. Hal ini agar segala sesuatu bisa diantisipasi dengan baik. <em>Nah</em>, apa saja yang harus disiapkan bila kita ingin merencanakan usaha seperti Rahmat?</p>
<p><strong>1. Persiapan Dana Darurat atau Cadangan</strong></p>
<p>Dana  darurat atau cadangan ini penting bagi seseorang yang akan memasuki  dunia usaha. Paling tidak ini mengantisipasi bila Anda mengalami  kegagalan. Atau sebagai bemper bila penghasilan usaha Anda belum bisa  diharapkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dana cadangan untuk pengusaha  paling tidak minimal 12 bulan pengeluaran keluarga. Kenapa? Biasanya 12  bulan pertama kegiatan usaha masih mengejar target balik modal dan uang  usaha masih berputar untuk pengembangan omset. Jadi, keuntungan belum  bisa digunakan untuk keperluan pribadi.  Kalau Anda cukup optimis dengan  target bisnis Anda, maka bisa saja dana cadangan lebih kecil sebesar 6  bulan pengeluaran. Dana cadangan sebaiknya disimpan pada produk yang  mudah dicairkan, seperti tabungan biasa, deposito, atau beli emas  batangan.</p>
<p><strong>2</strong>.<strong> Persiapan Modal</strong></p>
<p>Untuk  membuka bisnis garment seperti Rahmat, harus menentukan beberapa macam  modal, yaitu biaya investasi peralatan, seperti mesin jahit, obras, dll.  Atau bila Anda hanya sebagai distributor yang membuka toko garment Anda  perlu perlengkapan untuk keperluan <em>display</em> produk dan peralatan toko seperti rak-rak, etalase, manequin, <em>cash register</em>, dll.</p>
<p>Anda  juga memerlukan modal kerja untuk pembelian bahan baku, seperti kain,  benang bila Anda memproduksi. Atau biaya pembelian pakaian jadi bila  Anda hanya menjadi <em>reseller</em>. Sebaiknya, modal ini dicadangkan  untuk 3 bulan ke depan yang bisa dikeluarkan tiap bulan atau ketika ada  order. Modal ini juga bisa ditekan bila Anda menerapkan sistem  konsinyasi atau titip jual dari <em>supplier</em> bila Anda sebagai <em>reseller</em>. Untuk menjadi <em>reseller</em> sebenarnya Anda bisa juga menjual secara online di webstore atau blog.  Di mana Anda hanya menampilkan gambar sampel produk pakaian jadi  tersebut. Bila ada pembeli yang memesan, baru Anda mengirim produknya.</p>
<p>Biaya  yang perlu disiapkan lagi adalah biaya operasional untuk menjalankan  usaha, seperti sewa tempat, gaji karyawan, listrik, kas kecil, dll.   Biaya operasional sebaiknya juga dicadangkan 3 bulan untuk berjaga-jaga  selama usaha Anda belum menguntungkan.</p>
<p><strong>3</strong>. <strong>Pengaturan <em>Cashflow</em> Keuangan </strong></p>
<p>Untuk  menjaga agar keuangan usaha atau bisnis terkelola dengan rapi,  tertiblah melakukan pencatatan uang masuk dan keluar. Lakukan pembukuan  dengan teratur, dan pisahkan keuangan usaha dengan keuangan pribadi.  Jangan mudah mengambil uang usaha untuk keperluan pribadi, kalaupun  terpaksa lakukan pencatatan dan segera kembalikan ke kas usaha.</p>
<p>Dengan  melakukan pencatatan keuangan akan mudah dilakukan evaluasi terhadap  keuangan usaha Anda dan diketahui seberapa besar profit dan  pertumbuhannya. Kita boleh saja mengambil uang usaha untuk keperluan  pribadi, bila memang setelah dihitung ada keuntungan. Pengusaha bisa  saja mengambil prosentase dari laba bersih usahanya bila usaha masih  mengalami fluktuatif. Atau diperhitungkan sebagai gaji tetap bulanan,  bila pemasukan usaha Anda terlihat stabil. Jangan lupa sisihkan  keuntungan usaha untuk membayar zakat, membayar hutang (jika ada), dan  untuk ekspansi usaha atau pengembangan. Dibuku saya yang berjudul  “Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang” ada formula alokasi pembagian  keuntungan yang bisa diterapkan dalam usaha Anda.</p>
<p>Bila Anda masih  bekerja dan sambil berbisnis pada saat awal membuka usaha mungkin  keuntungan  usaha Anda masih jauh lebih kecil dibanding gaji dari  pekerjaan. Tetapi, makin tumbuhnya usaha dan bila didukung promosi yang  kuat, maka usaha Anda makin maju dan bukan tidak mungkin keuntungan  usaha sudah jauh melebihi gaji Anda. Tinggal Anda memutuskan, apakah  tetap akan berbisnis sambil bekerja ataukah  meninggalkan pekerjaan dan  terjun total dalam usahanya.</p>
<p>Menjadi pengusaha adalah menggaji  dirinya sendiri. Oleh karena itu, Anda sendirilah yang menentukan target  penghasilan Anda. Bila merasa tidak cukup dengan keuntungan usaha yang  kecil, maka kejar terus target omset bisnis Anda, sehingga keuntungan  juga meningkat dan penghasilan juga akan naik.</p>
<p>Selamat merencanakan usaha Anda dan semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita sekalian. Amin.</p>
<p>*)   Penulis adalah Managing Director Kurnia Consulting, Biro Perencanaan  Keuangan Keluarga dan UKM, penulis buku Cerdas dan Cerdik Mengelola  Uang. Bisa dihubungi di No. HP (021) 92519848, atau email: <em><a href="mailto:kurnia_09@yahoo.com">kurnia_09@yahoo.com</a></em><em>.</em> Web: <em><a href="http://www.perencanaankeuangansyariah.com/">www.perencanaankeuangansyariah.com</a></em></p>
<p><strong>Sumber:</strong> <em>Majalah Pengusaha Muslim</em>, Edisi Mei 2010</p>
<p> <strong>Artikel <a href="">wwww.PengusahaMuslim.com</a></strong><em></em></p>
 