
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/69546-metode-beriman-kepada-malaikat-bag-3.html" data-darkreader-inline-color=""> Metode Beriman kepada Malaikat (Bag. 3)</a></span></strong></p>
<h3><strong>Beriman kepada Malaikat Secara Rinci <em>(Tafshil)</em></strong></h3>
<p>Iman kepada malaikat secara rinci <em>(tafshil) </em>adalah dengan mengikuti dan meyakini dalil-dalil secara terperinci berkaitan dengan malaikat, baik yang berasal dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Misalnya dengan:</p>
<p><strong>Pertama, </strong>beriman dengan nama-nama malaikat yang Allah <em>Ta’ala</em> atau Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>sebutkan.</p>
<p><strong>Kedua, </strong>beriman dengan sifat-sifat malaikat.</p>
<p><strong>Ketiga, </strong>beriman dengan tugas yang diberikan kepada malaikat.</p>
<p>Muhammad bin Nashr Al-Maruzi <em>rahimahullah </em>berkata,</p>
<p>“Engkau beriman dengan malaikat yang Allah sebutkan namanya di dalam kitab-Nya. Dan Engkau beriman bahwa Allah menciptakan malaikat selain mereka, tidak ada yang mengetahui nama-nama dan bilangan mereka, kecuali Zat yang menciptakan mereka.” (<em>Ta’zhim Qadr Ash-Shalat, </em>hal. 393)</p>
<p>Sehingga perkara apa saja yang dalilnya telah sampai kepada kita yang berkaitan dengan malaikat, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah, maka wajib diimani. Oleh karena itu, keimanan yang bersifat rinci <em>(tafshil) </em>ini dibangun di atas pengetahuan seseorang terhadap dalil Al-Qur’an maupun As-Sunnah.</p>
<p>Hal ini karena kewajiban yang melekat kepada seorang <em>mukallaf</em> itu hanyalah setelah datangnya dalil (<em>hujjah</em>) <em>syar’iyyah</em>. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَ</span></p>
<p>“<em>Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya).</em>” (QS. Al-An’am: 19)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزاً حَكِيماً</span></p>
<p>“<em>(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana</em>.” (QS. An-Nisa’ [4]: 165)</p>
<p>Sehingga, manusia bertingkat-tingkat dalam keimanan mereka terhadap malaikat. Hal ini disebabkan oleh perbedaan ilmu yang sampai kepada mereka. Siapa saja yang memiliki ilmu lebih rinci, maka keimanan dia lebih tinggi, keimanannya menjadi lebih dari yang lainnya.</p>
<h3><strong>Pengaruh (Dampak) dari Keimanan terhadap Malaikat</strong></h3>
<p>Iman terhadap malaikat itu memiliki dampak (pengaruh) pada keyakinan seorang hamba dan juga pada amal perbuatannya. Hal ini karena iman menurut <em>aqidah ahlus sunnah</em> itu meliputi <em>i’tiqad</em> (keyakinan), <em>qaul</em> (ucapan), dan amal perbuatan.</p>
<h4><strong>Pertama, dampak iman terhadap malaikat dari sisi <em>i’tiqad</em></strong></h4>
<p>Dari sisi <em>i’tiqad</em>, jika seorang hamba meyakini keberadaan malaikat, bahwa mereka adalah hamba Allah yang dimuliakan, tidak bermaksiat atau mendurhakai Allah dalam perkara yang Allah perintahkan, melaksanakan perkara yang Allah perintahkan, takut kepada Allah, dan beribadah kepada-Nya. Keyakinan semacam ini akan menumbuhkan keyakinan batilnya segala bentuk peribadatan kepada selain Allah <em>Ta’ala</em>. Karena jika peribadatan kepada malaikat adalah batil, padahal mereka adalah makhluk yang dekat kepada Allah, maka bagaimana lagi dengan peribadatan kepada selain malaikat?</p>
<p>Begitu pula akan menumbuhkan rasa cinta dan loyalitas kepada mereka, serta memusuhi siapa saja yang memusuhi malaikat. Karena jika kita meyakini bahwa malaikat Jibril <em>‘alaihis salaam </em>adalah malaikat yang membawa wahyu kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>maka kita pun mencintainya dan membenci siapa saja yang membencinya.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/69508-berapakah-jumlah-malaikat.html" data-darkreader-inline-color="">Berapakah Jumlah Malaikat?</a></strong></p>
<h4><strong>Kedua, dampak iman terhadap malaikat dari sisi amal perbuatan</strong></h4>
<p>Jika seorang hamba beriman kepada malaikat, maka dia akan menjadikan malaikat sebagai teladan dalam amal dan ibadah mereka. Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.</em>” (QS. Al-Ahzab: 56)</p>
<p>Demikian pula, jika seseorang beriman dengan buku catatan amal perbuatan manusia, maka dia akan lebih mendekatkan diri kepada Allah, baik dengan ucapan maupun perbuatan (amal) anggota badan. Karena dia meyakini bahwa ada buku catatan amal yang akan mencatat semua ucapan dan perbuatannya.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/69501-kedudukan-iman-terhadap-malaikat.html" data-darkreader-inline-color="">Kedudukan Iman terhadap Malaikat</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/36243-benarkah-raqib-dan-atid-nama-malaikat.html" data-darkreader-inline-color="">Benarkah Raqib dan ‘Atid Nama Malaikat?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>@Rumah Kasongan, 4 Rabi’ul awwal 1442/ 11 Oktober 2021</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</span></a></strong></p>
<p><strong>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></a></strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>Disarikan dari kitab <em>Haqiqatul Malaikat</em> karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar<em>, </em>hal. 42-44. Kutipan-kutipan dalam artikel di atas adalah melalui parantaraan kitab tersebut.</p>
 